PUPUS CERPEN AGUSNI AHPUPUS CERPEN AGUSNI AH

PENGANTAR REDAKSI:
PUPUS karya Agusni AH bukan sekadar kisah tentang seorang lelaki bernama Aby yang tumbuh di kampung pesisir dengan latar eksploitasi minyak dan gas. Cerpen ini merupakan elegi tentang tanah, kemiskinan, ingatan, dan harapan yang perlahan kehilangan cahaya.
Melalui sosok Aby kecil, pengarang menghadirkan ironi yang tajam: dari kejauhan, lidah-lidah api industri tampak seperti cahaya kemakmuran, tetapi di bawah gemerlapnya kehidupan masyarakat pesisir justru tetap bergelut dengan keterbatasan. Minyak, gas, laut, dan tanah yang kaya tidak serta-merta menjadikan pemilik ruang hidupnya ikut sejahtera. Di sinilah “PUPUS” menemukan daya kritik sosialnya.
Menariknya, kritik tersebut tidak disampaikan melalui kemarahan yang meledak-ledak. Agusni AH memilih metafora api dan karat sebagai dua penanda zaman. Api menggambarkan kejayaan, energi, dan harapan masa lalu; sementara karat menjadi simbol dari sesuatu yang pernah gagah, kemudian ditinggalkan waktu. Ketika api padam dan besi-baja berubah karat, yang tertinggal bukan hanya reruntuhan industri, melainkan juga pertanyaan tentang siapa yang sesungguhnya memiliki tanah dan siapa yang menikmati kekayaannya.
Perjalanan Aby dari seorang anak hingga berkepala lima memperkuat dimensi kontemplatif cerpen ini. Waktu tidak hanya mengubah tubuh manusia, tetapi juga mengubah lanskap dan makna sebuah tempat. Kematian Abah dan Emak, padamnya api, berkaratnya pipa, serta tanah yang tak kunjung kembali kepada pemiliknya menjadi lapisan-lapisan kehilangan yang saling bertaut.
Pada akhirnya, “PUPUS” adalah cerita tentang harapan yang terlalu lama menunggu. Ia mengingatkan bahwa kehilangan paling getir bukan semata-mata ketika sesuatu dirampas, tetapi ketika manusia masih mempertahankan harapan—hingga suatu hari harapan itu sendiri kehabisan cahaya.
Dengan gaya yang lirih, simbolik, dan sarat ingatan lokal, Agusni AH menjadikan api, laut, tanah, dan karat sebagai bahasa untuk membaca sejarah sebuah masyarakat. Dan ketika cerpen ini ditutup dengan kata pupus, pembaca seolah diajak bertanya: benarkah yang pupus hanya harapan, atau ada bagian dari sejarah dan hak sebuah generasi yang ikut dipupuskan oleh waktu? Para penikmat sastra berikut dapat menyimak "PUPUS" karya Agusni AH:
PUPUS
LIDAH-LIDAH api menjilat udara malam Tanoh Indatu. Dari kejauhan, nyalanya tampak terang; semakin terang ketika dipandang dari bibir pantai yang menghadap Selat Malaka. Pada jarak sekitar satu kilometer, puluhan titik sumbu api meliuk-liuk diterpa angin, seakan sedang mengirim kabar tentang kemegahan sebuah negeri berdarah di ujung paling barat horizon.
Malam-malam di kampung pesisir itu selalu punya cara sendiri untuk memelihara kegembiraan. Anak-anak remaja berlarian di lapangan, bermain bola hingga peluh membasahi tubuh. Terlebih malam Minggu, apalagi ketika purnama menggantung bulat di langit. Mereka tertawa, berteriak, dan mengejar bola di bawah semburat cahaya yang memantul di permukaan laut.
Tak terkecuali Aby kecil.
Namun, di tengah riuh itu, Aby kerap memilih diam. Ia duduk sedikit menjauh, memandangi liukan api yang tak pernah benar-benar sampai kepadanya. Sesekali matanya mengikuti cahaya bulan yang bergetar di atas laut.
Ada sesuatu yang tak dimiliki teman-temannya.
Sesuatu yang membuat kegembiraan terasa seperti milik orang lain.
Jiwa kecilnya bergolak. Ia ingin berlari, tetapi ada sesuatu yang menahannya. Ia ingin tertawa, tetapi seperti ada tangan tak kasatmata yang menutup mulutnya.
Puluhan lidah api yang berpusat pada sumur-sumur minyak, terhubung dengan ladang-ladang minyak yang membentang jauh di bawah cakrawala, kerap memaksa benak Aby kecil mengerutkan dahi. Cahaya yang dari kejauhan tampak memesona itu justru menyisakan tanda tanya yang tak pernah selesai di kepalanya.
Tak jarang ia mengusap—lalu mengurut—dadanya sendiri, seolah ada sesuatu yang sesak dan sulit dijelaskan. Pandangannya nanar menyaksikan kehidupan masyarakat pesisir yang serba anomali: tanah mereka menyimpan minyak, laut mereka menyimpan kekayaan, langit mereka diterangi api, tetapi sebagian besar kehidupan di bawahnya tetap berjalan dalam kesunyian kemiskinan.
Aby belum cukup dewasa untuk memahami mengapa kemakmuran selalu tampak begitu dekat di mata, tetapi begitu jauh dari jangkauan tangan. Ia hanya tahu, setiap kali puluhan lidah api itu menjilat langit malam, ada sesuatu di dalam dadanya yang ikut terbakar. Mungkin bukan api yang membuatnya resah. Melainkan kenyataan bahwa cahaya sebesar itu belum juga mampu menerangi kehidupan orang-orang di sekitarnya.
Tak terkecuali Aby. Saban hari ia bergelut dengan laut Selat Malaka, akrab dengan asin air dan terik matahari yang menggurat kulitnya. Terkadang, ketika air pasang, ia ikut mencari benur dan nener. Anak-anak udang tiger dan ikan bandeng itu biasanya ikut terbawa arus dan mengapung mendekati garis pantai, sehingga mudah ditangguk oleh warga nelayan yang bermukim di sepanjang pesisir. Hasil tangkapan kecil itu kemudian dikumpulkan dan dijual kepada para penampung. Dari tangan mereka, benur dan nener tersebut dibawa pergi, lalu ditebar dan dibesarkan di tambak-tambak milik tauke.
Aby hanya mengenal satu hal dari perjalanan itu: laut memberi, nelayan mengambil, penampung membeli, dan tauke membesarkan. Namun, entah mengapa, yang paling kecil bagiannya selalu mereka yang sejak awal hidupnya bergantung kepada laut. Ia sering bertanya dalam diam: mengapa sesuatu yang lahir dari laut milik mereka justeru tumbuh menjadi kekayaan di tempat lain?
Pertanyaan itu belum mampu ia jawab. Tetapi setiap kali memandang puluhan lidah api di kejauhan, pertanyaan yang sama kembali menyala di dalam dadanya. Kini Aby telah berkepala lima. Abah dan Emak telah lama menghadap Ilahi Rabbi. Waktu rupanya telah menggerus banyak hal. Lidah-lidah api yang dahulu menjilat langit malam Tanoh Indatu tak lagi menyala. Titik-titik cahaya yang pernah membuat mata Aby kecil terpukau telah padam satu demi satu, menyisakan tiang-tiang tua dan cerobong yang membisu.
Pipa-pipa besar yang dahulu mengalirkan minyak dan gas dari perut bumi telah kusam dimakan usia. Besi-baja raksasa yang pernah berdiri gagah kini berkarat, sebagian ditumbuhi semak dan ilalang. Di sela-selanya, angin laut Selat Malaka meniupkan suara lirih, seperti sedang membaca kembali sebuah sejarah yang telah lama dilupakan.
Aby berdiri di tepi pantai. Rambutnya telah memutih di beberapa bagian. Wajah yang dahulu polos kini dipenuhi guratan waktu.
Ia memandang lama ke arah tempat yang dulu menjadi sumber cahaya.
Tak ada lagi api. Tak ada lagi gemuruh mesin. Tak ada lagi tanda-tanda kejayaan yang pernah menyilaukan mata.
Yang tersisa hanyalah karat.
Dan kenangan.
Aby tiba-tiba teringat ucapan Abah puluhan tahun silam: “Tanah itu bukan sekadar tanah, By. Di sana ada hidup yang pernah kita punya.”
Kini ia mengerti sepenuhnya.
Yang pupus ternyata bukan hanya api.
Tanah bekas sumur dan ladang minyak-gas itu telah lama diperjuangkan agar kembali kepada para pemiliknya. Bertahun-tahun suara tuntutan diperdengarkan, surat-surat dilayangkan, pertemuan demi pertemuan digelar. Namun tanah itu tetap jauh dari genggaman mereka yang dahulu mewarisinya.
Kini, yang tersisa hanya bekas-bekas eksploitasi: pipa yang berkarat, besi-baja yang lapuk, sumur-sumur yang membisu, dan tanah yang seakan kehilangan ingatan tentang siapa yang pernah memilikinya. Perjuangan itu bukan kalah. Hanya saja, asa yang terlalu lama ditunggu akhirnya kehabisan cahaya. Barangkali, pikirnya, yang paling menyakitkan dari sebuah kehilangan bukan ketika sesuatu dirampas, melainkan ketika harapan untuk mendapatkannya pupus kembali.***.
(Lhokseumawe dalam genangan kenangan, Oktober 2014)































Discussion
Bagikan pemikiran dan pendapat Anda