Breaking News
Memuat breaking news...

Program KPR Masih Jadi Cara Utama Masyarakat Miliki Rumah

Redaksi
Redaksi
Jumat, 7 Agustus 2026 - 4.34 PM WIB
Program KPR Masih Jadi Cara Utama Masyarakat Miliki Rumah
Eksklusif di WhatsApp
Dapatkan berita terkini langsung di layar HP Anda
Waspada+ Gabung
Reading Comfort
adjust the font size

JAKARTA (Waspada.id): Data Bank Indonesia (BI) menunjukkan bahwa program Kredit Pemilikan Rumah (KPR) masih menjadi cara utama masyarakat Indonesia untuk memiliki rumah.

Survei Harga Properti Residensial (SHPR) yang dilakukan BI pada kuartal II-2026 menunjukkan, tujuh dari sepuluh transaksi rumah di pasar primer masih mengandalkan fasilitas KPR.

Pangsa pembelian rumah melalui KPR mencapai 70,05 persen dari seluruh skema pembelian rumah, jauh melampaui pembelian secara tunai bertahap maupun tunai penuh.

Di tengah harga rumah yang terus meningkat, meski dalam laju yang terbatas, sebagian besar masyarakat masih belum mampu membeli rumah tanpa dukungan pembiayaan dari perbankan.

Data SHPR sekaligus menunjukkan pasar properti Indonesia hingga kini masih sangat bergantung pada keberlanjutan kredit perumahan.

Terlihat dari catatan bank sentral, bahwa pembelian rumah melalui KPR memiliki pangsa sebesar 70,05 persen pada kuartal II-2026.

Sebagai perbandingan, pembelian melalui skema tunai bertahap hanya mencapai 20,60 persen, sedangkan pembelian tunai penuh sebesar 9,35 persen.

Komposisi tersebut menunjukkan kesenjangan yang cukup lebar antara masyarakat yang mengandalkan pembiayaan bank dengan mereka yang memiliki kemampuan membeli rumah secara tunai.

Artinya, mayoritas konsumen masih membutuhkan cicilan jangka panjang agar mampu menjangkau harga rumah yang terus meningkat dari waktu ke waktu.

Temuan ini juga memperlihatkan perkembangan sektor properti tidak hanya dipengaruhi oleh harga rumah, tetapi juga sangat bergantung pada kemudahan memperoleh pembiayaan.

Ketika akses kredit berjalan baik, permintaan rumah cenderung terjaga. Sebaliknya, jika pembiayaan menjadi lebih ketat atau biaya pinjaman meningkat, dampaknya akan langsung terasa terhadap penjualan rumah.

Ketergantungan terhadap KPR terjadi ketika harga rumah masih mengalami kenaikan. Survei BI menunjukkan Indeks Harga Properti Residensial (IHPR) pada kuartal II-2026 mencapai 110,89 atau tumbuh 0,69 persen secara tahunan.

Angka tersebut memang sedikit lebih tinggi dibandingkan kuartal I 2026 yang sebesar 0,62 persen, tetapi masih mencerminkan kenaikan harga yang relatif terbatas.

"Kenaikan tersebut terutama berasal dari rumah tipe besar yang tumbuh 0,68 persen secara tahunan." demikian laporan BI yang di kutip Jumat (7/8/2026).

Di sisi lain, pertumbuhan harga rumah tipe kecil justru melambat menjadi 0,49 persen, sedangkan rumah tipe menengah relatif stabil dibandingkan kuartal sebelumnya.

Data BI menyebut, secara kuartalan IHPR juga meningkat sebesar 0,26 persen, setelah hanya tumbuh 0,04 persen pada kuartal sebelumnya.

Kenaikan tersebut terutama didorong rumah tipe menengah dan besar, sementara rumah kecil mengalami kontraksi tipis.

Meski kenaikan harga berlangsung relatif moderat, kebutuhan pembiayaan masyarakat tetap tinggi. Hal ini terlihat dari dominasi KPR dalam hampir seluruh transaksi rumah primer.

Menariknya, dominasi KPR terjadi bersamaan dengan mulai membaiknya aktivitas penjualan rumah.

Bank sentral mencatat penjualan properti residensial di pasar primer masih terkontraksi 2,36 persen secara tahunan pada kuartal II 2026.

Namun, kontraksi tersebut jauh lebih ringan dibandingkan kuartal sebelumnya yang mencapai 25,67 persen. Perbaikan tersebut terutama ditopang oleh rumah tipe kecil dan rumah tipe besar.

Penjualan rumah tipe kecil masih terkontraksi 2,88 persen, tetapi jauh lebih baik dibandingkan kontraksi 45,59 persen pada kuartal sebelumnya.

