Breaking News
Memuat breaking news...

Redakan Nyeri Luka Perineum Pada Ibu Pascamelahirkan Dengan Kompres Hangat

Redaksi
Redaksi
Selasa, 18 Agustus 2026 - 4.46 PM WIB
Redakan Nyeri Luka Perineum Pada Ibu Pascamelahirkan Dengan Kompres Hangat
Tim Pengabdian Masyarakat Jurusan Keperawatan Poltekkes Kemenkes Medan memberikan edukasi dan pelatihan penanganan nyeri luka perineum secara nonfarmakologis kepada ibu hamil. Waspada.id/ist
Eksklusif di WhatsApp
Dapatkan berita terkini langsung di layar HP Anda
Waspada+ Gabung
Reading Comfort
adjust the font size

MEDAN (Waspada,id): Ibu nifas sering mengalami nyeri akibat luka pada perineum yang terjadi selama proses persalinan, baik berupa robekan spontan maupun akibat tindakan episiotomi. Robekan tersebut umumnya terjadi pada area antara vulva dan anus, dengan sejumlah faktor risiko, antara lain paritas, berat badan bayi, dan teknik meneran.

Data Departemen Kesehatan RI menunjukkan sekitar 75 persen ibu yang melahirkan secara pervaginam mengalami laserasi perineum. Pada 2021, dari 2.001 persalinan spontan pervaginam, tercatat 57 persen ibu memerlukan penjahitan perineum, terdiri atas 28 persen akibat episiotomi dan 29 persen akibat robekan spontan (Tamar, 2024).

Nyeri luka perineum setelah melahirkan dapat menimbulkan ketidaknyamanan saat duduk, berdiri, berjalan maupun bergerak. Kondisi tersebut dapat menghambat proses pemulihan ibu, mengganggu eliminasi, serta meningkatkan risiko terjadinya perdarahan pascapersalinan.

Selain itu, nyeri perineum juga dapat memengaruhi pola istirahat, kebiasaan makan, suasana hati, kemampuan melakukan pekerjaan rumah tangga, hingga interaksi sosial ibu nifas. Tingkat nyeri dapat dipengaruhi oleh derajat laserasi perineum. Apabila tidak ditangani dengan baik, kondisi tersebut dapat mengganggu pemenuhan kebutuhan dasar ibu nifas, termasuk kemampuan merawat bayi (Rahmadenti, 2020).

Kompres Hangat sebagai Terapi Nonfarmakologis

Salah satu upaya nonfarmakologis yang dapat digunakan untuk membantu meredakan nyeri luka perineum adalah kompres hangat.

Secara fisiologis, pemberian panas dapat menyebabkan vasodilatasi atau pelebaran pembuluh darah sehingga aliran darah lokal meningkat. Kondisi tersebut membantu mendukung proses pemulihan jaringan serta mempercepat pengeluaran zat-zat yang berkaitan dengan proses inflamasi dan rasa nyeri.

Kompres hangat juga dapat memberikan stimulasi pada serabut saraf yang berperan dalam mekanisme Gate Control Theory, sehingga transmisi impuls nyeri menuju otak dapat berkurang. Selain itu, panas dapat membantu mengurangi ketegangan dan spasme otot di sekitar area perineum.

Prinsip tersebut menjadi dasar penerapan kompres hangat berbahan gel dalam kegiatan pengabdian masyarakat sebagai salah satu metode nonfarmakologis yang sederhana dan mudah dipraktikkan. Penggunaan gel yang dihangatkan pada suhu 40–45°C diperkenalkan kepada peserta sebagai terapi komplementer untuk membantu mengurangi nyeri luka perineum.

Edukasi di Wilayah Puskesmas Mulyorejo

Di wilayah kerja Puskesmas Mulyorejo, Kabupaten Deli Serdang, tercatat 529 ibu hamil yang berpotensi mengalami robekan perineum saat persalinan.

Hasil survei yang dilakukan terhadap kader dan ibu hamil di wilayah tersebut menunjukkan bahwa edukasi mengenai penggunaan kompres hangat untuk membantu mengatasi nyeri akibat luka perineum belum pernah diberikan.

Melihat kondisi tersebut, tim pengabdian masyarakat Jurusan Keperawatan Poltekkes Kemenkes Medan melaksanakan kegiatan edukasi dan demonstrasi penggunaan kompres hangat berbahan gel.

Kegiatan dilaksanakan di wilayah kerja Puskesmas Mulyorejo pada periode Maret hingga September 2026.

Sebanyak tiga kader kesehatan dan 30 ibu hamil menjadi sasaran kegiatan.

Tim pengabdi terdiri atas satu ketua dan dua anggota yang merupakan dosen tetap Jurusan Keperawatan Poltekkes Kemenkes Medan.

Peserta Dilatih Secara Langsung

Kegiatan diawali dengan tahap perkenalan. Tim pengabdi menyampaikan tujuan kegiatan serta memberikan pemahaman mengenai pentingnya penanganan nyeri luka perineum secara nonfarmakologis.

Selanjutnya, peserta mengikuti demonstrasi dan pelatihan secara langsung. Mereka diberikan penjelasan mengenai cara menyiapkan kompres hangat berbahan gel, termasuk proses menghangatkan gel pada suhu 40–45°C.

Peserta juga dilatih mengenai cara mengaplikasikan kompres pada area perineum, termasuk durasi dan frekuensi penggunaan sesuai panduan yang diberikan oleh tim pengabdi.

Untuk memperkuat pemahaman peserta, kegiatan ditutup dengan pembagian leaflet yang memuat prosedur penggunaan kompres hangat. Leaflet tersebut dapat digunakan sebagai panduan ketika peserta melakukan praktik secara mandiri di rumah setelah persalinan.

Para ibu hamil menjadi sasaran kegiatan. Waspada.id/ist

Pengetahuan dan Keterampilan Peserta Meningkat

Hasil kegiatan menunjukkan bahwa peserta mampu melakukan redemonstrasi pembuatan dan penggunaan kompres hangat berbahan gel dengan baik setelah mengikuti sesi pelatihan.

Para ibu hamil juga menunjukkan peningkatan pemahaman mengenai manfaat kompres hangat sebagai terapi komplementer untuk membantu mengatasi nyeri akibat laserasi perineum.

Kegiatan tersebut diharapkan dapat menjadi bekal bagi ibu hamil dalam mempersiapkan perawatan setelah persalinan, sekaligus meningkatkan kemampuan mereka dalam memilih metode nonfarmakologis yang sederhana untuk membantu mengurangi ketidaknyamanan akibat luka perineum.

Melalui demonstrasi terapi kompres hangat berbahan gel, kegiatan pengabdian masyarakat ini berhasil meningkatkan pengetahuan dan keterampilan ibu hamil di wilayah kerja Puskesmas Mulyorejo, Kabupaten Deli Serdang, dalam penanganan nyeri luka perineum secara nonfarmakologis.

Kompres hangat dapat menjadi salah satu pilihan terapi komplementer yang relatif sederhana, terjangkau, dan mudah diterapkan. Namun, penggunaannya tetap perlu memperhatikan suhu yang aman serta kondisi luka, dan sebaiknya mengikuti petunjuk tenaga kesehatan, khususnya pada ibu yang baru menjalani persalinan.(Penulis: Elny Lorensi Silalahi, Yufdel, Surita Ginting (Dosen Poltekkes Kemenkes Medan).

Ikuti WASPADA di Google Berita
Dapatkan berita terbaru langsung dari Google News.
Ikuti
Topik
No topics for this article yet.

Discussion

Bagikan pemikiran dan pendapat Anda

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.
Berita Terkait
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement