Rektor UT Ajak Mahasiswa Baru Mandiri dan Berintegritas Menuju Indonesia Emas 2045Rektor UT Ajak Mahasiswa Baru Mandiri dan Berintegritas Menuju Indonesia Emas 2045

TANGERANG SELATAN (Waspada.id): Rektor Universitas Terbuka (UT) Prof. Dr. Ali Muktiyanto mengajak mahasiswa baru untuk memanfaatkan kemerdekaan belajar yang ditawarkan UT dengan membangun kemandirian, disiplin, dan integritas akademik.
Hal tersebut disampaikan dalam acara Rektor Menyapa Tahun Akademik 2026/2027 di UT Convention Center (UTCC), Tangerang Selatan, Rabu (19/8/2026). Dalam kesempatan itu Laksamana TNI (Purn) Prof. Dr. Marsetio, M.M yang menjabat Penasehat Khusus Menteri Pendidikan Tinggi, Sains Dan Teknologi hadir memberikan kuliah umum.
Dalam sambutannya, Ali mengatakan sistem pembelajaran UT memberikan keleluasaan kepada mahasiswa untuk belajar tanpa dibatasi ruang, waktu, dan kondisi geografis. Kemudahan tersebut didukung ekosistem pembelajaran digital yang memungkinkan mahasiswa mengakses ruang kelas, bahan ajar, perpustakaan digital, tutorial, hingga berbagai layanan akademik secara fleksibel.
“Universitas Terbuka telah menyediakan sebuah ekosistem pembelajaran yang sangat canggih. Ruang kelas digital yang mudah diakses 24 jam sehari, tujuh hari seminggu, dari mana pun Saudara berada, baik di pelosok desa, perkotaan, hingga mancanegara,” ujar Ali di hadapan mahasiswa.
Mahasiswa baru Tahun ajaran 2026/2027 di UT mencapai lebih dari 180 ribu orang. Total mahasiswa UT saat ini mencapai lebih dari 850 ribu orang.
Menurutnya, kemudahan fasilitas tersebut harus diimbangi dengan daya juang mahasiswa. Kebebasan belajar di UT justru menuntut mahasiswa memiliki tanggung jawab lebih besar terhadap proses akademiknya.
“Kemewahan fasilitas tanpa daya juang dari diri sendiri hanya akan menjadi pajangan dan kehilangan makna,” tegasnya.
Ali menjelaskan, menjadi mahasiswa UT berarti menjadi nakhoda bagi perjalanan akademik sendiri. Mahasiswa harus mampu mengatur waktu antara kuliah, pekerjaan, dan keluarga, sekaligus memiliki kedisiplinan untuk membaca bahan ajar dan mengembangkan pengetahuan.
Ia menekankan bahwa pembelajar mandiri bukan berarti belajar dalam kesendirian. Pembelajar mandiri adalah pribadi yang memiliki self-discipline, self-motivation, dan self-direction yang kuat.
Belajar Sepanjang Hayat
Dalam kesempatan tersebut, Ali juga mengingatkan mahasiswa baru bahwa belajar tidak semata-mata bertujuan memperoleh ijazah dan pekerjaan. Pendidikan, menurutnya, merupakan proses yang harus berlangsung sepanjang hayat.
“Tidak ada kata pensiun dalam menuntut ilmu. Tidak ada kata terlambat untuk mencerdaskan diri,” katanya.
Ia mengajak mahasiswa menjadikan semangat lifelong learning sebagai bagian dari perjalanan akademik di UT. Setiap perjuangan untuk membaca modul, memahami konsep yang sulit, dan belajar di tengah kesibukan merupakan investasi untuk meningkatkan kualitas diri.
Ali juga mengutip ayat Al-Qur'an, “Yarfa'illahu alladzina amanu minkum walladzina utul ilma darajat,” yang bermakna bahwa Allah akan meninggikan derajat orang-orang yang beriman dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.
“Ketika Saudara berjuang memahami konsep-konsep sulit di sela-sela kesibukan pekerjaan, ingatlah bahwa di setiap detik perjuangan itu, derajat kemuliaan Saudara sedang diangkat oleh Sang Mahakuasa,” ujarnya.
Manfaatkan AI secara Etis
Ali selanjutnya mengingatkan mahasiswa agar tidak menyalahgunakan kemajuan teknologi, khususnya kecerdasan artifisial atau AI, untuk melakukan kecurangan akademik.
“Di Universitas Terbuka, prestasi tanpa etika adalah ketiadaan nilai,” tegasnya.
Menurut Ali, gelar akademik tidak akan memiliki makna apabila diperoleh melalui plagiarisme, joki tugas, perjokian ujian, maupun bentuk kecurangan akademik lainnya.
Ia mendorong mahasiswa menggunakan AI sebagai alat bantu pembelajaran, bukan sebagai pengganti proses berpikir kritis.
“Gunakan AI sebagai alat bantu untuk memperkuat wawasan, bukan sebagai pengganti proses berpikir kritis Saudara,” katanya.
Ali menilai integritas akademik yang dibangun sejak menjadi mahasiswa akan menjadi fondasi karakter ketika mahasiswa memasuki dunia profesional dan berkontribusi di masyarakat.
Berkontribusi untuk Indonesia Emas 2045
Lebih lanjut, Ali mengingatkan mahasiswa baru bahwa mereka merupakan bagian dari generasi yang akan menentukan masa depan Indonesia menuju 2045.
Menurutnya, Indonesia Emas 2045 membutuhkan generasi yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga mandiri, tangguh, adaptif terhadap teknologi, berwawasan global, serta memiliki nilai-nilai ketuhanan dan kecintaan terhadap bangsa.
“Indonesia Emas 2045 akan dipimpin, digerakkan, dan dimenangkan oleh orang-orang seperti Saudara,” ujar Ali.
Ia menambahkan, UT memiliki peran strategis dalam membuka akses pendidikan tinggi bagi masyarakat tanpa dibatasi ruang dan kondisi geografis. Melalui semangat making higher education open to all, UT memungkinkan masyarakat dari berbagai wilayah Indonesia hingga warga negara Indonesia di mancanegara memperoleh kesempatan menempuh pendidikan tinggi.
Karena itu, Ali mengajak mahasiswa baru memanfaatkan kemerdekaan belajar di UT secara sungguh-sungguh.
“Jadilah mahasiswa UT yang merdeka dalam belajar, mandiri dalam berpikir, tangguh dalam menghadapi tantangan, adaptif terhadap perubahan, dan teguh dalam integritas,” pungkasnya.
Ia menegaskan, keberhasilan pendidikan tidak hanya diukur dari gelar yang diperoleh, tetapi juga dari seberapa besar ilmu yang dimiliki dapat memberikan manfaat bagi masyarakat, bangsa, dan kemanusiaan.(id11)


























Discussion
Bagikan pemikiran dan pendapat Anda