Breaking News
Memuat breaking news...

Sarjani Abdullah Dan Lumpur Yang Tak Bisa Ditunda

Redaksi
Redaksi
Minggu, 21 Desember 2025 - 2.01 PM WIB
Sarjani Abdullah Dan Lumpur Yang Tak Bisa Ditunda
Eksklusif di WhatsApp
Dapatkan berita terkini langsung di layar HP Anda
Waspada+ Gabung
Reading Comfort
adjust the font size

Lumpur itu dingin, berat dan melekat. Pagi Minggu, (21/12), ketika sebagian warga Pidie masih menyibak sisa kantuk, H. Sarjani Abdullah MH, sudah berdiri di tengah jalan gampong (desa) yang berubah menjadi kubangan.

Sepatu botnya tenggelam setengah betis. Di tangan kirinya, sekop, di wajahnya, garis letih yang tidak ditutup-tutupi. Bupati Pidie itu turun ke lumpur sebelum kata-kata disiapkan.

Gotong royong massal tahap kedua pembersihan pascabanjir bandang dipimpinnya langsung. Sejak pukul 08.00 WIB hingga menjelang malam, H Sarjani tidak berpindah dari lapangan. Bersama Wakil Bupati Al Zaizi, Sekda Drs. Samsul Azhar, para asisten, kepala SKPK, ASN, dan warga, ia mengangkat lumpur dari rumah warga, pasar, jalan, hingga perkantoran di Mutiara, Mutiara Timur, dan Kembang Tanjong.

Bupati Pidie H. Sarjani Abdullah, MH, didampingi Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Pidie Firman, mendengarkan langsung keluhan dan cerita warga terdampak banjir saat meninjau lokasi gotong royong pembersihan, Minggu (21/12). Waspada.id/Muhammad Riza

Banjir bandang telah pergi, tetapi bekasnya tinggal. Lumpur menutup pintu rumah, mematikan lapak dagang, menyumbat saluran air, dan menghentikan rutinitas. Di tengah situasi itu, H Sarjani memilih cara paling sederhana untuk menjawabnya: bekerja.

Sekop diayunkan. Ember dipindahkan. Lumpur disingkirkan, setumpuk demi setumpuk. Di beberapa titik, H Sarjani berhenti sejenak. Ia mendengar. Seorang ibu bercerita tentang dagangan yang rusak. Seorang petani mengeluhkan sawah yang tertutup pasir.

Tidak banyak janji diucapkan. Hanya instruksi singkat kepada kepala dinas: pasar dulu, jalan utama dulu, rumah warga jangan ditinggalkan. “Kalau pemerintah hanya datang melihat, luka warga tidak akan kering,” ucapnya pelan.

Menjelang siang, panas menyengat. Keringat bercampur lumpur mengalir di wajah para pekerja. Namun gotong royong tidak surut. ASN bekerja tanpa jarak dengan warga. Tidak ada pangkat, tidak ada jabatan yang ada hanya tenaga yang diuji. Sekda Samsul Azhar menyebut kehadiran langsung bupati menjadi bahan bakar semangat. “Kalau beliau masih di lapangan, kami tidak punya alasan berhenti,” katanya.

Teuku Iqbal, S.STP., M.Si., Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Kabupaten Pidie, beristirahat bersama warga di sela gotong royong pembersihan lumpur sisa banjir, Minggu (21/12). Waspada.id/Muhammad Riza

Di pasar Kembang Tanjong, lumpur mulai tersingkir. Lapak-lapak yang sebelumnya terkubur perlahan muncul. Harapan ikut terangkat bersama sekop. “Kalau pasar bersih, kami bisa hidup lagi,” kata seorang pedagang, nyaris berbisik.

Saat senja turun, lampu kendaraan dinas menyala, memantul di genangan sisa lumpur. H Sarjani masih di sana. Baju kotor. Tenaga terkuras. Tetapi pekerjaan belum selesai. Gotong royong hari itu memang tidak menghapus semua dampak banjir. Namun ia menegaskan satu hal: kepemimpinan bukan soal berdiri di tempat aman, melainkan keberanian untuk turun ke titik paling berat.

Di Pidie, hari itu, daerah hadir bukan lewat baliho bantuan, melainkan lewat tubuh seorang bupati yang memilih basah oleh lumpur bersama rakyatnya.

Muhammad Riza

Ikuti WASPADA di Google Berita
Dapatkan berita terbaru langsung dari Google News.
Ikuti
Topik
No topics for this article yet.

Discussion

Bagikan pemikiran dan pendapat Anda

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.
Berita Terkait
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement