Breaking News
Memuat breaking news...

Puisi Agusni AH: Cahaya Patah

Redaksi
Redaksi
Jumat, 24 April 2026 - 11.21 AM WIB
Puisi Agusni AH: Cahaya Patah
Eksklusif di WhatsApp
Dapatkan berita terkini langsung di layar HP Anda
Waspada+ Gabung
Reading Comfort
adjust the font size

PENGANTAR REDAKSI:

Agusni AH, penyair kosmik dari tanah rencong Aceh kembali menurunkan puisi trilogi berlabel “Cahaya Patah", menggambarkan perjalanan batin manusia yang terombang-ambing di antara terang dan gelap, antara harapan yang menyala dan kenyataan yang meredup.

Lebih dalam Sang Penyair mengapungkan cahaya yang tidak lagi utuh sebagai simbol keselamatan, melainkan pecah menjadi serpihan-serpihan makna yang tercerai di ruang waktu. Senja berdarah menandai retaknya awal harapan, malam yang menikam menggambarkan luka eksistensial, sementara fajar yang sunyi menghadirkan paradoks: terang yang tak lagi memberi arah.

Pada fase kulminasi, ketika cahaya berada di puncaknya, justru manusia kehilangan bayang, adalah sebuah metafora tentang hilangnya identitas, arah, dan pijakan batin. Di titik inilah puisi menjadi refleksi paling dalam bahwa tidak semua puncak menghadirkan kemenangan, dan tidak semua terang memberi kejelasan.

Secara keseluruhan, “Cahaya Patah” adalah kontemplasi kosmik tentang kehilangan, pencarian, dan kehampaan yang mengendap dalam diri manusia—sebuah pengembaraan jiwa yang terus bertanya, bahkan ketika jawaban telah larut dalam gelap. Dan, demikianlah penyair Agusni AH dalam setiap puisinya selalu memberi ruang bebas bagi pembacanya untuk lebih liar memaknainya.

CAHAYA PATAH (I)

Aku adalah cahaya yang pecah nan patah di ujung senja berdarah,

ditikam malam tepat di ulu kalbu,

di pucuk waktu asa berlalu,

dalam gelap yang gamang mencari tungku,

tempat bara kenangan pernah bernyala,

meski kini hanya ayal arang yang lirih berpendar,

mengaduh di antara angin teduh tak bernama,

yang mengabarkan dingin yang senyap lebih panjang dari luka

Aku berjalan di lorong malam yang sunyi tak bertepi,

menggenggam sisa cahaya yang retak di jemari,

bertanya pada bayang kenangan yang purba,

apakah fajar masih menyimpan aku dalam rahasianya, tepat di sepertiga malam penuh tanya...//(a.ah).

CAHAYA PATAH (II)

Setelah cahaya senja pecah nan patah di jemari,

kini fajar kembali sunyi,

redup yang perlahan berubah gelap,

hingga jejak hilang di pagi buta

Aku pun tercekat di antara dua waktu,

antara lahirnya terang dan gugurnya cahaya,

seperti doa yang tak sempat sempurna,

terputus nan kelu di bibir yang tak lagi mampu berucap, langit pun enggan menyala di ufuk yang kehilangan arah, dalam daya menabur sisa langkah yang rapuh, mencari arti dari hilang yang berulang, namun hanya gema yang memanggil-manggil pulang, kembali lagi terpasung ilusi...//(a.ah).

CAHAYA PATAH (III)

Kini kepala di bawah titik kulminasi, di bawah

matahari yang menggantung tanpa bayang,

segala arah seakan luruh makna,

dan waktu berdiri tanpa detak, menjadi titik yang nyaris lenyap ditelan masa,

di peta cakrawala yang tak lagi mengenal nama,

panas menelanjangi sisa harap,

hingga dada "runyouh" menyesak pikiran luka, harap pun menguap seperti doa yang tak sempat tiba, dan cahaya tak selalu memberi jalan,

kadang ia hanya menunjukkan

betapa pencarian sia-sia...//(a.ah).

Ikuti WASPADA di Google Berita
Dapatkan berita terbaru langsung dari Google News.
Ikuti
Topik

Discussion

Bagikan pemikiran dan pendapat Anda

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.
Berita Terkait
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement