Breaking News
Memuat breaking news...

PUISI-PUISI AGUSNI AH: GETIR SOSIAL, RENUNGAN SPIRITUAL DAN KEHENINGAN BATIN

Redaksi
Redaksi
Jumat, 19 Juni 2026 - 3.06 PM WIB
PUISI-PUISI AGUSNI AH: GETIR SOSIAL, RENUNGAN SPIRITUAL DAN KEHENINGAN BATIN
Eksklusif di WhatsApp
Dapatkan berita terkini langsung di layar HP Anda
Waspada+ Gabung
Reading Comfort
adjust the font size

PENGANTAR REDAKSI:

Agusni AH kembali menghadirkan sajen (sajak pendek) rangkaian puisi yang bergerak di antara getir sosial, renungan spiritual, dan keheningan batin yang personal.

Dalam empat judul: KARENANYA AKU TERSEDU, WISDOM, MESKI TANPA SEPOTONG ROTI dan KUSEMAI DALAM DOA—terasa benang merah yang kuat. Pergulatan manusia dengan kemiskinan, kebijaksanaan yang lahir dari kesederhanaan, serta doa sebagai ruang paling sunyi untuk menyimpan luka dan harapan.

Sajen-sajen ini tidak berdiri sebagai pernyataan yang selesai, tetapi sebagai getaran kesadaran yang terus bergerak. Ironi sosial hadir tanpa dihakimi, sementara tokoh-tokoh yang sederhana—emak, orang-orang kecil, dan 'aku', menjadi cermin bagi kenyataan yang lebih luas. Pembaca diajak menyaksikan bagaimana empati tumbuh dari pengalaman yang getir, bukan dari teori atau khutbah-khutbah.

Bahasa yang digunakan cenderung lirih, namun menyimpan daya gugah yang kuat. Di sanalah kekuatan puisi-puisi ini: pada kemampuan merawat kesunyian sebagai ruang refleksi sekaligus menjadikannya tempat lahirnya kebijaksanaan yang tidak menggurui. Penyair Agusni AH mengingatkan kita bahwa di balik peristiwa sederhana—ejekan, lapar, doa, dan kehilangan tersimpan nilai-nilai kemanusiaan yang terus mencari makna. Berikut sajak-sajak pendek Agusni AH:

KARENANYA AKU TERSEDU

Dulu aku sempat diejek semeja restoran yang dipenuhi orang kaya

Namun aku acuh karena yang diejek itu sebuah kemiskinan

Mereka menyudutkan Tuhan

Dan aku senyum-senyum

Keesokan hari aku balik membantu, mengusir kerumunan lalat di meja restoran itu

Entah mengapa dadaku dipenuhi sesak

Aku pun menangis

Ketika orang-orang kaya itu tak sanggup lagi duduk di meja-meja restoran

Bahkan mereka tak sanggup lagi membeli sembako

Walau secupak beras

Karenanya aku tersedu...//(a.ah).

WISDOM

Emak menabalkan namaku Wisdom

Kebijaksanaan kah ?

Ah, terasa terlalu tinggi kusebutkan

Sedang langkahku masih belajar mengenal jalan

Emak tak pernah menamatkan SR,

huruf-huruf pun dibacanya dengan terbata-bata

Namun dari telapak tangannya yang kasar, aku mengenal arti hidup yang sesungguhnya

Ia tak mengajarku dengan kitab tebal,

tak pula berpetuah panjang setiap waktu

Hanya mencontohkan sabar di tengah kegetiran

dan syukur meski tak berasap tungku

Kini kucoba kenyam penabalannya

Sepertinya diam-diam Emak menitip doa yang bijaksana...//(a.ah).

MESKI TANPA SEPOTONG ROTI

Dari sepotong doa kita berjuang

Kita pun merdeka

Dari sepotong doa kita belajar hidup

Kita pun bersama, meski tanpa sepotong roti...//(a.ah).

KUSEMAI DALAM DOA

Aku menyusun namamu dalam doa

Tak lagi kuukir di dinding raga

Biar ia tinggal di ruang yang sunyi

Di antara detak jantung dalam jiwa yang tersembunyi

Kucoba merelakan bicara tanpa suara

meski hati masih ingin menyapa

Di antara cahaya yang patah di jendela dunia

Nan kubiarkan wajahnya mengapung di ujung senja

Jika rindu datang tanpa permisi

Kubungkus ia dalam sepi yang rapi

Tak kubiarkan ia tumbuh menjadi luka

Cukup kusemai dalam doa yang sederhana...//(a.ah).

Ikuti WASPADA di Google Berita
Dapatkan berita terbaru langsung dari Google News.
Ikuti
Topik

Discussion

Bagikan pemikiran dan pendapat Anda

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.
Berita Terkait
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement