Breaking News
Memuat breaking news...

Purbaya Menilai Gejolak Geopolitik Global Buat Aktivitas Ekspor Tak Normal

Redaksi
Redaksi
Rabu, 5 Agustus 2026 - 6.06 PM WIB
Purbaya Menilai Gejolak Geopolitik Global Buat Aktivitas Ekspor Tak Normal
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa /ist
Eksklusif di WhatsApp
Dapatkan berita terkini langsung di layar HP Anda
Waspada+ Gabung
Reading Comfort
adjust the font size

JAKARTA (Waspada.id): Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menilai, kondisi gejolak geopolitik global yang menantang pada periode April hingga Juni 2026 membuat aktivitas ekspor dan berbagai sektor ekonomi tidak dapat berjalan optimal.

Meski demikian, ia menilai pertumbuhan ekonomi Indonesia masih mampu bertahan pada level yang cukup kuat, dengan tumbuh pada kuartal II 2026 sebesar 5,29 persen yang menunjukkan kinerja masih baik di tengah tekanan ekonomi global.

Menurut Purbaya, capaian tersebut diraih ketika perekonomian menghadapi dampak tingginya harga minyak dunia yang memengaruhi aktivitas perdagangan dan ekspor.

"Jadi kalau kita lihat, saya agak takut, itu kan 5,3 kan kira-kira ya, melambat di tengah harga minyak dunia yang tinggi," ujar Purbaya saat konferensi pers di Jakarta, Rabu (5/8/2026).

Pemerintah, lanjut Purbaya, akan mengoptimalkan berbagai instrumen kebijakan pada semester II 2026 untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi.

Sejumlah langkah yang disiapkan antara lain meningkatkan likuiditas di perekonomian dan menurunkan biaya dana perbankan agar suku bunga kredit dapat lebih rendah.

"Tapi ke depan saya yakin di kuartal III dan IV kita akan dorong ke arah yang lebih cepat menuju enam persen dengan memaksimalkan semua mesin pertumbuhan yang ada di perekonomian," tegas Purbaya.

Saat ini, lanjutnya, pemerintah juga tengah mencari berbagai instrumen yang dapat memperkuat kinerja sektor manufaktur. Ia mengatakan langkah tersebut dilakukan agar sektor yang selama ini menjadi salah satu penopang utama perekonomian nasional dapat tumbuh lebih baik dan memanfaatkan potensi pemulihan permintaan global.

"Yang jelas kita sedang mencari semua instrumen yang ada akan kita jalankan dalam semester II untuk memastikan manufacturing sector bisa tumbuh dengan lebih baik, memanfaatkan global demand yang mungkin akan recover dalam bulan-bulan ke depan, karena perangkat sudah mulai semakin terdekat di sana," ungkap Purbaya.

Selain itu, Purbaya menyoroti masih rendahnya pertumbuhan ekonomi di sejumlah wilayah Indonesia timur, termasuk Maluku dan Papua. Ia mengakui sumber-sumber pertumbuhan ekonomi di kawasan tersebut belum berkembang secara optimal sehingga pemerintah akan melakukan kajian lebih lanjut bersama Kementerian PPN/Bappenas.

"Sumber pertumbuhan di sana memang belum optimal, kita akan lihat seperti apa. Saya akan konsultasi dengan Bappenas untuk memastikan pertumbuhan di sana lebih cepat," sambung Purbaya.

Purbaya menambahkan perlambatan pertumbuhan di sebagian wilayah Maluku dan Papua bukan fenomena baru. Tapi sebaliknya, daerah yang memiliki basis pertambangan seperti Maluku Utara cenderung mencatat pertumbuhan lebih tinggi dibandingkan wilayah lain yang tidak memiliki sumber daya serupa.

"Kalau Anda ingat presentasi dari Bappenas, kelihatan sekali di Papua, di Maluku, agak lambat, nggak semua, daerah tertentu. Saya yakin Maluku Utara yang punya tambang pasti tumbuhnya kencang, tapi yang lain yang nggak punya itu mungkin lambat," jelas Purbaya..

Sebelumnya Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal II 2026 mencapai 5,29 persen secara tahunan (year on year/yoy). Angka tersebut lebih rendah dibandingkan kuartal sebelumnya, namun lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun lalu. (Id88)

Ikuti WASPADA di Google Berita
Dapatkan berita terbaru langsung dari Google News.
Ikuti
Topik
No topics for this article yet.

Discussion

Bagikan pemikiran dan pendapat Anda

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.
Berita Terkait
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement