Purbaya Waspadai Lonjakan Harga Minyak DuniaPurbaya Waspadai Lonjakan Harga Minyak Dunia

JAKARTA (Waspada.id): Kenaikan harga minyak dunia kembali menjadi perhatian pemerintah. Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa mengakui lonjakan harga energi akibat memanasnya konflik di Timur Tengah berpotensi menekan ruang fiskal pemerintah dan membatasi kemampuan APBN dalam memberikan stimulus bagi pertumbuhan ekonomi.
Menurut Purbaya, kenaikan harga minyak akan memperbesar beban anggaran negara, terutama untuk subsidi energi. Kondisi tersebut membuat pemerintah harus lebih cermat dalam mengelola belanja negara dan menyusun kebijakan fiskal ke depan.
“Belum ada, cuma saya khawatir harga minyak naik terlalu tinggi, jadi ruang fiskal saya untuk ngasih stimulus terbatas, selain subsidi harga BBM ya,” kata Purbaya di Kantor PBNU, Jakarta, Rabu (22/7/2026).
Pernyataan itu disampaikan saat menjawab pertanyaan mengenai kemungkinan perubahan kebijakan fiskal apabila konflik di kawasan Teluk Persia dan Timur Tengah terus berlanjut.
Kekhawatiran tersebut muncul setelah harga minyak dunia melonjak sekitar 2% pada perdagangan Selasa (21/7/2026) dan ditutup di level tertinggi dalam lima pekan. Lonjakan dipicu meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap potensi gangguan pasokan energi akibat memanasnya konflik antara Amerika Serikat dan Iran.
Harga minyak mentah Brent naik US$1,79 atau 2% menjadi US$91,01 per barel, sekaligus menjadi level penutupan tertinggi sejak 10 Juni 2026. Sementara minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) menguat US$1,68 atau 2% menjadi US$84,91 per barel, tertinggi sejak 11 Juni 2026.
Selain konflik AS-Iran, ancaman blokade jalur pelayaran oleh kelompok Houthi terhadap Arab Saudi turut meningkatkan kekhawatiran pasar terhadap keamanan pasokan minyak global.
Purbaya mengungkapkan pemerintah sebenarnya telah menyusun APBN dengan asumsi harga minyak dunia mencapai US$100 per barel. Apabila harga minyak turun ke kisaran US$70 per barel, pemerintah akan memiliki ruang fiskal lebih besar untuk mendorong pertumbuhan ekonomi.
“Tadi kan ketika saya harap harga minyak turun ke US$ 70, sebelumnya kan anggaran saya hitung dengan harga US$ 100, jadi saya ada uang lebih, kira-kira untuk dipakai untuk menumbuhkan ekonomi,” ujarnya.
Namun, apabila harga minyak terus meningkat, ruang fiskal yang sebelumnya diperkirakan tersedia akan menyusut sehingga pemerintah harus lebih selektif dalam mengalokasikan anggaran.
“Sekarang mungkin jadi uangnya agak berkurang, jadi saya mesti hati-hati lagi. Tapi fondasi ekonomi tetap kita terjaga dengan baik,” ucap Purbaya.
Meski dihadapkan pada meningkatnya ketidakpastian global, Purbaya menegaskan fundamental ekonomi Indonesia tetap kuat. Pemerintah pun optimistis stabilitas perekonomian nasional dapat terus terjaga di tengah tekanan eksternal. (invid)































Discussion
Bagikan pemikiran dan pendapat Anda