PUISI-PUISI AGUSNI AH

PENGANTAR REDAKSI:
Agusni AH, sang penyair kosmik dari tanah rencong, kembali menurunkan trilogi puisi berjudul Aku Tiada Daya Meredam Cahaya Murka, Nyala, dan Aku. Tiga puisi yang menjelajahi ruang batin manusia, menafsirkan cahaya dan kegelapan, serta merekam pergulatan jiwa di antara amarah, harapan, rindu, dan takdir. Melalui metafora-metafora kosmik yang khas, Agusni AH mengajak pembaca menyusuri lorong waktu, menyaksikan nyala yang tak padam, dan mendengar suara hati yang tetap bertahan di tengah sunyi. Berikut tiga sajaknya yang penuh makna, mengajak pembaca menyimaknya:
AKU TIADA DAYA MEREDAM CAHAYA MURKA
Jika jelaga bercampur senja itu merusak warna
Menjadikan waktu berubah pilu patahkan dada
Maka malam siap-siap menangis sedu
Aku tiada daya meredam cahaya murka...//(a.ah).
NYALA
Ada nyala di ufuk timur saat mentari merekah di dada
Ia merangkak menuju senja
Menyusuri lorong-lorong waktu yang fana
Membawa lembaran buku mimpi yang tak sempat kubaca
Namun nyala itu tak pernah padam
Sekalipun dirundung kabut dan dendam yang kelam
Ia bersembunyi di sela-sela doa yang terpendam
Menunggu takdir menuntunnya pulang
Memapah masuk lewat pintu yang masih terbuka
Ketika fajar kembali membuka jendela cakrawala
Nyala itu bangkit dari abu yang tersisa
Mengajari hati bahwa luka bukan akhir cerita
Sebab cahaya selalu menemukan jalan menuju jiwanya...//(a.ah).
AKU
Aku tak membujuk murka malam
Lantaranku berteman amarah yang mendendam
Meneguk sepi dari cawan yang kelam
Sementara waktu berjalan tanpa salam
Aku diam bukan tanpa cinta
Lantaran terpisah raga yang mengembara
Menelusuri jalan-jalan tak bernama
Meninggalkan rindu yang terus menyala
Aku bukan tak ingin kembali
Memungut kenangan yang gugur di hati
Namun jarak membangun dinding tinggi
Membiarkan doa meniti sunyi demi sunyi
Aku tetap aku yang dahulu
Menyimpan harap di balik pilu
Meski takdir menuliskan jalan berliku
Cinta akan pulang pada waktu yang dituju...//(a.ah).



























Discussion
Bagikan pemikiran dan pendapat Anda