Breaking News
Memuat breaking news...

PUISI AGUSNI AH YANG LIRIH DAN KONTEMPLATIF

Redaksi
Redaksi
Kamis, 14 Mei 2026 - 10.31 AM WIB
PUISI AGUSNI AH YANG LIRIH DAN KONTEMPLATIF
Eksklusif di WhatsApp
Dapatkan berita terkini langsung di layar HP Anda
Waspada+ Gabung
Reading Comfort
adjust the font size

PENGANTAR REDAKSI:

Agusni AH kembali menjejak sunyi melalui trilogi puisi yang lirih dan kontemplatif: “Mohon”, “Pamit”, dan “Pulang.” Tiga judul itu berdiri sendiri sebagai untaian ratapan, namun ketika dirangkai dalam satu tarikan napas, menjelma menjadi kalimat paling pilu: “Mohon Pamit Pulang.”

Sebuah frasa yang terdengar seperti bisikan terakhir seorang jiwa sebelum meninggalkan dunia—pelan, sopan, dan penuh kepasrahan. “Mohon” adalah suara seorang manusia yang menundukkan diri; “Pamit” menjadi langkah perpisahan yang getir, sementara “Pulang” adalah perjalanan menuju keabadian-- menuju tempat paling sunyi di sisi Tuhan.

Dalam trilogi ini, Agusni AH tidak sekadar menulis puisi, melainkan merangkai duka menjadi doa, menjahit kehilangan dengan frasa-frasa religius yang mengendap panjang di dada pembacanya. Setiap lariknya seperti desir napas orang yang sedang berdamai dengan takdir: tentang luka, keikhlasan, dan kefanaan hidup yang perlahan luruh bersama waktu. Berikut puisi-puisinya:

MOHON

Jika selama ini aku kerap mengusik,

menyuguh kesusahan,

memberi ketidakbahagiaan

dan seribu satu penderitaan di hati kalian,

maka kali ini aku mohon…

Mohon maafkan aku

atas segala laku yang pernah melukai,

atas kata-kata yang menusuk seperti duri,

atas sikap yang diam-diam menoreh kecewa

pada orang-orang yang paling tulus mencintai

Sebab aku hanyalah manusia

yang acap kalah oleh dirinya sendiri, yang kerap melukai,

sering berjalan membawa gelap

tanpa sadar mengingkari

Dan bila kelak namaku tinggal kenangan,

aku ingin pergi dengan satu harapan sederhana:

semoga tak ada lagi benci,

selain doa-doa lirih

yang mengantarkanku pergi menghadap Ilahi Rabbi...//(a.ah).

PAMIT

Wahai orang-orang tersayang, kali ini aku pamit,

bukan seperti hari-hari lalu ketika aku pergi tanpa pesan,

lalu kembali membawa senyum yang terkadang pura-pura

Kali ini langkahku lebih jauh dari jalan pulang,

lebih sunyi dari malam yang kehilangan bulan

Jika kelak namaku hanya tinggal gema,

di sela doa-doa,

jangan tangisi aku terlalu lama

Sebab hidup hanyalah persinggahan pendek

bagi jiwa yang sejak awal diciptakan untuk kembali

Dan bila pada suatu dini hari

kalian merindukan suaraku,

carilah aku dalam ayat-ayat suci yang dibaca pelan,

dalam air mata yang jatuh di ujung sujud pualam

karena mungkin di sanalah

aku sedang menunggu belas kasih sayang sayang...//(a.ah).

PULANG

Di pucuk malam yang paling sunyi

aku menggulung letih di dada waktu,

membawa tubuh yang luka oleh dunia,

menuju pintu-Nya yang selalu terbuka

Dan ketika tanah memanggil namaku perlahan,

aku tak lagi menangis nan jiwaku datang untuk bersemayam,

sebab seluruh kehilangan akhirnya bermuara

pada satu kepulangan...//(a.ah).

Ikuti WASPADA di Google Berita
Dapatkan berita terbaru langsung dari Google News.
Ikuti
Topik

Discussion

Bagikan pemikiran dan pendapat Anda

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.
Berita Terkait
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement