PUISI AGUSNI AH YANG LIRIH DAN KONTEMPLATIF

PENGANTAR REDAKSI:
Agusni AH kembali menjejak sunyi melalui trilogi puisi yang lirih dan kontemplatif: “Mohon”, “Pamit”, dan “Pulang.” Tiga judul itu berdiri sendiri sebagai untaian ratapan, namun ketika dirangkai dalam satu tarikan napas, menjelma menjadi kalimat paling pilu: “Mohon Pamit Pulang.”
Sebuah frasa yang terdengar seperti bisikan terakhir seorang jiwa sebelum meninggalkan dunia—pelan, sopan, dan penuh kepasrahan. “Mohon” adalah suara seorang manusia yang menundukkan diri; “Pamit” menjadi langkah perpisahan yang getir, sementara “Pulang” adalah perjalanan menuju keabadian-- menuju tempat paling sunyi di sisi Tuhan.
Dalam trilogi ini, Agusni AH tidak sekadar menulis puisi, melainkan merangkai duka menjadi doa, menjahit kehilangan dengan frasa-frasa religius yang mengendap panjang di dada pembacanya. Setiap lariknya seperti desir napas orang yang sedang berdamai dengan takdir: tentang luka, keikhlasan, dan kefanaan hidup yang perlahan luruh bersama waktu. Berikut puisi-puisinya:
MOHON
Jika selama ini aku kerap mengusik,
menyuguh kesusahan,
memberi ketidakbahagiaan
dan seribu satu penderitaan di hati kalian,
maka kali ini aku mohon…
Mohon maafkan aku
atas segala laku yang pernah melukai,
atas kata-kata yang menusuk seperti duri,
atas sikap yang diam-diam menoreh kecewa
pada orang-orang yang paling tulus mencintai
Sebab aku hanyalah manusia
yang acap kalah oleh dirinya sendiri, yang kerap melukai,
sering berjalan membawa gelap
tanpa sadar mengingkari
Dan bila kelak namaku tinggal kenangan,
aku ingin pergi dengan satu harapan sederhana:
semoga tak ada lagi benci,
selain doa-doa lirih
yang mengantarkanku pergi menghadap Ilahi Rabbi...//(a.ah).
PAMIT
Wahai orang-orang tersayang, kali ini aku pamit,
bukan seperti hari-hari lalu ketika aku pergi tanpa pesan,
lalu kembali membawa senyum yang terkadang pura-pura
Kali ini langkahku lebih jauh dari jalan pulang,
lebih sunyi dari malam yang kehilangan bulan
Jika kelak namaku hanya tinggal gema,
di sela doa-doa,
jangan tangisi aku terlalu lama
Sebab hidup hanyalah persinggahan pendek
bagi jiwa yang sejak awal diciptakan untuk kembali
Dan bila pada suatu dini hari
kalian merindukan suaraku,
carilah aku dalam ayat-ayat suci yang dibaca pelan,
dalam air mata yang jatuh di ujung sujud pualam
karena mungkin di sanalah
aku sedang menunggu belas kasih sayang sayang...//(a.ah).
PULANG
Di pucuk malam yang paling sunyi
aku menggulung letih di dada waktu,
membawa tubuh yang luka oleh dunia,
menuju pintu-Nya yang selalu terbuka
Dan ketika tanah memanggil namaku perlahan,
aku tak lagi menangis nan jiwaku datang untuk bersemayam,
sebab seluruh kehilangan akhirnya bermuara
pada satu kepulangan...//(a.ah).



























Discussion
Bagikan pemikiran dan pendapat Anda