Sementara itu, rumah tipe besar justru kembali tumbuh positif sebesar 13,08 persen setelah sebelumnya mengalami kontraksi 8,03 persen.

Sebaliknya, rumah tipe menengah menjadi satu-satunya segmen yang mengalami pelemahan. Penjualannya berubah dari tumbuh 8,28 persen menjadi terkontraksi 10,51 persen.

Secara kuartalan, penjualan bahkan meningkat 9,39 persen dibandingkan kuartal sebelumnya. Perbaikan transaksi tersebut memperlihatkan bahwa minat membeli rumah mulai meningkat kembali.

Peningkatan ini didorong lonjakan penjualan rumah tipe kecil sebesar 30,33 persen dan rumah tipe besar sebesar 24,41 persen.

Namun, fakta bahwa sebagian besar transaksi masih menggunakan KPR menunjukkan pemulihan pasar masih sangat bergantung pada pembiayaan perbankan.

Hasil survei menunjukkan suku bunga KPR masih menjadi salah satu hambatan utama pengembangan dan penjualan properti residensial.

Sebanyak 15,96 persen responden menyebut faktor suku bunga ini sebagai kendala, berada di bawah kenaikan harga bahan bangunan yang menjadi hambatan terbesar dengan porsi 27,10 persen.

Pengembang Hadapi Persoalan

Selain itu, pengembang juga menghadapi persoalan perizinan dan birokrasi (14,87 persen), tingginya proporsi uang muka KPR (11,53 persen), serta perpajakan (9,75 persen).

Meski demikian, BI mencatat suku bunga KPR sendiri relatif stabil pada kuartal II-2026, yakni sekitar 7,44 persen.

Data tersebut memperlihatkan stabilnya bunga kredit belum sepenuhnya menghilangkan berbagai hambatan dalam kepemilikan rumah.

Di sisi lain, pengembang juga masih menghadapi tekanan biaya pembangunan yang cukup besar. Ini membuktikan ketergantungan terhadap pembiayaan ternyata tidak hanya terjadi di sisi konsumen.

SHPR mencatat sumber pembiayaan utama pembangunan properti residensial masih berasal dari dana internal perusahaan. Pangsa pembiayaan internal mencapai 73,28 persen dari total kebutuhan pembiayaan proyek.

Sementara itu, pinjaman perbankan hanya menyumbang 17,89 persen, sedangkan pembayaran konsumen sebesar 8,83 persen.

Kondisi tersebut menunjukkan pengembang masih memilih menggunakan modal sendiri sebagai sumber utama pembangunan proyek perumahan.

Di sisi konsumen, situasinya justru berbanding terbalik. Sebagian besar pembeli masih bergantung pada pembiayaan bank melalui KPR untuk memperoleh rumah.

Dengan demikian, pembiayaan menjadi faktor penting di kedua sisi pasar. Pengembang mengandalkan modal internal untuk membangun proyek, sedangkan konsumen mengandalkan kredit untuk membeli rumah yang telah tersedia.

Dominasi KPR juga tercermin dari pertumbuhan nilai kredit perumahan. Pada kuartal II 2026, total nilai KPR tumbuh 4,70 persen secara tahunan, sedikit melambat dibandingkan pertumbuhan 4,79 persen pada triwulan sebelumnya.

Akan tetapi, secara kuartalan, pertumbuhan KPR justru meningkat menjadi 1,24 persen dari sebelumnya 0,37 persen.

Pergerakan tersebut memperlihatkan bahwa aktivitas penyaluran kredit perumahan masih terus berlangsung seiring membaiknya transaksi rumah primer.

Di tengah harga rumah yang masih naik, penjualan yang mulai pulih, dan berbagai tantangan biaya pembangunan, KPR tetap menjadi andalan utama untuk masyarakat memiliki rumah.

Data SHPR kuartal II 2026 menunjukkan, pasar perumahan Indonesia belum lepas dari ketergantungan terhadap pembiayaan perbankan.

Selama mayoritas masyarakat masih membutuhkan fasilitas kredit untuk membeli rumah, maka pasar properti tetap dipengaruhi oleh kondisi pembiayaan.

Kebutuhan tersebut mencakup mulai dari bunga kredit, persyaratan uang muka, hingga kemampuan perbankan menyalurkan KPR. (Id88)

Ikuti WASPADA di Google Berita
Dapatkan berita terbaru langsung dari Google News.
Ikuti
Topik
No topics for this article yet.

Discussion

Bagikan pemikiran dan pendapat Anda

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.
Berita Terkait
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement