Breaking News
Memuat breaking news...

Regionalisme ASEAN di Tengah Rivalitas AS–Tiongkok

Redaksi
Redaksi
Jumat, 4 September 2026 - 8.56 PM WIB
Regionalisme ASEAN di Tengah Rivalitas AS–Tiongkok
Eksklusif di WhatsApp
Dapatkan berita terkini langsung di layar HP Anda
Waspada+ Gabung
Reading Comfort
adjust the font size
Advertisement

Oleh: Dr. Agus Marwan, S.IP, M.SP

Rivalitas geopolitik antara Amerika Serikat dan Tiongkok menjadi salah satu fenomena menarik dalam hubungan internasional saat ini. Persaingan kedua negara besar ini tidak hanya terjadi di tingkat global. Persaingan juga sangat kuat di kawasan Asia-Pasifik. Amerika Serikat ingin menjaga dominasinya dengan strategi Indo-Pacific yang menekankan kebebasan navigasi, penguatan aliansi keamanan dengan negara-negara seperti Jepang, Korea Selatan, dan Australia, serta keterlibatan aktif dalam forum multilateral. Di sisi lain, Tiongkok muncul sebagai kekuatan baru dengan memperluas pengaruh ekonominya lewat Belt and Road Initiative (BRI), investasi besar di Asia Tenggara, dan klaim teritorial yang makin tegas di Laut Cina Selatan. Rivalitas ini menciptakan dinamika rumit yang membuat Asia Tenggara menjadi kawasan utama perebutan pengaruh.

Letak geografis Asia Tenggara berada di jalur silang perdagangan internasional. Kawasan Laut Cina Selatan menjadi lintasan lebih dari sepertiga arus perdagangan dunia. Hal ini membuat wilayah ini penting dalam dinamika geopolitik global. Jumlah penduduknya lebih dari 600 juta orang dan potensi ekonomi terus bertumbuh. Asia Tenggara berperan sebagai pasar konsumsi dan pusat produksi dunia. Namun, perbedaan sistem politik, model pemerintahan, dan tingkat pembangunan ekonomi antarnegara anggota ASEAN membuat kawasan ini mudah terkena tekanan luar atau perpecahan di dalam. Karena itu, Asia Tenggara tidak hanya menjadi objek perebutan pengaruh. Kawasan ini juga punya kemampuan sebagai pelaku yang bisa menentukan arah perkembangan wilayahnya.

Dalam kerangka tersebut, ASEAN berperan sebagai organisasi regional utama yang berusaha menjaga stabilitas dan solidaritas kawasan. Sejak berdiri pada tahun 1967, ASEAN membangun prinsip-prinsip dasar seperti non-interference, musyawarah, dan konsensus yang dikenal sebagai ASEAN Way. Prinsip-prinsip ini membuat ASEAN tetap bertahan di tengah perbedaan politik dan ekonomi anggotanya. Namun, di tengah persaingan Amerika Serikat dan Tiongkok, ASEAN menghadapi tantangan yang semakin rumit. ASEAN harus menjaga netralitas tanpa kehilangan arti, memperkuat integrasi internal agar tidak terbelah oleh kepentingan luar, serta menegaskan posisinya sebagai penyeimbang geopolitik dan mitra global dalam hubungan internasional.

Konsep Regionalisme dan Globalisme

Regionalisme adalah salah satu fenomena penting dalam studi hubungan internasional yang menyoroti pentingnya kerja sama antarnegara di suatu kawasan untuk menghadapi tantangan bersama. Bentuk regionalisme bisa berupa integrasi ekonomi, solidaritas politik, atau kerja sama di bidang keamanan. Louise Fawcett dan Andrew Hurrell (1995) menyebut bahwa regionalisme adalah respons terhadap globalisasi, sekaligus alat untuk membentuk globalisasi. Ini menunjukkan bahwa regionalisme tidak berdiri sendiri. Regionalisme muncul karena kebutuhan kawasan untuk menyesuaikan diri dengan arus global dan ikut membentuk dinamika global. Dalam praktiknya, regionalisme bersifat pragmatis dan fleksibel. Regionalisme bergantung pada kepentingan negara anggota dan kondisi geopolitik kawasan.

Sementara itu, globalisme adalah pandangan yang menekankan keterhubungan dunia secara menyeluruh melalui perdagangan, teknologi, komunikasi, dan budaya. Globalisme menunjukkan proses integrasi global yang melampaui batas negara atau kawasan. Peter J. Katzenstein (2005) menyatakan bahwa Asia adalah dunia kawasan. Di sana, regionalisme dan globalisme saling bersinggungan. Hal ini menciptakan peluang dan juga kerentanan. Pernyataan ini menunjukkan bahwa globalisme tidak hanya membuka peluang seperti integrasi ekonomi dan pertukaran budaya. Globalisme juga membawa risiko seperti ketimpangan pembangunan, dominasi kekuatan besar, dan hilangnya identitas lokal. Karena itu, globalisme menjadi arus besar yang memaksa kawasan untuk menyesuaikan diri. Arus ini juga memunculkan perlawanan dari aktor lokal dan regional.

ASEAN adalah contoh nyata dari interaksi langsung antara regionalisme dan globalisme. Sejak berdiri pada tahun 1967, ASEAN mengembangkan prinsip dasar seperti non-interference, musyawarah, dan konsensus yang dikenal sebagai ASEAN Way. Prinsip ini membuat ASEAN bisa bertahan di tengah perbedaan politik dan ekonomi di antara negara anggotanya. Mark Beeson (2005) menekankan bahwa regionalisme ASEAN bersifat khas. Ciri utamanya bukan pada integrasi hukum, melainkan pada pembangunan konsensus yang bersifat pragmatis.

Dalam konteks globalisme, ASEAN berperan sebagai pusat regional yang menghubungkan kepentingan lokal, regional, dan global. Lewat inisiatif seperti ASEAN Economic Community (AEC), ASEAN Free Trade Area (AFTA), serta keikutsertaan dalam forum global seperti PBB, WTO, dan G20, ASEAN menunjukkan kemampuannya sebagai pemain penting dalam tatanan global. Karena itu, ASEAN tidak hanya berfungsi sebagai organisasi kawasan. ASEAN juga menjadi bagian penting dari sistem globalisme yang lebih luas.

Rivalitas AS–Tiongkok di Asia Tenggara

Rivalitas antara Amerika Serikat dan Tiongkok adalah salah satu dinamika paling penting dalam politik internasional abad ke-21. Situasi ini membuat Asia Tenggara menjadi arena utama dalam persaingan kedua negara.
Dalam bidang politik dan keamanan, Laut Cina Selatan menjadi titik paling penting. Amerika Serikat menekankan kebebasan navigasi di jalur perdagangan internasional. Sementara itu, Tiongkok memperkuat klaimnya dengan membangun instalasi militer di wilayah sengketa. Negara-negara ASEAN berada dalam posisi sulit. Mereka harus menjaga hubungan baik dengan kedua pihak, tetapi juga mempertahankan kedaulatan dan stabilitas kawasan. Untuk meredakan ketegangan, ASEAN memakai diplomasi multilateral lewat forum seperti ASEAN Regional Forum (ARF) dan East Asia Summit (EAS).

Rivalitas ini juga berdampak besar pada sektor ekonomi. Tiongkok sudah menjadi mitra dagang utama bagi sebagian besar negara ASEAN. Sementara itu, Amerika Serikat tetap berperan sebagai investor penting dan pasar ekspor strategis. ASEAN harus menyeimbangkan kepentingan ekonomi dengan kedua pihak agar tidak terjebak dalam ketergantungan pada satu negara saja. Prinsip pragmatis yang menjadi ciri khas ASEAN memberi fleksibilitas dalam menghadapi tekanan ekonomi global, termasuk persaingan antara AS dan Tiongkok.
Selain itu, persaingan kedua negara juga mempengaruhi diplomasi budaya dan soft power. Amerika Serikat menonjolkan nilai demokrasi dan kebebasan. Sementara itu, Tiongkok menekankan stabilitas politik dan pembangunan ekonomi. ASEAN harus bisa menavigasi dua arus nilai ini sambil tetap menjaga identitas kawasan. Posisi ASEAN ada di persimpangan antara regionalisme dan globalisme. Interaksi dengan AS dan Tiongkok membuka peluang integrasi global, tetapi juga menimbulkan kerentanan geopolitik.

Secara keseluruhan, rivalitas AS dan Tiongkok di Asia Tenggara membawa tantangan dari banyak sisi bagi ASEAN. Tantangan ini mencakup bidang politik-keamanan, ekonomi, dan sosial-budaya. Namun, lewat prinsip ASEAN Way yang menekankan konsensus dan tidak ikut campur urusan dalam negeri, ASEAN berusaha menjaga stabilitas kawasan. ASEAN juga menegaskan posisinya sebagai penyeimbang geopolitik. Dengan cara ini, ASEAN tetap penting sebagai aktor regional yang bisa mengelola rivalitas global dengan cara yang membangun.

Peran ASEAN di Tengah Rivalitas AS-Tiongkok

Rivalitas antara Amerika Serikat dan Tiongkok menempatkan ASEAN pada posisi yang strategis dan penuh tantangan. Sebagai organisasi regional, ASEAN tidak bisa menghindari dampak persaingan dua kekuatan besar itu. Namun, ASEAN punya peran penting dalam menjaga stabilitas kawasan, memperkuat solidaritas internal, dan menegaskan kedudukannya dalam sistem global.

Dalam bidang politik dan keamanan, ASEAN berperan sebagai tempat diplomasi bersama yang memberi negara-negara Asia Tenggara cara menghadapi persaingan AS dan Tiongkok tanpa harus masuk ke konflik langsung. Forum seperti ASEAN Regional Forum (ARF) dan East Asia Summit (EAS) menjadi alat utama untuk membangun komunikasi, menurunkan ketegangan, dan mendorong penyelesaian damai atas isu-isu sensitif, termasuk sengketa di Laut Cina Selatan. Dengan prinsip konsensus dan non-interference, ASEAN berusaha menjaga netralitas dan memastikan stabilitas kawasan di tengah tekanan dari luar.

Dalam bidang ekonomi, ASEAN berperan sebagai mitra penting bagi kedua kekuatan besar. Tiongkok menjadi mitra dagang utama bagi sebagian besar negara anggota. Amerika Serikat tetap berperan sebagai investor penting dan pasar ekspor yang besar. Untuk menghindari ketergantungan pada satu pihak, ASEAN memperkuat integrasi internal lewat ASEAN Economic Community (AEC) serta ikut dalam perjanjian perdagangan regional seperti Regional Comprehensive Economic Partnership (RCEP). Langkah ini bertujuan menyeimbangkan hubungan ekonomi dengan kedua pihak dan juga meningkatkan daya saing kawasan dalam rantai pasok global.
Selain politik dan ekonomi, ASEAN juga punya peran dalam diplomasi budaya dan soft power. Prinsip ASEAN Way yang menekankan musyawarah dan konsensus menjadi dasar penting untuk menjaga identitas kawasan di tengah masuknya nilai-nilai dari Amerika Serikat, yang menekankan demokrasi dan kebebasan. Tiongkok menekankan stabilitas politik dan pembangunan ekonomi. Melalui program pertukaran pendidikan, kerja sama sosial-budaya, dan agenda lingkungan, ASEAN berusaha memperkuat solidaritas internal. ASEAN juga ingin menunjukkan kontribusi positif di dunia internasional.

Lebih jauh, ASEAN berperan sebagai penyeimbang geopolitik. Meskipun tidak memiliki kekuatan militer sebesar Amerika Serikat atau Tiongkok, ASEAN memiliki kekuatan normatif dan diplomatik. Dengan prinsip netralitas, ASEAN berupaya memastikan bahwa Asia Tenggara tidak hanya menjadi arena perebutan pengaruh. ASEAN juga ingin menjadi aktor yang menentukan arah masa depan kawasan. Peran ini membuat ASEAN tetap penting sebagai organisasi regional yang mampu mengelola persaingan global dengan pendekatan yang praktis dan terbuka.

Kedudukan ASEAN dalam Globalisme

Kedudukan ASEAN dalam arus globalisme berkaitan erat dengan perannya sebagai aktor regional yang berinteraksi langsung dengan dinamika internasional. ASEAN tidak hanya berfungsi sebagai wadah kerja sama antarnegara Asia Tenggara. ASEAN juga menjadi bagian penting dari sistem global yang lebih luas. Dalam konteks globalisme, peran ASEAN terlihat sebagai penyeimbang geopolitik, mitra ekonomi dunia, dan aktor normatif.

Sebagai penyeimbang geopolitik, ASEAN menempati posisi penting yang rawan terhadap tekanan persaingan Amerika Serikat dan Tiongkok. Lewat diplomasi multilateral, kesepakatan bersama, dan prinsip netral, ASEAN berusaha menjaga stabilitas kawasan dan memastikan Asia Tenggara tidak hanya menjadi tempat perebutan pengaruh. ASEAN ingin kawasan ini menjadi pemain yang bisa mengelola persaingan global dengan cara yang membangun. Peran ini memperlihatkan posisi ASEAN dalam sistem keamanan internasional, terutama di tengah naiknya ketegangan di Laut Cina Selatan.

Dalam bidang ekonomi, ASEAN telah tumbuh menjadi salah satu pusat pertumbuhan dunia. Dengan populasi lebih dari 600 juta orang dan letak strategis di jalur perdagangan internasional, ASEAN berfungsi sebagai pasar konsumen besar dan bagian penting dari rantai pasok dunia. Melalui integrasi ekonomi kawasan seperti ASEAN Economic Community (AEC) serta keterlibatan dalam berbagai perjanjian perdagangan regional dan global, ASEAN menegaskan posisinya sebagai mitra ekonomi yang penting. Hal ini menarik lebih banyak investasi asing dan memperkuat peran ASEAN dalam menjaga stabilitas ekonomi internasional.

ASEAN juga sering dipandang sebagai aktor normatif dalam tata dunia. Ada nilai yang dibawa oleh ASEAN Way, seperti musyawarah, konsensus, dan prinsip tidak ikut campur urusan dalam negeri. Cara ini kerap dijadikan contoh lain untuk mengatur hubungan antarnegara. Lewat landasan itu, ASEAN menekankan kedamaian, keterbukaan, dan kerja sama. Karena itu, peran normatifnya ikut menguatkan alasan ASEAN tetap dianggap sah sebagai organisasi regional. ASEAN tidak hanya fokus ke urusan di dalam kawasan, tapi juga memberi andil pada aturan global yang lebih tertata dan lebih ramah bagi banyak pihak.

Tantangan ASEAN

Meski ASEAN sudah berkontribusi pada kestabilan kawasan dan ikut membentuk arah politik global, masalahnya tetap banyak. Hambatan datang dari dua arah. Ada yang tumbuh dari dalam kawasan. Ada juga yang datang dari luar. Selain itu, isu lintas negara membuat kerja ASEAN makin berat.
Salah satu kendala yang paling menonjol adalah beda kepentingan tiap negara anggota. Negara anggota ASEAN tidak seragam. Latar politik mereka berbeda. Situasi ekonomi juga tidak sama. Sistem pemerintahan pun beragam. Akibatnya, keputusan sering jadi lambat. Alasannya karena semua harus lewat jalan konsensus. Model ini memang menjaga rasa seiring sejalan. Namun sisi lain juga muncul. ASEAN jadi kurang lincah saat ada kejadian yang perlu tanggapan cepat. Contohnya saat ketegangan di Laut Cina Selatan atau saat krisis politik di Myanmar.

Di waktu yang sama, tekanan dari Amerika Serikat dan Tiongkok ikut memperbesar rumitnya posisi ASEAN. Dua negara besar ini punya kepentingan kuat di Asia Tenggara. Poinnya bukan hanya soal keamanan. Ekonomi juga ikut menentukan arah langkah mereka. Di kondisi seperti ini, negara anggota ASEAN sering ada pada situasi serba sulit. Mereka butuh keterlibatan Amerika Serikat, tetapi pada saat yang sama juga harus mempertimbangkan kepentingan Tiongkok.

Hal penting lain datang dari sisi kelembagaan ASEAN. Jika dibandingkan dengan Uni Eropa, bentuk organisasinya jauh lebih longgar. Untuk integrasi, ASEAN lebih sering berada pada tahap koordinasi dan kerja sama. Belum ada jenjang supranasional yang bisa membuat keputusan bersama bersifat wajib. Akibatnya, saat krisis datang, ASEAN sering kesulitan bergerak cepat dan menyatukan langkah.

Kemudian, ASEAN juga harus bergulat dengan persoalan lintas negara yang makin rumit. Di Laut Cina Selatan, sengketa memicu gesekan dengan beberapa pihak negara anggota serta Tiongkok. Dari arah lain, krisis politik di Myanmar membuat ASEAN berada di persimpangan. Mereka harus menjaga aturan non-interference, tapi tetap ingin nama baik organisasi tidak jatuh. Perubahan iklim juga terasa nyata, terutama bagi pangan, energi, dan kondisi lingkungan di kawasan. Belum selesai sampai di situ, keamanan siber mulai jadi gangguan baru yang bisa merusak stabilitas ekonomi dan politik.

Bila dirangkai, masalah ASEAN tidak tunggal. Ada tarik ulur kepentingan di dalam, ada dorongan geopolitik dari luar, ada juga kelemahan di sisi lembaga. Selain itu, isu lintas negara terus menambah beban. Tetapi situasi ini juga bisa jadi dorongan bagi ASEAN untuk membenahi integrasi, menambah kemampuan kelembagaan, dan memperjelas perannya di tingkat kawasan saat arus globalisme terus berjalan.

Epilog

Persaingan Amerika Serikat dan Tiongkok di Asia Tenggara membuat ASEAN berada di situasi yang sulit sekaligus penting. Di satu sisi ada tekanan dari luar. Di sisi lain, ada tarik menarik di dalam kawasan sendiri. Walau begitu, ASEAN terus berusaha tetap relevan. Caranya lewat musyawarah, mufakat, dan sikap untuk tidak ikut campur urusan negara lain. Itulah yang sering disebut ASEAN Way. Memang, cara ini membuat keputusan tidak bisa datang cepat. Tapi di saat yang sama, ia menjaga rasa saling percaya antar anggota.

Ke depan, pekerjaan ASEAN tidak akan berhenti. Sengketa Laut Cina Selatan masih menjadi perhatian. Krisis politik di Myanmar juga belum selesai. Selain itu, ada masalah lintas batas yang makin terasa, seperti perubahan iklim dan keamanan siber. Karena itu, ASEAN perlu membenahi cara kerja dan memperkuat lembaga yang ada. Integrasi regional juga harus terus didorong agar lebih nyata dalam kehidupan kawasan. ASEAN perlu terlihat bukan hanya sebagai pihak yang terkena dampak. ASEAN juga perlu berperan saat arah politik dan ekonomi dunia berubah.

Jadi, regionalisme ASEAN saat berhadapan dengan AS dan Tiongkok tidak cuma soal bertahan. Ini juga soal menyesuaikan diri. ASEAN perlu berubah sesuai situasi tanpa meninggalkan prinsipnya. Dengan diplomasi yang praktis, dorongan untuk ekonomi kawasan, dan sikap yang tetap pada nilai yang disepakati, ASEAN punya kesempatan menjadi penyeimbang di kawasan. ASEAN juga bisa menjadi mitra global yang membantu, bukan sekadar penonton. Masa depan Asia Tenggara akan sangat terkait dengan kemampuan ASEAN menangani rivalitas besar itu, sambil tetap menjaga persaudaraan dan keterbukaan.

Penulis adalah: Dosen Program Studi Ilmu Politik FISIP USU.

Ikuti WASPADA di Google Berita
Dapatkan berita terbaru langsung dari Google News.
Ikuti
Topik

Discussion

Bagikan pemikiran dan pendapat Anda

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.
Berita Terkait
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement