“Ratapan Sultan Malikussaleh dan Sultanah Nahrasiyah di Balik Pesta 800 Tahun Aceh Utara”


Surat Gugatan dari Liang Sunyi
Terompet ditiup, umbul-umbul dikibarkan, panggung-panggung kemegahan didirikan di seantero negeri. Aceh Utara bersolek, bersuka cita merayakan 800 tahun usianya. Delapan abad perjalanan peradaban yang agung. Para pejabat berpidato tentang kejayaan masa lalu, sementara petinggi kampus berbaris rapi mengklaim diri sebagai penerus obor intelektual bumi Pasai.
Namun, tepat di jantung tempat peradaban itu lahir, di bawah nisan marmer kelabu yang terkepung semak belukar, sepasang air mata spiritual menetes. Sultan Malikussaleh dan Sultanah Nahrasiyah bangkit dari keheningan makamnya, melemparkan selembar gugatan batin tepat di tengah riuh rendah pesta pora generasi penerusnya.
Ratapan Sultan Malikussaleh
“Wahai generasi yang meminjam namaku…” Suara berat itu bergaung dari kedalaman makam Sultan Malikussaleh, raja yang dahulu menyatukan hati dan menyalakan mercusuar iman di Nusantara. Malam ini, suaranya bergetar oleh kesedihan yang tak tertahankan.
“Delapan ratus tahun kau menghitung usia tanah ini. Kau bangga menyebut angka 800 tahun, kau kumpulkan pejabat, kau undang media, kau pamerkan tarian, kau habiskan anggaran demi seremonial angka. Kau klaim bahwa 800 tahun ini adalah bukti ketangguhan peradaban yang kuundangkan dahulu.
Namun lihatlah ke mari! Rumah terakhirku sunyi, pagar makamku berkarat, semak belukar menutupi jejak sejarahku. Mengapa kemegahan anggaran pesta itu tidak mampu memotong belukar kelalaianmu? Kau gunakan namaku untuk megahnya kampusmu, kau jual kisahku untuk legitimasi acaramu, tapi kau biarkan fisik sejarahku mati perlahan. Peringatan 800 tahunmu adalah kepalsuan terbesar jika pendiri negerimu sendiri kau biarkan telantar dalam sepi.”

Makam Sulthanah Nahrasiyah. Waspada.id/Ist
Tangisan Sultanah Nahrasiyah
Di sampingnya, Sultanah Nahrasiyah menatap nanar ke arah kerumunan anak-anak sekolah yang menari di festival, namun hampa akan pengetahuan sejati.
“Delapan abad berlalu, dan hari ini kau merayakannya di atas puing-puing keserakahan. Lihatlah Monumen Pasai itu! Bangunan yang seharusnya menjadi prasasti kejayaan 800 tahun kita, justru berdiri tegak sebagai monumen aib korupsi. Atapnya runtuh karena dijarah, sementara kau sibuk memoles muka di panggung perayaan.
Kau kumpulkan ribuan anak sekolah untuk bersorak dalam pawai, tetapi kau gagal memasukkan kisah kami ke dalam dada mereka. Mereka tahu angka 800, tapi mereka tidak tahu darah, keringat, dan air mata yang membangun pondasi bumi Pasai ini. Kau rayakan hari jadi sebuah negeri, tapi kau biarkan generasinya tumbuh amnesia terhadap leluhurnya sendiri.”
Gugatan dari Liang Sunyi
Dua pasang mata spiritual kini menatap lurus ke arah kampus: Universitas Malikussaleh (Unimal) dan Universitas Islam Negeri - Sulthanah Nahrasiyah (UIN) SUNA, pemerintah daerah, dan pusat. Gugatan moral itu tidak tertulis di kertas, melainkan di hati siapa saja yang masih memiliki nurani:
“Kami tidak meminta upacara mewah. Kami tidak butuh sanjungan setahun sekali. Kami menggugat hak kami sebagai pendahulu yang telah memberikanmu identitas!
Jangan sebut ini perayaan 800 tahun Aceh Utara jika kau belum mampu memugar kehormatan leluhurmu. Bersihkan makam kami dari belukar kelalaianmu, selamatkan monumen itu dari sisa-sisa keserakahanmu, dan ajarkan sejarah kami dengan jujur pada anak cucumu. Jika tidak, bubarkan saja pestamu! Karena 800 tahun bagi kami bukanlah tentang berapa lama tanah ini berdiri, melainkan tentang seberapa jauh kau telah mengkhianati warisan yang kami titipkan.” (Maimun Asnawi, S.HI.,M.Kom.I/WASPADA.id)












Discussion
Bagikan pemikiran dan pendapat Anda