Breaking News
Memuat breaking news...

PUISI-PUISI AGUSNI AH: PERJALANAN MENUJU TITIK AKHIR

Redaksi
Redaksi
Minggu, 21 Juni 2026 - 8.19 AM WIB
PUISI-PUISI AGUSNI AH: PERJALANAN MENUJU TITIK AKHIR
Eksklusif di WhatsApp
Dapatkan berita terkini langsung di layar HP Anda
Waspada+ Gabung
Reading Comfort
adjust the font size

PENGANTAR REDAKSI:

Puisi-puisi Agusni AH dalam kumpulan ini berangkat dari perenungan tentang hidup, waktu, kematian, dan kegelisahan manusia modern. Melalui bahasa yang sederhana namun reflektif, penyair mengajak pembaca menelusuri jejak perjalanan manusia sebagai musafir yang terus berjalan menuju titik akhir.

Dalam "Hidup Bukan Jeda", dipandang sebagai perjalanan yang sarat ujian dan pembelajaran. "Noktah" dan "Apa yang Kita Bawa" menghadirkan kesadaran tentang kefanaan, saat manusia harus mempertanggungjawabkan seluruh jejak hidupnya di hadapan Sang Pencipta. Sementara itu, "Melumat" memperlihatkan ikhtiar manusia untuk melawan gelap, nestapa, dan berbagai belenggu yang memerangkap cahaya dalam dirinya.

Kegelisahan penyair terhadap realitas kontemporer tampak kuat dalam "Risau Ini Milik Siapa", sebuah refleksi atas dunia yang dipenuhi hiruk-pikuk yang kerap menjauhkan manusia dari makna. Adapun "Musim" menghadirkan ironi tentang cinta dan kemanusiaan. Sepertinya penyair Agusni AH mempertanyakan manusia yang mengaku berakal dan berperasaan justru sering gagal merawat nilai-nilai kemanusiaannya. Berikut ini kandungan pesan puisi-puisi Agusni AH:

HIDUP BUKAN JEDA

Hidup bukan jeda

Ia terus menapaki Seperti musafir

melewati jalan yang terjal

Menjangkau waktu hingga ujung masa tak bersisa

Kadang hujan mengguyuri jiwa

Kadang panas membakar harapan

Namun kaki yang setia berjalan

Tak pernah berhenti merengkuh tujuan

Hidup bukan jeda

Di setiap persimpangan ada duri pelajaran

Di setiap tikungan ada luka pemahaman

Sebab hidup bukan sekadar tiba

Sebab mati yang datang hanya sebuah cara dari makna perjalanan pulang...//(a.ah)

NOKTAH

Ketika senja terakhir datang, saat napas menutup lembaran kisah

Jiwa pun pulang membawa noktah

Hingga akhir dalam damai yang pasrah...//(a.ah)

APA YANG KITA BAWA

Ketika tirai dunia diturunkan, segala peran purna

Setelahnya kita berada pada tepi

Kita berdiri di hadapan-Nya

Dengan segala apa yang kita bawa ?

...//(a.ah)

MELUMAT

Aku mengembara di cakrawala senja

Menyemai asa pada bumi yang lara

Mengumpul pijar purnama yang menjelma

Mengusir nestapa dari relung malam yang sia-sia

Dari gelap yang melumat senyap masa

Pada satu waktu yang memerangkap cahaya

Pelan-pelan aku coba melumatnya...//(a.ah)

RISAU INI MILIK SIAPA

Ini bukan pertanyaanku di atas panggung monolog, bukan juga prolog

Ini adalah panggung olok-olok

Dengan layar di tangan, sederet tontonan di setiap kedip mata

Kita terbuai panjang dengan lamun yang sia-sia

Sebelum layar turun, di panggung gempita

Riang diperdagangkan dalam angka

Tangis pun menjadi iklan berbiaya

Kebenaran berdesakan dengan dusta

Dalih data yang penuh harga

Di lorong waktu itu antara sorak dan sunyi

Aku menyaksikan wajah-wajah berlari, mengejar bayangnya sendiri

Sementara hati mengering di bawah hujan

Di bawah cahaya yang gemerlap

Lalu aku bertanya pada malam yang panjang:

Risau ini milik siapa ?

Milik dunia yang lupa bercermin

Atau milikku yang tak lagi mengenali makna ?

Sebelum layar benar-benar turun

Dan tepuk tangan menjadi kenangan

Mari memungut ingatan yang terlanjur berserakan di panggung fana...//(a.ah)

MUSIM

Pada satu musim

Aku menyaksikan sekawanan hewan kawin

Mereka memadu kasih tanpa cinta

Di musim yang lain mereka berpisah

Tanpa dendam, tanpa menyimpan kenangan

Di musim berbeda hanya manusia yang sering mengaku cinta

Namun gagal merawat kemanusiaannya...//(a.ah).

Ikuti WASPADA di Google Berita
Dapatkan berita terbaru langsung dari Google News.
Ikuti
Topik

Discussion

Bagikan pemikiran dan pendapat Anda

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.
Berita Terkait
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement