Breaking News
Memuat breaking news...

Prof. Dr. Safwan Idris, MA: Ketika Ulama Menjembatani Kitab, Kampus, dan Perdamaian Aceh

Redaksi
Redaksi
Kamis, 29 Oktober 2026 - 1.26 PM WIB
Prof. Dr. Safwan Idris, MA: Ketika Ulama Menjembatani Kitab, Kampus, dan Perdamaian Aceh
Prof. Dr. Safwan Idris, MA. (Waspada.id/Ist)
Eksklusif di WhatsApp
Dapatkan berita terkini langsung di layar HP Anda
Waspada+ Gabung
Reading Comfort
adjust the font size
Advertisement

Mutiara Darussalam yang Tak Pernah Padam

"Di zaman ketika banyak orang berlomba menjadi terkenal, sejarah selalu mencatat mereka yang memilih menjadi bermanfaat. Prof. Dr. Safwan Idris bukan sekadar menulis ilmu di atas kertas, tetapi menanamkannya di dalam jiwa masyarakat." – Ketua Umum DPP-PWA, Maimun Asnawi, SH.I.,M.Kom.I.

Prof. Dr. Safwan Idris, MA: Ketika Ulama Menjembatani Kitab, Kampus, dan Perdamaian Aceh

Ketua Dewan Pengurus Pusat – Persatuan Wartawan Aceh (DPP-PWA), Maimun Asnawi, S.HI.,M.Kom.I. (Waspada.id/Ist)

Di kawasan Darussalam yang sejak lama dikenal sebagai episentrum peradaban pendidikan Aceh, angin pagi seolah selalu membawa aroma kitab-kitab tua dari surau dan dayah. Dari tanah yang telah melahirkan banyak ulama, cendekiawan, dan pemikir itu, lahirlah seorang putra yang kelak menjelma menjadi salah satu figur penting Aceh pada penghujung abad ke-20.

Namanya Prof. Dr. Safwan Idris, MA.

Data yang berhasil diperoleh dari berbagai referensi, sebut Maimun Asnawi, Safwan Idris lahir pada 5 September 1949 di Gampong Siem, Kecamatan Darussalam, Aceh Besar. Sebuah gampong sederhana yang mungkin tampak biasa di mata banyak orang, namun sesungguhnya menyimpan mata air keilmuan yang mengalir dari generasi ke generasi. Dalam diri Safwan muda, bertaut dua mata rantai besar tradisi keulamaan Aceh.

Dari jalur ibundanya, Siti Hafsah Ali, mengalir darah keilmuan Teungku Ali Lampisang, ulama terpandang yang dikenal sebagai guru pertama salah seorang ulama besar Nusantara, Tgk. H. Muhammad Muda Waly Al-Khalidi.

Dari jalur ayahnya, Teungku Idris Muhammad, mengalir pula semangat pendidikan Islam dan keteguhan dakwah yang diwariskan keluarga ulama besar Aceh, termasuk jejak intelektual Teungku H. Hasan Krueng Kalee. Seolah sejak lahir, kehidupannya telah dipertemukan dengan takdir ilmu.

Tumbuh di Antara Dayah dan Sekolah

Kata Ketua Umum DPP- PWA ini, tidak semua orang beruntung tumbuh di tengah cahaya ilmu. Namun Safwan Idris dibesarkan dalam lingkungan yang menjadikan ilmu sebagai kehormatan dan ibadah.

Di masa kanak-kanak hingga remajanya, ia tidak hanya belajar mengenal huruf dan angka di bangku sekolah. Ia juga duduk bersimpuh di majelis-majelis pengajian, mendengar tafsir para ulama, mempelajari Al-Qur'an, hadis, fiqih, dan warisan intelektual Islam yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Di sinilah terbentuk karakter intelektualnya. Ia tidak tumbuh menjadi manusia yang memandang agama dan ilmu pengetahuan sebagai dua dunia yang terpisah. Sebaliknya, ia melihat keduanya sebagai dua cahaya yang saling menguatkan.

Semangat itu kemudian membawanya menapaki jenjang pendidikan formal dengan penuh kesungguhan. Dari beberapa referensi yang berhassil ditemukan, sebut Maimun, pada tahun 1967 Safwan Idris menyelesaikan Pendidikan Guru Agama (PGA) enam tahun. Setahun kemudian dipercaya menjadi guru di Madrasah Ibtidaiyah Negeri Sukadamai, Banda Aceh. Ketika banyak orang seusianya masih mencari arah hidup, Safwan muda telah berada di ruang kelas, mendidik generasi berikutnya.

Namun mengajar tidak membuatnya berhenti belajar. Pada 1971 ia meraih gelar Sarjana Muda dari IAIN Ar-Raniry. Tiga tahun kemudian ia menyelesaikan pendidikan sarjana penuh pada Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Syiah Kuala.

