PUISI AGUSNI AH

KUYUP RINDU
Hari ini aku kembali datang
ke rumah peristirahatanmu yang sunyi,
tanpa hujan, tanpa banjir seperti beberapa bulan lalu yang meluluhlantakkan kampung dan rumah kita,
langit pun terlalu terang untuk bersedih
Langkahku kering,
tak ada genangan yang harus kulewati, tak ada lumpur tebal yang memaksaku berhenti,
tak ada angin yang menggigilkan tubuh ini,
tak ada badai yang menakut-nakuti,
namun entah mengapa
dua bolamata ini tak mampu menyembunyi,
ia pecah diam-diam tanpa gema,
mengalir tanpa suara
Aku tak kuyup oleh dunia,
tapi oleh kenangan yang tak sempat berpamitan,
oleh namamu yang masih terpendam nan tinggal
di sela rongga terdalam berlipat rasa
Di sini, aku duduk lirih seraya
menyebutmu tanpa kata,
sebab tak semua rindu butuh hujan
untuk menjelma luka
Dan hari ini
aku pulang dengan tubuh yang tetap kering,
namun hati yang basah, jiwa yang kuyup sejak raga kita berpisah,
oleh airmata yang tak pernah benar-benar pergi dari perigi gundah...//(a.ah).
GIGIL RINDU
Mak, kusebut namamu sebagai bayang yang tak pernah lekang dalam ingatan,
di tengah gigil rindu yang tak pernah lekang,
ada gundah yang tak jua terpadamkan,
aku menadah langit dengan tangan gemetar,
mengirim namamu lewat doa-doa yang tak berkesudahan
Bibir ini kelu nan lirih dentan lidah terbata-bata yang hampir hilang suara,
hanya desah yang jatuh menjadi bait-bait doa,
sementara airmata menuliskan makna,
yang tak sempat dirangkai oleh kata-kata
Bila rindu adalah luka yang terus bernapas,
biarlah munajat menjadi penawarnya,
meski tak ada jawaban yang segera tiba,
aku percaya bahwa Engkau Yang Kuasa tak pernah abai pada setiap pinta hamba...//(a.ah).
MUNAJAT RINDU
Hatiku selalu menggiring datang tanpa paksa, kendati langkah nyaris patah
seperti bayang yang kehilangan arah
Aku takut pada resah napasku yang mungkin mengganggu tenangmu di tanah merah, aku berusaha pelan dengan segala rasaku yang menyeruak--pecah,
bahkan sedu-sedan pun kutahan agar tak tumpah, agar Mak--Abah tidak lagi harus menanggung gundah di kehidupan barzah
Aku paksakan dengan getar halus di dada,
seperti daun jatuh yang tak sempat bersuara
Aku tak bermaksud meratap, aku hanya tak tahu harus meletakkan rasa yang mengesumat ini di mana, rindu teramat berat yang selalu bersarang di jiwa, aku datang hanya ingin merebah segenap cinta ini di antara tanah yang memeluk seraya menjulurkan
doa yang kupungut satu-satu dengan gemetar
Dalam intonasi pelan sekali, di gundukan pusara ini
kubisikkan yang dulu kalian ajarkan:
Allahummaghfirlidzunubi Waliwalidayya
Warhamhuma Kama Rabbayani Shaghira
Setiap hurufnya seperti air yang jatuh ke luka paling dalam,
mengalir tanpa riuh,
namun tak pernah berhenti, meski terkadang hanya di dalam lubuk hati
Mak--Abah,
aku masih anak kecil itu, yang kini belajar menangis tanpa suara,
belajar ikhlas tanpa benar-benar mampu,
belajar melepaskan tanpa pernah purna
Jika nanti terlalu lama aku termangu,
jangan kira aku telah menjadi anak yang dungu dan bisu, aku hanya sedang menata hati agar tidak runtuh di kehidupan yang kini kian kelabu, walau bukan sebagai anak yang tegar, meski sebagai hamba yang rapuh, yang hanya bisa melangitkan
doa-doa lirih, dengan
airmata yang kusamarkan,
serta cinta yang tak pernah selesai...//(a.ah).



























Discussion
Bagikan pemikiran dan pendapat Anda