PUISI AGUSNI AH; PURNAMA

PENGANTAR REDAKSI:
Agusni AH, sang penyair kosmik, kembali menuangkan trilogi puisinya yang berlatar kosmos alam dalam satu judul besar: “Purnama.”
Ia mengisahkan tentang cahaya yang tetap bertahan di tengah langit pancaroba; tentang kesetiaan yang tak pernah meninggalkan malam meski gelap berkali-kali mengingkari janji, serta tentang keteguhan yang memilih tinggal hingga ujung waktu.
Dalam trilogi puisi itu, purnama bukan sekadar bulan yang menggantung di langit raya, melainkan perlambang jiwa patah yang tetap bercahaya meski dipeluk sunyi, tetap utuh meski retak oleh rindu, dan tetap mengambang di antara kehilangan serta harapan.
Lewat bahasa yang lirih dan semesta yang melankolis, Agusni AH menghadirkan purnama sebagai saksi bagi manusia-manusia yang diam-diam patah, namun masih memilih menjadi cahaya bagi dunia yang gelap ini:
PURNAMA (I)
Purnama itu masih mengapung di langit raya,
menyulam cahaya di sela awan yang luka
Menerangi bumi yang gelap oleh musim pancaroba,
saat angin kehilangan arah dan hujan jatuh mengaduh tanpa doa
Malam berjalan lirih di atas daun-daun tua,
membawa kabar tentang hati yang lama berduka
Sementara sunyi melumat waktu perlahan-lahan,
hingga bayang-bayang pun lupa jalan pulang
Purnama itu masih setia di bentangan semesta,
meski bumi berkali-kali retak oleh nestapa
Ia menumpahkan terang ke lorong-lorong jiwa,
yang menggigil diterpa badai dan dusta manusia
Musim pancaroba menjadikan langit muram,
burung-burung kehilangan kicauan di petang kelam, di senja yang buram
Namun cahaya bulan tetap jatuh dengan pelan--perlahan,
seolah ingin berkata bahwa harapan belum semua pupus nan sirna
Purnama itu masih mengapung di langit raya,
menjadi saksi bagi hati yang tak pernah lupa
Pada bumi yang gelap oleh musim pancaroba,
ia hadir bagai dzikir panjang di tengah nestapa
Dan ketika malam kian tenggelam dalam sepi,
cahayanya tetap memeluk rerumputan hinga pagi
Seakan semesta berbisik kepada jiwa yang luka: "tak semua kehilangan berakhir dengan musnahnya asa”...//(a.ah).
PURNAMA (II)
Purnama itu setia pada janji,
meski gelap berkali-kali mengingkari
Ia tetap datang di pucuk malam,
membawa cahaya ke hati yang tenggelam
Tatkala langit muram oleh luka musim,
sedianya angin menggugurkan doa-doa yang lirih nan kelam,
namun bulan tak pernah lelah mengapung di balik awan,
menjaga harapan yang hampir runtuh di jawa yang merana
Purnama itu setia pada janji,
meski sepi menjelma lorong tak bertepi
Ia menggantung tenang di langit raya,
menyaksikan dunia yang karam oleh dusta
Gelap mencoba menelan segala cahaya,
membisiki bumi tentang malam yang gulita
Tetapi rembulan tetap memancar cahaya,
seperti hati yang bertahan di tengah kehilangan asa
Purnama itu setia pada janji,
meski malam tak lagi ramah menemani
Ia tetap memeluk bumi nan menyinari,
meski awan menutup wajahnya berulang kali
Dan pada dingin yang menusuk sunyi,
bulan mengajarkan arti menepati hati
Bahwa kesetiaan bukan tentang dipahami,
melainkan tetap tinggal meski dikhianati...//(a.ah).
PURNAMA (III)
Purnama bertahan hingga di pucuk malam,
menggigil sendiri di langit yang mulai kelam
Ia tak beranjak meski sunyi mulai karam,
meski embun jatuh lirih di pucuk rerumputan yang pucat tanpa kalam
Bulan itu tetap menggantung dengan cahaya yang letih,
seakan enggan meninggalkan bumi yang masih bersedih
Di bawahnya, dunia terdiam tanpa suara,
hanya desir angin yang mengusap luka-luka
Purnama menjaga gelap sampai batas terakhirnya,
hingga waktu mengganti teja dengan mentari di ufuk sana
Dan ketika fajar perlahan membuka mata langit,
bulan pun pamit dengan cahaya yang maha sakit tanpa luka
Barangkali begitulah makna bertahan,
tetap menemani meski tahu akan ditinggalkan
Purnama tidak melawan datangnya pagi,
ia hanya menyempurnakan tugasnya sebelum pergi
Karena ada cinta yang memang dicipta demikian untuk setia sampai akhir masa, lalu hilang perlahan dalam ruang-ruang nan hampa...//(a.ah).



























Discussion
Bagikan pemikiran dan pendapat Anda