Yang menarik, sebut Maimun Asnawi, di tengah kesibukannya sebagai mahasiswa dan pendidik, ia tetap memperdalam ilmu agama di Dayah Darul Ulum Lueng Ie, Aceh Besar.

“Inilah yang menjadikan sosok Safwan Idris begitu istimewa. Ia memahami bahasa akademik modern, tetapi tetap fasih membaca kitab kuning. Ia mengenal teori pendidikan kontemporer, namun tidak tercerabut dari akar tradisi Islam. Ia adalah potret langka seorang intelektual pesantren yang mampu berdialog dengan dunia,” sebut Ketua Umum DPP-PWA ini.

Membawa Nama Aceh ke Panggung Akademik Dunia

Ilmu yang dikejar dengan kesungguhan selalu menemukan jalannya, kata Maimun, pada 1977, kesempatan besar datang menghampirinya. Safwan Idris memperoleh beasiswa untuk melanjutkan studi ke University of Wisconsin-Madison, Amerika Serikat. Pada masa itu, kesempatan belajar ke luar negeri merupakan sesuatu yang sangat istimewa, terlebih bagi seorang putra kampung dari Aceh.

Di negeri yang jauh dari tanah kelahirannya itu, ia tidak datang sekadar mencari gelar. Ia datang membawa misi ilmu.

Tahun 1978 ia berhasil meraih gelar Master of Arts (MA) dalam bidang Library Science. Empat tahun kemudian, tepatnya pada 1982, ia menyelesaikan pendidikan doktor dalam bidang Educational Policy di universitas yang sama.

Catatan sejarah pendidikan Aceh menyebutkan bahwa beliau merupakan alumni pertama IAIN Ar-Raniry yang memperoleh kesempatan melanjutkan studi ke Amerika Serikat. Tetapi kebesaran Safwan Idris tidak terletak pada gelarnya. “Banyak orang memiliki ijazah tinggi. Tidak semua memiliki visi peradaban.”

Setelah menyelesaikan pendidikan doktoralnya, ia kembali ke Aceh dengan semangat membangun sumber daya manusia melalui pendidikan. Baginya, ilmu yang tidak kembali kepada umat hanyalah kebanggaan pribadi yang miskin makna.

Ulama yang Mengajarkan Perdamaian

Dalam berbagai referensi sejarah, kata Maimun, pada masa itu, Aceh memasuki fase sulit ketika konflik berkepanjangan melanda Tanah Rencong. Di berbagai sudut daerah, rasa takut, kehilangan, dan ketidakpastian menjadi bagian dari kehidupan masyarakat.

Dalam situasi seperti itu, sebagian orang memilih diam. Sebagian memilih memihak. Namun Prof. Safwan Idris memilih jalan yang lebih berat. Ia berdiri di tengah. Sebagai ulama, akademisi, dan pemimpin perguruan tinggi, ia mengajak semua pihak untuk memuliakan dialog. Ia percaya bahwa kekerasan tidak akan melahirkan keadilan yang hakiki.

Menurut pandangan Safwan Idris, sebut Maimun, pendidikan merupakan benteng peradaban yang paling kuat, sedangkan keadilan adalah jembatan menuju perdamaian. Gagasan-gagasannya kerap disampaikan dalam forum akademik, dakwah, diskusi publik, dan berbagai tulisan.

Di tengah dentuman konflik, ia mengingatkan bahwa Aceh memiliki sejarah yang sama, tanah yang sama, dan masa depan yang sama. Ia mengajarkan bahwa perbedaan pandangan tidak harus berakhir menjadi permusuhan.

Bahwa kemarahan tidak boleh mengalahkan hikmah. Bahwa ilmu harus hadir untuk menyembuhkan luka, bukan memperdalamnya. Di sinilah posisi beliau sebagai ulama menjadi sangat penting. Ia bukan hanya mengajarkan hukum-hukum agama. Ia menghadirkan nilai-nilai Islam sebagai solusi bagi persoalan sosial dan kemanusiaan. Inilah hakikat ulama pewaris para nabi: menghadirkan rahmat di tengah kegelisahan umat.

Rektor yang Tetap Menjadi Guru

Meski menduduki posisi tinggi dalam dunia akademik, Prof. Safwan Idris tetap dikenal sebagai pribadi yang sederhana. Mahasiswa mengenalnya sebagai sosok yang mudah ditemui. Kolega mengenalnya sebagai pemimpin yang santun. Masyarakat mengenalnya sebagai ulama yang dekat dengan rakyat.

Banyak mahasiswa kurang mampu memperoleh bantuan dan perhatian darinya. Banyak anak muda mendapat motivasi untuk melanjutkan pendidikan. Banyak dosen memperoleh kesempatan mengembangkan kapasitas akademiknya.

Beliau memahami bahwa membangun kampus bukan semata mendirikan gedung. Yang lebih penting adalah membangun manusia. Bagi beliau, pendidikan bukan sekadar proses transfer pengetahuan, melainkan proses pembentukan adab, akhlak, dan tanggung jawab sosial.

“Karena itu, di mata banyak orang, ia bukan hanya seorang rektor. Ia tetap seorang guru. Dan guru sejati adalah mereka yang jejak pengaruhnya jauh lebih panjang daripada usia hidupnya,” tutur orang nomor satu di DPP-PWA ini.

Pagi yang Mengubah Sejarah Aceh

Pagi 16 September 2000. Matahari baru saja menyingsing di langit Banda Aceh. Tidak ada yang menyangka pagi itu akan menjadi salah satu hari paling kelam dalam sejarah pendidikan Aceh. Sekitar pukul 06.40 WIB, dua orang yang mengaku sebagai mahasiswa datang ke kediaman Prof. Safwan Idris.

Di ruang tamu rumahnya, tembakan dilepaskan. Ia sempat dilarikan ke Rumah Sakit Umum Daerah Zainoel Abidin. Namun takdir Allah telah lebih dahulu menjemputnya.

Saat itu beliau masih menjabat sebagai rektor. Kabar wafatnya menyebar cepat. Aceh berduka. Dunia pendidikan berduka. Keluarga besar umat Islam Aceh berduka. Yang gugur bukan hanya seorang profesor. Yang hilang bukan sekadar seorang rektor. Aceh kehilangan seorang penyeru damai.

Seorang guru kitab kuning.Seorang intelektual muslim. Seorang ulama yang memilih pena ketika banyak orang mengangkat senjata.

Warisan yang Tidak Dapat Dibunuh Peluru

Peluru dapat menghentikan denyut jantung seseorang. Namun peluru tidak pernah mampu membunuh gagasan. Lebih dari dua dekade setelah kepergiannya, nama Prof. Safwan Idris tetap hidup dalam ingatan masyarakat Aceh.

Ia hidup dalam ribuan mahasiswa yang pernah menikmati hasil perjuangannya. Ia hidup dalam tradisi akademik yang terus berkembang. Ia hidup dalam cita-cita perdamaian yang akhirnya menjadi kenyataan bagi Aceh. Dan ia hidup dalam pesan sederhana yang terus relevan hingga hari ini:

“Bahwa ilmu adalah jalan kemuliaan. Bahwa akhlak lebih tinggi daripada popularitas. Bahwa dialog lebih bernilai daripada pertikaian.”

Pesan untuk Generasi Z dan Alfa

Pada kesempatan itu, Maimun Asnawi menyampaikan pesan untuk para generasi Z dan Generasi Alfa hidup dalam era yang sangat berbeda dengan zaman Prof. Safwan Idris. Mereka tumbuh bersama internet, media sosial, kecerdasan buatan, dan arus informasi tanpa batas.

“Namun satu hal tidak pernah berubah. Manusia tetap membutuhkan teladan. Kisah Prof. Safwan Idris mengajarkan bahwa menjadi modern tidak berarti meninggalkan nilai-nilai Islam. Menjadi ilmuwan tidak harus menjauh dari ulama. Menjadi pemimpin tidak harus kehilangan kerendahan hati,” sebut Maimun Asnawi.

Di tengah dunia yang sering mengukur seseorang dari jumlah pengikut, like, dan popularitas, Safwan Idris lewat sejarah hidupnya ingin menunjukkan kepada seluruh generasi Aceh bahwa kemuliaan sejati lahir dari ilmu yang diamalkan dan manfaat yang dirasakan orang lain.

“Karena itu, generasi muda hari ini perlu belajar dari jejak hidupnya. Belajar bahwa membaca kitab sama pentingnya dengan membaca perkembangan dunia. Belajar bahwa kecerdasan harus berjalan bersama akhlak. Dan belajar bahwa peradaban besar tidak dibangun oleh amarah, melainkan oleh ilmu, adab, dan kebijaksanaan,” kata putra Seunuddon ini.

Prof. Dr. Safwan Idris, MA telah pergi, tetapi pesan hidupnya tetap bergema: "Jika ingin mengubah dunia, mulailah dengan menyalakan cahaya ilmu. Sebab bangsa yang kehilangan ulama dan cendekiawan akan kehilangan kompas perjalanannya."

Al-Fatihah untuk sang Mutiara Darussalam. Cahaya yang lahir dari Gampong Siem itu telah lama beristirahat, namun sinarnya masih menerangi jalan generasi Aceh hingga hari ini. (Maimun Asnawi, SH.I.,M.Kom.I/Waspada.id)

Ikuti WASPADA di Google Berita
Dapatkan berita terbaru langsung dari Google News.
Ikuti
Topik

Discussion

Bagikan pemikiran dan pendapat Anda

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.

Berita Terkait

Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement