Relasi di Era Tampilan, Antara Kontak dan Koneksi

Oleh AKBP Agus Sulistianto SH SIK
Respons atas opini “Ilusi Kedekatan dan Kejujuran Waktu di antara Rekan, Teman dan Sahabat” karya Syafrizal.
Tulisan Syafrizal tentang “ilusi kedekatan dan kejujuran waktu” yang dimuat Waspada.id 23 April 2026 lalu, bukan sekadar refleksi personal tentang pertemanan. Ia lebih tepat dibaca sebagai upaya membedah, bahkan “mengotopsi” cara kita membangun dan memaknai relasi, di zaman yang serba cepat, serba tampil dan serba terukur.
Di tengah budaya digital yang menilai kedekatan melalui frekuensi interaksi, jumlah pesan, intensitas pertemuan, atau jejak di media sosial, tulisan tersebut menghadirkan kegelisahan yang relevan, apakah semua yang tampak dekat benar-benar memiliki makna?
Dari pembacaan yang cermat, setidaknya ada dua poros utama yang menjadi kekuatan gagasan dalam tulisan tersebut: pembongkaran ilusi kedekatan dan penempatan waktu sebagai penguji relasi.
Kedekatan: Antara Statistik dan Makna
Salah satu kekuatan utama tulisan tersebut adalah, kemampuannya membedakan antara frekuensi dan substansi. Dalam lanskap sosial hari ini, kedekatan kerap direduksi menjadi angka, berapa sering berkomunikasi, seberapa intens berinteraksi, atau seberapa sering terlihat bersama.
Namun, metrik-metrik tersebut sejatinya hanya indikator permukaan, bukan penentu makna. Kita hidup dalam situasi di mana relasi menjadi semacam etalase sosial, tampak ramai di luar, tetapi belum tentu berisi di dalam.
Dalam konteks ini, kalimat “keakraban menjadi tampilan, bukan kedalaman” menemukan relevansinya. Ia menangkap ironi zaman, kita memiliki begitu banyak “kontak”, tetapi semakin sedikit “koneksi".
Fenomena ini tidak hanya mencerminkan perubahan cara berinteraksi, tetapi juga perubahan cara memaknai relasi itu sendiri, dari yang bersifat eksistensial menjadi sekadar performatif.
Waktu Adalah Hakim yang Tidak Berisik, tetapi Jujur
Poros kedua yang tak kalah penting adalah, bagaimana waktu ditempatkan sebagai penguji relasi. Namun, waktu di sini bukan sekadar hitungan kronologis, melainkan proses seleksi yang berlangsung diam-diam.
Krisis, perubahan arah hidup, hingga fase-fase sunyi, menjadi ruang dimana relasi diuji secara nyata. Dalam situasi-situasi inilah, topeng sosial mulai luruh. Relasi yang bersifat transaksional, cenderung berakhir ketika kepentingan selesai. Relasi yang situasional, perlahan menghilang ketika konteks berubah.
Yang tersisa adalah hubungan yang tidak bergantung pada fungsi, melainkan pada keberadaan, relasi yang terikat pada “siapa”, bukan “untuk apa”.
Dengan demikian, waktu tidak berperan sebagai hakim yang menghakimi, melainkan sebagai medium yang menyingkap. Ia tidak menciptakan kedekatan, tetapi memperlihatkan kualitas yang sejak awal telah ada.
Tiga Lapisan Relasi, Membaca Ulang Kategori Sosial
Tulisan tersebut juga menarik, karena menawarkan kategorisasi relasi, rekan, teman dan sahabat, sebagai cara membaca kedalaman hubungan. Namun, kekuatannya tidak terletak pada kategorisasi itu sendiri, melainkan pada jebakan yang dibongkar di dalamnya.
Rekan berada pada ranah rasional dan tujuan bersama. Jebakannya adalah ketika relasi profesional, dipaksa memikul ekspektasi emosional yang tidak relevan.
Teman hadir dalam ruang sosial dan kenyamanan bersama. Jebakannya adalah mengira kebersamaan otomatis melahirkan kedalaman.
Sahabat bergerak pada dimensi eksistensial, relasi yang bertahan bukan karena fungsi, tetapi karena keberadaan. Jebakannya adalah menyamakan intensitas interaksi dengan keutuhan hubungan.
Pembacaan ini penting, karena mengingatkan bahwa tidak semua relasi, harus diperlakukan dengan standar yang sama. Kesalahan terbesar sering kali bukan pada orang lain, melainkan pada ekspektasi yang tidak proporsional.
Dari Menilai Orang Lain ke Mengaudit Diri
Bagian paling dewasa dari refleksi tersebut, terletak pada pergeseran arah cermin, dari menilai orang lain menuju mengaudit diri sendiri.
Alih-alih menjadikan tulisan ini sebagai alat untuk menghakimi relasi di sekitar kita, penulis justru mengajak pembaca bertanya: jangan-jangan kita sendiri yang kerap hadir sebagai relasi transaksional, tetapi menuntut perlakuan layaknya sahabat.
Di titik ini, refleksi berubah menjadi laku batin. Ia tidak lagi berhenti pada kesadaran deskriptif, tetapi bergerak menuju kesadaran etis, tentang bagaimana kita seharusnya hadir dalam hubungan.
Kejujuran Sebagai Mata Uang Relasi
Dalam dunia yang semakin dipenuhi kurasi diri dan pencitraan sosial, kejujuran menjadi nilai yang semakin langka, sekaligus semakin berharga.
Sahabat, dalam pengertian yang paling mendalam, tidak lahir dari keramaian, tetapi dari ruang tanpa topeng, ruang di mana seseorang tidak perlu menjadi apa-apa untuk diterima sebagai siapa adanya.
Di sinilah kejujuran menjadi semacam “mata uang” dalam relasi. Ia tidak bisa dipalsukan dalam jangka panjang dan hanya dapat diuji melalui konsistensi sikap, terutama ketika situasi tidak lagi menguntungkan.
Kebijaksanaan Menjaga Jarak
Refleksi ini juga penting, karena menegaskan satu hal yang sering diabaikan: tidak semua kedekatan harus diperdalam.
Dalam budaya yang mengagungkan kedekatan emosional, ada kecenderungan untuk memaksa semua relasi menjadi intim. Padahal, tidak semua hubungan dirancang untuk itu dan tidak semua harus.
Ada relasi yang memang sehat dalam batas profesional. Ada pula hubungan yang cukup berada di level sosial, tanpa harus dipaksakan menjadi eksistensial. Kebijaksanaan terletak pada kemampuan menempatkan orang dalam lapisan yang tepat, tanpa ilusi dan tanpa tuntutan berlebih.
Ruang Bagi Ketidaksempurnaan
Meski demikian, ada satu catatan kecil yang penting untuk mempertajam refleksi ini. Pernyataan bahwa “mereka yang menjauh bukan karena jahat, tetapi karena sejak awal tidak dirancang untuk bertahan” memang menenangkan, tetapi berisiko dibaca terlalu deterministik.
Dalam kenyataan, relasi tidak selalu ditentukan oleh “desain awal”. Ada faktor lain yang turut berperan, kegagalan merawat hubungan, keterbatasan kapasitas emosional, hingga perubahan prioritas hidup.
Dengan membuka ruang bagi kemungkinan human error dari kedua belah pihak, refleksi ini akan menjadi lebih adil dan lebih manusiawi.
Siapa yang Bertahan di Terowongan Gelap
Pada akhirnya, hidup memang bukan tentang berapa banyak orang yang berada dalam “gerbong” kita, tetapi tentang siapa yang tetap tinggal ketika perjalanan memasuki terowongan gelap.
Tulisan tersebut mengingatkan bahwa waktu, betapapun kacau, tetaplah jujur. Ia tidak menciptakan sahabat, tetapi menyingkap siapa yang sejak awal memang memiliki kualitas itu.
Namun, pertanyaan yang lebih penting bukanlah siapa yang bertahan bersama kita, melainkan: sudah sejauh mana kita menjadi seseorang yang layak bertahan bagi orang lain? Sebab, menuntut kejujuran waktu berarti juga bersedia menjadi relasi yang tahan diuji waktu.
Dan mungkin, refleksi semacam ini memang paling jujur dibaca dalam keheningan, ketika riuhnya tampilan sosial mereda, dan kita akhirnya berhadapan dengan satu pertanyaan sederhana namun mendasar, relasi seperti apa yang sebenarnya sedang kita bangun?
Penulis adalah Kapolres Aceh Barat Daya, Jajaran Polda Aceh, sekaligus Pembina Interaksi Sosial Wadah Organisasi Jurnalis di Aceh Barat Daya



























Discussion
Bagikan pemikiran dan pendapat Anda