Breaking News
Memuat breaking news...

PUISI-PUISI AGUSNI AH

Redaksi
Redaksi
Kamis, 18 Juni 2026 - 7.35 PM WIB
PUISI-PUISI AGUSNI AH
Eksklusif di WhatsApp
Dapatkan berita terkini langsung di layar HP Anda
Waspada+ Gabung
Reading Comfort
adjust the font size

PENGANTAR REDAKSI:

Agusni AH, sang penyair kosmik dari tanah rencong, kembali menurunkan trilogi puisi berjudul Aku Tiada Daya Meredam Cahaya Murka, Nyala, dan Aku. Tiga puisi yang menjelajahi ruang batin manusia, menafsirkan cahaya dan kegelapan, serta merekam pergulatan jiwa di antara amarah, harapan, rindu, dan takdir. Melalui metafora-metafora kosmik yang khas, Agusni AH mengajak pembaca menyusuri lorong waktu, menyaksikan nyala yang tak padam, dan mendengar suara hati yang tetap bertahan di tengah sunyi. Berikut tiga sajaknya yang penuh makna, mengajak pembaca menyimaknya:

AKU TIADA DAYA MEREDAM CAHAYA MURKA

Jika jelaga bercampur senja itu merusak warna

Menjadikan waktu berubah pilu patahkan dada

Maka malam siap-siap menangis sedu

Aku tiada daya meredam cahaya murka...//(a.ah).

NYALA

Ada nyala di ufuk timur saat mentari merekah di dada

Ia merangkak menuju senja

Menyusuri lorong-lorong waktu yang fana

Membawa lembaran buku mimpi yang tak sempat kubaca

Namun nyala itu tak pernah padam

Sekalipun dirundung kabut dan dendam yang kelam

Ia bersembunyi di sela-sela doa yang terpendam

Menunggu takdir menuntunnya pulang

Memapah masuk lewat pintu yang masih terbuka

Ketika fajar kembali membuka jendela cakrawala

Nyala itu bangkit dari abu yang tersisa

Mengajari hati bahwa luka bukan akhir cerita

Sebab cahaya selalu menemukan jalan menuju jiwanya...//(a.ah).

AKU

Aku tak membujuk murka malam

Lantaranku berteman amarah yang mendendam

Meneguk sepi dari cawan yang kelam

Sementara waktu berjalan tanpa salam

Aku diam bukan tanpa cinta

Lantaran terpisah raga yang mengembara

Menelusuri jalan-jalan tak bernama

Meninggalkan rindu yang terus menyala

Aku bukan tak ingin kembali

Memungut kenangan yang gugur di hati

Namun jarak membangun dinding tinggi

Membiarkan doa meniti sunyi demi sunyi

Aku tetap aku yang dahulu

Menyimpan harap di balik pilu

Meski takdir menuliskan jalan berliku

Cinta akan pulang pada waktu yang dituju...//(a.ah).

Ikuti WASPADA di Google Berita
Dapatkan berita terbaru langsung dari Google News.
Ikuti
Topik

Discussion

Bagikan pemikiran dan pendapat Anda

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.
Berita Terkait
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement