Breaking News
Memuat breaking news...

Rekonstruksi Identitas Insan Cita Pada Era Krisis

Redaksi
Redaksi
Minggu, 10 Mei 2026 - 9.47 PM WIB
Rekonstruksi Identitas Insan Cita Pada Era Krisis
Eksklusif di WhatsApp
Dapatkan berita terkini langsung di layar HP Anda
Waspada+ Gabung
Reading Comfort
adjust the font size

Oleh: Dr. Suheri Harahap, M.Si

Meneropong Paradigma Green Islam KAHMI Sumatera Utara Menuju Indonesia Hijau

Bulan Mei 2026 menjadi momentum dialektika yang sangat krusial bagi ekosistem intelektual di Sumatera Utara. Musyawarah Wilayah (Musywil) Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (KAHMI) Sumatera Utara bukan sekadar ajang sirkulasi kepemimpinan elite, melainkan sebuah laboratorium gagasan untuk mengkalibrasi ulang arah pergerakan umat dan bangsa. Sebagai bagian dari keluarga besar pergerakan mahasiswa Islam—dalam kapasitas saya sebagai alumni Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM)—saya menyampaikan tahniah, selamat dan sukses atas terselenggaranya Musywil KAHMI Sumatera Utara.

Secara historis dan sosiologis, eksistensi KAHMI tidak pernah absen dalam mewarnai kanvas kemajuan bangsa. KAHMI telah bertransformasi menjadi melting pot (kawah candradimuka) yang melahirkan para teknokrat, birokrat, politisi, hingga begawan akademik. Konstribusi KAHMI dalam menjaga pilar demokrasi, merawat pluralisme, dan mengawal transisi reformasi adalah fakta empiris yang tidak bisa dibantah. Namun, di tengah akselerasi zaman, tantangan kebangsaan tidak lagi didominasi oleh isu-isu struktural-politik semata. Ancaman terbesar yang mengintai peradaban hari ini adalah krisis ekologi dan degradasi lingkungan.

Beranjak dari realitas tersebut, Musywil KAHMI Sumatera Utara 2026 harus menjadi titik anjak (starting point) bagi pergeseran paradigma pergerakan. Diperlukan sebuah rekonstruksi identitas KAHMI dari yang selama ini kental dengan corak "Islam Politik" atau "Islam Struktural", menuju paradigma "Green Islam" (Islam Hijau).

Teleologi Insan Cita dan Indonesia Hijau

Filosofi dasar perkaderan HMI yang melekat pada DNA setiap alumni KAHMI adalah mewujudkan Insan Cita—insan akademis, pencipta, pengabdi yang bernafaskan Islam. Dalam konteks kekinian, definisi "pengabdi" harus diperluas spektrumnya. Pengabdian tertinggi hari ini bukan sekadar menduduki jabatan publik, melainkan menjadi Khalifah fil Ardh (pemelihara bumi) yang menjaga keseimbangan ekosistem (Indonesia Hijau).

Rekonstruksi identitas KAHMI menuju Indonesia Hijau meniscayakan lahirnya Eco-Intellectuals (intelektual ekologis). KAHMI harus menjadi garda terdepan yang mengampanyekan kebijakan publik pro-lingkungan, menolak eksploitasi oligarki atas sumber daya alam yang merugikan rakyat, dan mempromosikan energi terbarukan. Identitas Insan Cita harus bermutasi menjadi Insan Kamil Ekologis—sosok paripurna yang menyadari bahwa merusak alam adalah bentuk kezaliman teologis yang nyata.

Dalam perspektif Maqasid Syariah kontemporer, perlindungan terhadap lingkungan (Hifz al-Bi'ah) telah diakui sebagai salah satu tujuan utama syariat. KAHMI, dengan jejaring alumninya yang tersebar di struktur legislatif maupun eksekutif, memiliki privilese (hak istimewa) untuk mengeksekusi Hifz al-Bi'ah ini ke dalam regulasi negara (Undang-Undang) yang mengikat dan memaksa.

Green Islam dan Episentrum Sumatera Utara

Secara spesifik, Sumatera Utara adalah miniatur ekologi Indonesia. Provinsi ini dikaruniai lanskap keanekaragaman hayati yang luar biasa, mulai dari ekosistem Taman Nasional Gunung Leuser hingga pesona magis Danau Toba. Namun di saat yang sama, Sumatera Utara juga berhadapan dengan ancaman deforestasi, konflik agraria perkebunan, krisis air bersih, dan tata ruang yang kerap mengorbankan ekologi demi dalih investasi.

Di sinilah urgensi KAHMI Sumatera Utara untuk membumikan konsep Green Islam. Musywil Mei 2026 ini diharapkan tidak hanya melahirkan rekomendasi politik, tetapi juga menghasilkan "Manifesto Ekologi KAHMI Sumatera Utara". Manifesto ini harus menjadi dokumen strategis yang mendesak pemerintah daerah untuk mengedepankan preventive justice (keadilan preventif) dalam pemberian izin konsesi lahan, mengawal tata kelola kelistrikan dan energi daerah agar beralih ke energi bersih, serta memberdayakan ekonomi umat berbasis ekologi (seperti green agriculture dan ekowisata halal).

KAHMI Sumatera Utara harus memelopori gerakan dakwah ekologi dari masjid ke masjid, dari kampus ke kampus. Dakwah tidak lagi sekadar menyoal ritual ubudiyah, tetapi juga harus menyentuh urusan pengelolaan sampah, penyelamatan sungai, dan perlawanan terhadap korupsi sumber daya alam.

Penutup: Sinergi Lintas Pergerakan

Sebagai sesama anak kandung pergerakan Islam, IMM dan KAHMI (serta elemen pergerakan lainnya) adalah dua sisi mata uang dari satu cita-cita yang sama: mewujudkan baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur. Perbedaan warna bendera (fastabiqul khairat) justru adalah modal sosial yang luar biasa jika disinergikan untuk agenda penyelamatan lingkungan.

Dari rahim Musywil KAHMI Sumatera Utara 2026 ini, saya menaruh harapan besar akan lahirnya resolusi-resolusi bernas yang mengukuhkan posisi KAHMI bukan sekadar sebagai "pemain politik", tetapi sebagai "penyelamat peradaban".

Selamat bermusyawarah, saudara-saudaraku di KAHMI Sumatera Utara. Mari bersama-sama kita dekonstruksi ego sektarian, dan kita bangun Indonesia Hijau melalui spirit Green Islam. Yakinkan dengan Iman, Usahakan dengan Ilmu, Sampaikan dengan Amal. Billahi fii sabililhaq, fastabiqul khairat!

Penulis adalah Akademisi & Alumni Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah/IMM Sumatera Utara

Ikuti WASPADA di Google Berita
Dapatkan berita terbaru langsung dari Google News.
Ikuti
Topik

Discussion

Bagikan pemikiran dan pendapat Anda

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.
Berita Terkait
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement