Breaking News
Memuat breaking news...

PUISI SIMBOLIK AGUSNI AH

Redaksi
Redaksi
Jumat, 5 Juni 2026 - 8.38 AM WIB
PUISI SIMBOLIK AGUSNI AH
Eksklusif di WhatsApp
Dapatkan berita terkini langsung di layar HP Anda
Waspada+ Gabung
Reading Comfort
adjust the font size

PENGANTAR REDAKSI:

Menyimak puisi-puisi "Jejak Malam", "Cawan Luka", "Musafir", "Senja Kembali Datang", dan "Sua", tampak adanya benang merah yang kuat dalam dunia puitik penyair Agusni AH dari kelima puisinya bergerak dalam ruang perenungan yang sama: perjalanan manusia menghadapi waktu, luka, pencarian makna, dan akhirnya kesadaran akan asal serta tujuan hidup.

"Jejak Malam" menghadirkan suasana sunyi yang sarat kontemplasi. Malam bukan sekadar latar waktu, melainkan ruang batin tempat manusia berdialog dengan dirinya sendiri.

"Cawan Luka" berbicara tentang penderitaan yang tidak selalu harus ditolak. Luka diposisikan sebagai bagian dari proses pendewasaan jiwa. Seperti cawan yang menampung berbagai rasa, manusia menyimpan duka sekaligus hikmah yang lahir darinya.

Dalam "Musafir", perjalanan menjadi metafora utama kehidupan. Sosok musafir melangkah tanpa banyak keluh, menempuh medan terjal dengan keyakinan pada titik tujuan. Puisi ini mengandung semangat keteguhan dan kesabaran dalam menapaki jalan hidup.

Sementara itu, "Senja Kembali Datang" menghadirkan nuansa yang lebih reflektif. Senja menjadi simbol fase penghujung, saat seseorang menoleh ke belakang dan menimbang perjalanan yang telah ditempuh. Namun senja dalam puisi ini bukan akhir yang muram, melainkan penanda kesetiaan terhadap janji dan tujuan yang hendak ditunaikan.

Adapun "Sua" membawa pembaca pada perenungan yang lebih filosofis dan spiritual. Manusia digambarkan sebagai himpunan unsur-unsur alam—tanah, air, api yang menyala dalam kehidupan. Di balik kesederhanaan lariknya, tersimpan kesadaran bahwa manusia berasal dari alam dan pada akhirnya akan kembali kepada Sang Pencipta.

Secara keseluruhan, kelima puisi tersebut menunjukkan kecenderungan penyair untuk mengolah tema-tema kosmik dan spiritual dalam bahasa yang sederhana namun simbolik.

Di titik itulah puisi-puisi Agusni AH ini menemukan daya renungnya: mengingatkan bahwa hidup bukan hanya tentang berjalan, tetapi juga memahami ke mana langkah itu bermuara. Sebagaimana berikut ini:

JEJAK MALAM

Malam, kasihmu penuh gulita

Kau bersemayam dalam lipatan waktu tanpa jemu

Kau selalu terjaga tanpa jeda

Hingga kubangun setelah mimpi panjangku

Nan kuharap kau selalu menjaga langkah waktu

Namun fajar tak selalu datang membawa jawab

Kadang ia hanya menyisakan jejak-jejak harap

Yang kutitipkan pada embun di ujung senyap

Agar namamu tetap berdenyut dalam setiap detak

Menemani usia yang perlahan larut menghapus jarak...//(a.ah).

CAWAN LUKA

Aku tertatih lelah memapah waktu

Mengejar bayang yang selangkah maju di depanku

Di tengah terik panas pada musim pancaroba

Aku hanya bisa menyeka airmata

Sementara jalan kian panjang tak kunjung reda

Langkah-langkah rapuh berserak di hamparan asa

Kuteguk sabar dari cawan luka yang tersisa

Meski perih terus mengetuk relung jiwa

Aku tetap berjalan, meski ditemani nestapa...//(a.ah).

MUSAFIR

Adalah musafir yang berjalan

Melangkah panjang tanpa alas kaki

Sedang medan terjal nan berliku

Ia tanpa lelah, tanpa ragu

Merengkuh titik tuju

Debu-debu waktu melekat di tubuhnya

Panas dan hujan menjadi sahabat setia

Tak sekali pun ia berpaling arah

Meski badai menghadang langkah

Dan sunyi menjadi teman yang tabah

Di pundaknya tergantung harapan

Di dadanya bersemayam keyakinan dalam Tauhid yang tak pernah padam

Bahwa setiap jejak yang ditinggalkan

Bukan sekadar bekas perjalanan

Melainkan makna bagi sebuah tujuan

Sebab hidup hanyalah persinggahan

Sedang akhir adalah kepulangan

Maka ia meniti hari demi hari

Sebagai musafir yang memahami

Bahwa tujuan sejati adalah rumah abadi...//(a.ah).

SENJA KEMBALI DATANG

Senja kembali datang di langkah terakhirku

Mengapung di antara garis horizon belakangku

Aku terlanjur pergi untuk menepati janji

Langit perlahan melipat cahaya hari

Menyisakan semburat jingga di tepi sepi

Sedang jalan yang kutempuh kian sunyi

Menuntunku pada tujuan yang lama kunanti

Kupungut kenangan yang jatuh di sepanjang waktu

Kusimpan dalam relung yang tak lagi memburu

Sebab setiap perjumpaan telah mengajariku

Bahwa kehilangan pun memiliki makna yang syahdu

Dan ketika malam membuka pintunya perlahan

Aku tak lagi menawar takdir perjalanan

Karena janji yang kutitip pada cakrawala dahulu

Kini menuntunku pulang bersama senja yang kembali datang...//(a.ah).

SUA

Kita adalah langkah nan bangkit dari secukup unsur

Kita adalah tanah

Adalah air

Adalah api

Kita pun menyala

Kita adalah angin yang berembus tak kabur

Mengantar doa dari bibir yang jujur

Meniti langit dalam sunyi nan luhur

Hingga bersua asal pada muara yang tak pernah uzur...//(a.ah).

Ikuti WASPADA di Google Berita
Dapatkan berita terbaru langsung dari Google News.
Ikuti
Topik

Discussion

Bagikan pemikiran dan pendapat Anda

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.
Berita Terkait
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement