Breaking News
Memuat breaking news...

PUISI AGUSNI AH; PURNAMA

Redaksi
Redaksi
Minggu, 17 Mei 2026 - 12.01 PM WIB
PUISI AGUSNI AH; PURNAMA
Eksklusif di WhatsApp
Dapatkan berita terkini langsung di layar HP Anda
Waspada+ Gabung
Reading Comfort
adjust the font size

PENGANTAR REDAKSI:

Agusni AH, sang penyair kosmik, kembali menuangkan trilogi puisinya yang berlatar kosmos alam dalam satu judul besar: “Purnama.”

Ia mengisahkan tentang cahaya yang tetap bertahan di tengah langit pancaroba; tentang kesetiaan yang tak pernah meninggalkan malam meski gelap berkali-kali mengingkari janji, serta tentang keteguhan yang memilih tinggal hingga ujung waktu.

Dalam trilogi puisi itu, purnama bukan sekadar bulan yang menggantung di langit raya, melainkan perlambang jiwa patah yang tetap bercahaya meski dipeluk sunyi, tetap utuh meski retak oleh rindu, dan tetap mengambang di antara kehilangan serta harapan.

Lewat bahasa yang lirih dan semesta yang melankolis, Agusni AH menghadirkan purnama sebagai saksi bagi manusia-manusia yang diam-diam patah, namun masih memilih menjadi cahaya bagi dunia yang gelap ini:

PURNAMA (I)

Purnama itu masih mengapung di langit raya,

menyulam cahaya di sela awan yang luka

Menerangi bumi yang gelap oleh musim pancaroba,

saat angin kehilangan arah dan hujan jatuh mengaduh tanpa doa

Malam berjalan lirih di atas daun-daun tua,

membawa kabar tentang hati yang lama berduka

Sementara sunyi melumat waktu perlahan-lahan,

hingga bayang-bayang pun lupa jalan pulang

Purnama itu masih setia di bentangan semesta,

meski bumi berkali-kali retak oleh nestapa

Ia menumpahkan terang ke lorong-lorong jiwa,

yang menggigil diterpa badai dan dusta manusia

Musim pancaroba menjadikan langit muram,

burung-burung kehilangan kicauan di petang kelam, di senja yang buram

Namun cahaya bulan tetap jatuh dengan pelan--perlahan,

seolah ingin berkata bahwa harapan belum semua pupus nan sirna

Purnama itu masih mengapung di langit raya,

menjadi saksi bagi hati yang tak pernah lupa

Pada bumi yang gelap oleh musim pancaroba,

ia hadir bagai dzikir panjang di tengah nestapa

Dan ketika malam kian tenggelam dalam sepi,

cahayanya tetap memeluk rerumputan hinga pagi

Seakan semesta berbisik kepada jiwa yang luka: "tak semua kehilangan berakhir dengan musnahnya asa”...//(a.ah).

PURNAMA (II)

Purnama itu setia pada janji,

meski gelap berkali-kali mengingkari

Ia tetap datang di pucuk malam,

membawa cahaya ke hati yang tenggelam

Tatkala langit muram oleh luka musim,

sedianya angin menggugurkan doa-doa yang lirih nan kelam,

namun bulan tak pernah lelah mengapung di balik awan,

menjaga harapan yang hampir runtuh di jawa yang merana

Purnama itu setia pada janji,

meski sepi menjelma lorong tak bertepi

Ia menggantung tenang di langit raya,

menyaksikan dunia yang karam oleh dusta

Gelap mencoba menelan segala cahaya,

membisiki bumi tentang malam yang gulita

Tetapi rembulan tetap memancar cahaya,

seperti hati yang bertahan di tengah kehilangan asa

Purnama itu setia pada janji,

meski malam tak lagi ramah menemani

Ia tetap memeluk bumi nan menyinari,

meski awan menutup wajahnya berulang kali

Dan pada dingin yang menusuk sunyi,

bulan mengajarkan arti menepati hati

Bahwa kesetiaan bukan tentang dipahami,

melainkan tetap tinggal meski dikhianati...//(a.ah).

PURNAMA (III)

Purnama bertahan hingga di pucuk malam,

menggigil sendiri di langit yang mulai kelam

Ia tak beranjak meski sunyi mulai karam,

meski embun jatuh lirih di pucuk rerumputan yang pucat tanpa kalam

Bulan itu tetap menggantung dengan cahaya yang letih,

seakan enggan meninggalkan bumi yang masih bersedih

Di bawahnya, dunia terdiam tanpa suara,

hanya desir angin yang mengusap luka-luka

Purnama menjaga gelap sampai batas terakhirnya,

hingga waktu mengganti teja dengan mentari di ufuk sana

Dan ketika fajar perlahan membuka mata langit,

bulan pun pamit dengan cahaya yang maha sakit tanpa luka

Barangkali begitulah makna bertahan,

tetap menemani meski tahu akan ditinggalkan

Purnama tidak melawan datangnya pagi,

ia hanya menyempurnakan tugasnya sebelum pergi

Karena ada cinta yang memang dicipta demikian untuk setia sampai akhir masa, lalu hilang perlahan dalam ruang-ruang nan hampa...//(a.ah).

Ikuti WASPADA di Google Berita
Dapatkan berita terbaru langsung dari Google News.
Ikuti
Topik

Discussion

Bagikan pemikiran dan pendapat Anda

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.
Berita Terkait
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement