PUISI-PUISI AGUSNI AH: PERJALANAN MENUJU TITIK AKHIR

PENGANTAR REDAKSI:
Puisi-puisi Agusni AH dalam kumpulan ini berangkat dari perenungan tentang hidup, waktu, kematian, dan kegelisahan manusia modern. Melalui bahasa yang sederhana namun reflektif, penyair mengajak pembaca menelusuri jejak perjalanan manusia sebagai musafir yang terus berjalan menuju titik akhir.
Dalam "Hidup Bukan Jeda", dipandang sebagai perjalanan yang sarat ujian dan pembelajaran. "Noktah" dan "Apa yang Kita Bawa" menghadirkan kesadaran tentang kefanaan, saat manusia harus mempertanggungjawabkan seluruh jejak hidupnya di hadapan Sang Pencipta. Sementara itu, "Melumat" memperlihatkan ikhtiar manusia untuk melawan gelap, nestapa, dan berbagai belenggu yang memerangkap cahaya dalam dirinya.
Kegelisahan penyair terhadap realitas kontemporer tampak kuat dalam "Risau Ini Milik Siapa", sebuah refleksi atas dunia yang dipenuhi hiruk-pikuk yang kerap menjauhkan manusia dari makna. Adapun "Musim" menghadirkan ironi tentang cinta dan kemanusiaan. Sepertinya penyair Agusni AH mempertanyakan manusia yang mengaku berakal dan berperasaan justru sering gagal merawat nilai-nilai kemanusiaannya. Berikut ini kandungan pesan puisi-puisi Agusni AH:
HIDUP BUKAN JEDA
Hidup bukan jeda
Ia terus menapaki Seperti musafir
melewati jalan yang terjal
Menjangkau waktu hingga ujung masa tak bersisa
Kadang hujan mengguyuri jiwa
Kadang panas membakar harapan
Namun kaki yang setia berjalan
Tak pernah berhenti merengkuh tujuan
Hidup bukan jeda
Di setiap persimpangan ada duri pelajaran
Di setiap tikungan ada luka pemahaman
Sebab hidup bukan sekadar tiba
Sebab mati yang datang hanya sebuah cara dari makna perjalanan pulang...//(a.ah)
NOKTAH
Ketika senja terakhir datang, saat napas menutup lembaran kisah
Jiwa pun pulang membawa noktah
Hingga akhir dalam damai yang pasrah...//(a.ah)
APA YANG KITA BAWA
Ketika tirai dunia diturunkan, segala peran purna
Setelahnya kita berada pada tepi
Kita berdiri di hadapan-Nya
Dengan segala apa yang kita bawa ?
...//(a.ah)
MELUMAT
Aku mengembara di cakrawala senja
Menyemai asa pada bumi yang lara
Mengumpul pijar purnama yang menjelma
Mengusir nestapa dari relung malam yang sia-sia
Dari gelap yang melumat senyap masa
Pada satu waktu yang memerangkap cahaya
Pelan-pelan aku coba melumatnya...//(a.ah)
RISAU INI MILIK SIAPA
Ini bukan pertanyaanku di atas panggung monolog, bukan juga prolog
Ini adalah panggung olok-olok
Dengan layar di tangan, sederet tontonan di setiap kedip mata
Kita terbuai panjang dengan lamun yang sia-sia
Sebelum layar turun, di panggung gempita
Riang diperdagangkan dalam angka
Tangis pun menjadi iklan berbiaya
Kebenaran berdesakan dengan dusta
Dalih data yang penuh harga
Di lorong waktu itu antara sorak dan sunyi
Aku menyaksikan wajah-wajah berlari, mengejar bayangnya sendiri
Sementara hati mengering di bawah hujan
Di bawah cahaya yang gemerlap
Lalu aku bertanya pada malam yang panjang:
Risau ini milik siapa ?
Milik dunia yang lupa bercermin
Atau milikku yang tak lagi mengenali makna ?
Sebelum layar benar-benar turun
Dan tepuk tangan menjadi kenangan
Mari memungut ingatan yang terlanjur berserakan di panggung fana...//(a.ah)
MUSIM
Pada satu musim
Aku menyaksikan sekawanan hewan kawin
Mereka memadu kasih tanpa cinta
Di musim yang lain mereka berpisah
Tanpa dendam, tanpa menyimpan kenangan
Di musim berbeda hanya manusia yang sering mengaku cinta
Namun gagal merawat kemanusiaannya...//(a.ah).



























Discussion
Bagikan pemikiran dan pendapat Anda