PUISI-PUISI AGUSNI AH: GETIR SOSIAL, RENUNGAN SPIRITUAL DAN KEHENINGAN BATIN

PENGANTAR REDAKSI:
Agusni AH kembali menghadirkan sajen (sajak pendek) rangkaian puisi yang bergerak di antara getir sosial, renungan spiritual, dan keheningan batin yang personal.
Dalam empat judul: KARENANYA AKU TERSEDU, WISDOM, MESKI TANPA SEPOTONG ROTI dan KUSEMAI DALAM DOA—terasa benang merah yang kuat. Pergulatan manusia dengan kemiskinan, kebijaksanaan yang lahir dari kesederhanaan, serta doa sebagai ruang paling sunyi untuk menyimpan luka dan harapan.
Sajen-sajen ini tidak berdiri sebagai pernyataan yang selesai, tetapi sebagai getaran kesadaran yang terus bergerak. Ironi sosial hadir tanpa dihakimi, sementara tokoh-tokoh yang sederhana—emak, orang-orang kecil, dan 'aku', menjadi cermin bagi kenyataan yang lebih luas. Pembaca diajak menyaksikan bagaimana empati tumbuh dari pengalaman yang getir, bukan dari teori atau khutbah-khutbah.
Bahasa yang digunakan cenderung lirih, namun menyimpan daya gugah yang kuat. Di sanalah kekuatan puisi-puisi ini: pada kemampuan merawat kesunyian sebagai ruang refleksi sekaligus menjadikannya tempat lahirnya kebijaksanaan yang tidak menggurui. Penyair Agusni AH mengingatkan kita bahwa di balik peristiwa sederhana—ejekan, lapar, doa, dan kehilangan tersimpan nilai-nilai kemanusiaan yang terus mencari makna. Berikut sajak-sajak pendek Agusni AH:
KARENANYA AKU TERSEDU
Dulu aku sempat diejek semeja restoran yang dipenuhi orang kaya
Namun aku acuh karena yang diejek itu sebuah kemiskinan
Mereka menyudutkan Tuhan
Dan aku senyum-senyum
Keesokan hari aku balik membantu, mengusir kerumunan lalat di meja restoran itu
Entah mengapa dadaku dipenuhi sesak
Aku pun menangis
Ketika orang-orang kaya itu tak sanggup lagi duduk di meja-meja restoran
Bahkan mereka tak sanggup lagi membeli sembako
Walau secupak beras
Karenanya aku tersedu...//(a.ah).
WISDOM
Emak menabalkan namaku Wisdom
Kebijaksanaan kah ?
Ah, terasa terlalu tinggi kusebutkan
Sedang langkahku masih belajar mengenal jalan
Emak tak pernah menamatkan SR,
huruf-huruf pun dibacanya dengan terbata-bata
Namun dari telapak tangannya yang kasar, aku mengenal arti hidup yang sesungguhnya
Ia tak mengajarku dengan kitab tebal,
tak pula berpetuah panjang setiap waktu
Hanya mencontohkan sabar di tengah kegetiran
dan syukur meski tak berasap tungku
Kini kucoba kenyam penabalannya
Sepertinya diam-diam Emak menitip doa yang bijaksana...//(a.ah).
MESKI TANPA SEPOTONG ROTI
Dari sepotong doa kita berjuang
Kita pun merdeka
Dari sepotong doa kita belajar hidup
Kita pun bersama, meski tanpa sepotong roti...//(a.ah).
KUSEMAI DALAM DOA
Aku menyusun namamu dalam doa
Tak lagi kuukir di dinding raga
Biar ia tinggal di ruang yang sunyi
Di antara detak jantung dalam jiwa yang tersembunyi
Kucoba merelakan bicara tanpa suara
meski hati masih ingin menyapa
Di antara cahaya yang patah di jendela dunia
Nan kubiarkan wajahnya mengapung di ujung senja
Jika rindu datang tanpa permisi
Kubungkus ia dalam sepi yang rapi
Tak kubiarkan ia tumbuh menjadi luka
Cukup kusemai dalam doa yang sederhana...//(a.ah).



























Discussion
Bagikan pemikiran dan pendapat Anda