Sambut Hari Toleransi Internasional, Ini Dia Aneka Kegiatan Spektakuler Kemenag


JAKARTA (Waspada.id): Hari toletansi internasional yang jatuh tiap 16 November dirayakan Kementerian Agama (Kemenag) dengan menyiapkan 15 program. Nama programnga adalah The Wonder of Harmony 2026: Merawat Toleransi, Menguatkan Negeri. Tujuan kegiatan untuk memperkuat kerukunan antarumat beragama melalui dialog lintas iman, pemberdayaan masyarakat, kegiatan budaya, hingga aksi sosial.
Program yang digagas Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam (Ditjen Bimas Islam) tersebut melibatkan berbagai kegiatan melibatkan tokoh agama, organisasi kemasyarakatan, pemuda, penyuluh agama, dan masyarakat umum.
Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Kemenag, Abu Rokhmad, mengatakan kerukunan tidak cukup dibangun melalui imbauan, tetapi harus diwujudkan melalui perjumpaan, kolaborasi, dan kegiatan yang manfaatnya dirasakan langsung oleh masyarakat.
Karena itu, The Wonder of Harmony 2026 mengusung pendekatan dakwah-edutainment atau dadutainment, yang memadukan pesan keagamaan dengan edukasi, budaya, dan aktivitas sosial.
“Kerukunan ini milik kita bersama. Bukan hanya pemerintah, tetapi seluruh elemen bangsa. Karena itu, yang dibutuhkan bukan sekadar semakin banyak kegiatan, melainkan semakin kuat kolaborasi dan semakin besar manfaat yang dirasakan masyarakat,” ujar Abu dalam konferensi pers The Wonder of Harmony 2026 di Kantor Kementerian Agama, Jakarta, Senin (26/10/2026).
Menurut Abu, harmoni merupakan tanggung jawab bersama. Setiap elemen masyarakat memiliki peran dalam menghormati perbedaan, menjaga hubungan sosial, serta menciptakan ruang hidup yang aman dan damai bagi semua.
Hal itu sejalan dengan ajakan Menteri Agama Nasaruddin Umar agar masyarakat dan tokoh lintas agama memperluas ruang persamaan sebagai fondasi perdamaian dan harmoni sosial. Perbedaan keyakinan, menurutnya, perlu disikapi dengan saling menghormati agar kehidupan damai dapat terwujud di tengah keberagaman.
Dialog Lintas Agama hingga Pemberdayaan Pemuda
Salah satu agenda utama ialah Dialog Kerukunan bertema “Merawat Toleransi, Menguatkan Negeri” yang dijadwalkan berlangsung pada 2 November 2026 di rumah dinas Menteri Agama. Forum ini akan mempertemukan 50 pimpinan organisasi kemasyarakatan keagamaan tingkat pusat untuk memperkuat sinergi pembinaan umat dan membangun komitmen bersama dalam merawat kerukunan.
Kemenag juga menempatkan generasi muda sebagai bagian penting dari upaya memperkuat toleransi melalui program Bimbingan Remaja Usia Nikah (BRUN) bersama organisasi pemuda dan mahasiswa di Provinsi Banten.
Program tersebut memberikan edukasi mengenai kesiapan membangun keluarga yang sehat dan maslahat, sekaligus mencegah perkawinan anak. Sementara itu, Harmony Family Talks akan membahas berbagai tantangan keluarga melalui perspektif agama, psikologi, dan pelayanan publik.
Dalam aspek pendampingan sosial, Kemenag menyiapkan Capacity Building RECONNECT (Religious Counselors Prison Rehabilitation and Community Reintegration) pada 3–5 November 2026 di Depok dan Bogor.
Program ini bertujuan memperkuat kapasitas penyuluh agama dalam mendampingi keluarga dan komunitas terkait proses reintegrasi individu yang berhubungan dengan ekstremisme-kekerasan. Kegiatan tersebut melibatkan Kemenag, Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), Densus 88 Polri, dan Kementerian Sosial.
Dorong Ekonomi Halal dan Pengentasan Kemiskinan
Penguatan toleransi juga dihubungkan dengan pemberdayaan ekonomi masyarakat. Melalui Halal Expo 2026 bertema “Halal Lifestyle for a Better World” yang dijadwalkan berlangsung pada 18–20 November 2026 di Balai Purnomo, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia, Depok, Kemenag mendorong literasi gaya hidup halal, sertifikasi halal, pengembangan ekosistem industri halal, serta pemberdayaan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
Program lainnya, BAZNAS Collaborative Leadership, diarahkan untuk memperkuat kepemimpinan dan tata kelola zakat, infak, sedekah, serta dana sosial keagamaan lainnya (ZIS-DSKL). Kolaborasi dengan pemerintah daerah dan Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) diharapkan dapat mendukung upaya penanggulangan kemiskinan.
Di bidang kebudayaan, Kemenag menghadirkan Ngaji Budaya dan Tradisi Islam di Nusantara untuk mengajak masyarakat memahami hubungan nilai-nilai Islam dengan seni dan tradisi Nusantara.
Ada pula Cultural Talks bertajuk “Merawat Tradisi, Menghidupkan Seni Kitab Suci” yang mengangkat pembelajaran dari Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ), Pesta Paduan Suara Gerejani Katolik (Pesparani), dan Pesta Paduan Suara Gerejawi (Pesparawi).
Forum tersebut menjadi ruang pertukaran pengalaman antarkomunitas agama dalam menanamkan nilai-nilai kitab suci kepada umat masing-masing.
“Kita perlu saling menyapa, berbagi pengalaman, dan belajar dari kegiatan keagamaan yang dimiliki masing-masing umat. Tujuannya sama, yaitu menanamkan nilai-nilai kitab suci dan kebaikan dalam kehidupan masyarakat,” kata Abu.
Aksi Lintas Iman dan Ruang Inklusif
Untuk mendorong toleransi dalam tindakan nyata, Kemenag menyiapkan program Bakti Lintas Iman: Saling Merawat, Saling Menghormati. Kegiatan ini berupa kunjungan ke rumah-rumah ibadah untuk merawat lingkungan dan memperbaiki aksesibilitas bagi lanjut usia serta penyandang disabilitas, tanpa melibatkan ritual keagamaan.
Kemenag juga menghadirkan program “RISE!” atau Ruang Inklusif dan Setara untuk memperkuat dakwah dan konseling keluarga yang inklusif melalui kolaborasi dengan Asosiasi Tuli Muslim Indonesia (ATMI).
Sementara itu, untuk menjangkau masyarakat lebih luas, Harmony Fun Walk akan digelar di Yogyakarta pada 15 November, Surabaya pada 29 November, dan Jakarta pada 6 Desember 2026. Kegiatan ini memadukan jalan sehat, senam massal, aksi peduli lingkungan, musik, serta layanan Bimas Islam.
Program lainnya ialah Dai Muda Penyeru Cinta, yang menyiapkan 100 calon dai dan daiyah muda melalui pelatihan, magang di pesantren, serta pengabdian selama 30 hari. Kemenag juga mengagendakan Halaqah Dai Kebangsaan dan penyediaan masjid ramah pemudik selama libur Natal 2026 dan Tahun Baru 2027.
Abu mengatakan, rangkaian The Wonder of Harmony 2026 dirancang untuk menghadirkan toleransi melalui tindakan yang dapat dilihat dan dirasakan langsung oleh masyarakat, mulai dari lingkungan keluarga dan rumah ibadah hingga pemberdayaan ekonomi dan kegiatan kebudayaan.
“Dengan pendekatan kolaboratif, kerukunan diharapkan tumbuh sebagai kebiasaan bersama dan menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat Indonesia,” tandasnya.(id11)
Berita Terkait




































































Discussion
Bagikan pemikiran dan pendapat Anda