Breaking News
Memuat breaking news...

PUISI AGUSNI AH, DARI CINTA KE RUANG SPIRITUALITAS

Redaksi
Redaksi
Selasa, 12 Mei 2026 - 3.46 PM WIB
PUISI AGUSNI AH, DARI CINTA KE RUANG SPIRITUALITAS
Eksklusif di WhatsApp
Dapatkan berita terkini langsung di layar HP Anda
Waspada+ Gabung
Reading Comfort
adjust the font size

PENGANTAR REDAKSI:

Agusni AH, sang penyair yang selama ini kerap menyandarkan bait-bait sastranya pada kosmos semesta—pada langit yang muram, hujan yang mengembara, serta sunyi yang berdiam di dada malam—kini perlahan menjejak jalan lain dalam perenungan puisinya. Bila sebelumnya ia banyak menulis tentang luka, cinta, dan lorong-lorong batin manusia, kali ini langkah kepenyairannya bergerak menuju ruang spiritualitas: menafsir pencarian diri di jalan agama.

Melalui syair-syair bertajuk “Menjejaki Langkah”, ia menghadirkan frasa-frasa lirih tentang pergulatan iman, tentang seorang hamba yang mencoba berjalan di jalan salafi dengan segala kegamangan dan kerendahan hati. Puisi-puisinya tidak hadir sebagai pekik penghakiman, melainkan sebagai renungan sunyi tentang tatacara bersujud saat shalat berjamaah mengikuti imam adalah salah satu pemurnian sesuai tuntunan.

Dalam larik-lariknya, Agusni AH seakan sedang berdialog dengan dirinya sendiri: antara menjadi pengembara sastra dan seorang hamba yang ingin pulang kepada Rabb-nya. Ia tetap membawa ciri khas literasi kosmik, namun kini semua itu dipertemukan dengan cahaya tauhid dan jejak para salafus saleh. Sebuah fase baru kepenyairan yang lebih bening, lebih teduh, dan penuh permenungan. Berikut puisi-puisi Agusni AH:

MENJEJAK LANGKAH (I)

Aku menjejak di manhaj salaf,

di jalan sunyi yang berdebu doa-doa panjang,

sementara dunia gaduh oleh pekik kebenaran

yang saling menikam dari mimbar ke mimbar

Langkahku terhuyung--kadang limbung,

bagai musafir tua memikul senja di pundaknya yang renta

Di bawah suara-suara menggema

aku mendengar hatiku merincing--retak

seperti kaca yang terserak

Aku bukan mata air ilmu

yang menyiram sahara manusia,

hanya setitik embun

yang takut menguap sebelum fajar iman sempurna

Pada lorong-lorong zaman yang dipenuhi halimun takwil,

aku menggigil memeluk jejak para salihin, sebab dunia kini terlalu pandai berbicara,

tetapi sering kehilangan cahaya

Ada adab di wajahnya, tapi kepala di telapak kakinya

Maka kubiarkan jiwaku menjadi sunyi,

menjadi daun gugur di halaman tauhid,

yang tak ingin dipuji sebagai paling lurus,

namun berharap tak tersapu dari berjuta--laksa rahmat-Nya

Aku menjejak langkah di manhaj salaf, hanya ingin pulang

sebagai hamba yang tidak kehilangan Rabb-nya...//(a.ah)

MENJEJAK LANGKAH (II)

Aku adalah hamba yang sunyi, umat yang tersesat

di antara tujuh puluh tiga golongan kaumnya,

mencari cahaya di lorong-lorong tafsir

yang dipenuhi gema suara manusia

Kadang aku berjalan dengan keyakinan,

namun langkahku gamang oleh perdebatan,

setiap tangan merasa paling benar nan merasa aman,

sedang hatiku hanya ingin pulang kepada kebenaran sesungguhnya

Aku melihat agama diusung seperti panji,

tetapi kasih sayang sering tercecer di jalan sunyi

Lidah-lidah fasih mengutip dalil,

namun akhlak gugur sebelum sampai ke tujuan hakiki

Aku yakin hanya satu jalan menuju selamat,

maka bimbinglah aku mengenali jejaknya yang beralamat,

bukan dengan kebencian dan celaan,

melainkan dengan ilmu, adab, dan ketundukan keharibaan-Nya...//(a.ah)

MENJEJAK LANGKAH (III)

Aku lebur dalam doa-doa panjang di setiap sujud,

menumpahkan resah seperti hujan yang jatuh

di halaman malam paling sunyi

Keningku menempel pada bumi,

sementara hati mengembara jauh di jalan sunyi,

mencari pintu-pintu ampunan yang nyaris tertutup oleh dosa-dosa sendiri

Aku menyelisihi imam sebaga orang yang tanpa ilmu, lewat sujudku yang terlalu lama bagi barisan yang ingin segera selesai

Lalu sebuah suara menegur pelan:

“Silakan berlama-lama sujud jika sendirian.”

Kalimat itu menancap

bagai paku kecil di dinding batinku yang menyadarkan

Aku pun bangkit perlahan,

membawa pulang doa-doa yang belum selesai,

dan dada yang tiba-tiba dipenuhi cermin berantakan

Aku bersadar diri

ibadah berjamaah bukan tentang memanjangkan kehendak pribadi, bersandar pada imam untuk tidak diselisihi

Aku pun belajar:

ada sujud yang dituntut panjang oleh kerinduan,

dan ada adab yang harus lebih panjang daripada ego keinginan

Kini, aku membiarkan sujud sendiri menjadi lautan

panjang, hening, dan penuh tangis yang tak bersuara

Tatkala di belakang imam,

aku belajar menjadi makmum dengan penuh kerendahan hati...//(a.ah)

Ikuti WASPADA di Google Berita
Dapatkan berita terbaru langsung dari Google News.
Ikuti
Topik

Discussion

Bagikan pemikiran dan pendapat Anda

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.
Berita Terkait
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement