Breaking News
Memuat breaking news...

Sarjani dan Apakarya, Saat Awan Turun Menyapa Gunung

Redaksi
Redaksi
Jumat, 8 Mei 2026 - 5.32 PM WIB
Sarjani dan Apakarya, Saat Awan Turun Menyapa Gunung
H. Sarjani Abdullah, SH, MH bersilaturahmi hangat dengan Apa Karya. Senyum keduanya menjadi pesan damai untuk Pidie, Aceh, Jumat (8/5/2026) Waspada.id/Muhammad Riza
Eksklusif di WhatsApp
Dapatkan berita terkini langsung di layar HP Anda
Waspada+ Gabung
Reading Comfort
adjust the font size

Ibarat gunung dan awan yang tidak pernah lelah berpelukan dalam hujan, begitulah silaturahmi menemukan jalan pulang dalam keteduhan zaman.

Ibarat sungai dan batu yang tetap berdampingan meski arus datang menghantam, begitulah persaudaraan menjaga hati agar tidak karam dalam dendam.

Di tanah Aceh, hubungan antarmanusia sejatinya selalu lahir dari kedekatan hati, bukan sekadar kedekatan kepentingan. Sebab negeri ini pernah melewati musim panjang konflik dan perbedaan.

Maka ketika para tokohnya masih mampu duduk bersama, saling menyapa, dan menjaga silaturahmi, di situlah rakyat menemukan harapan bahwa kedamaian belum benar-benar hilang.

Di tengah hiruk-pikuk politik yang sering membuat manusia lebih mudah berselisih daripada bersalaman, hadirnya hubungan baik antara H. Sarjani Abdullah, SH, MH, dan Zakaria Saman atau Apakarya menjadi semacam embun di tengah musim panas.

Tidak selalu gaduh terlihat, tetapi terasa menyejukkan.

Pertemuan keduanya pun menghadirkan suasana yang hangat dan mesra. Senyum keduanya pecah seperti dua sahabat lama yang dipertemukan kembali oleh waktu.

Sesekali terdengar tawa kecil di sela percakapan, seolah masa lalu yang penuh cerita sedang dibuka kembali dengan bahasa persaudaraan. Tidak ada jarak, tidak ada sekat. Yang tampak hanyalah keakraban dua tokoh Aceh yang memahami bahwa silaturahmi jauh lebih mulia daripada mempertajam perbedaan.

H. Sarjani Abdullah, SH, MH. dikenal sebagai sosok birokrat dan pemimpin yang lama berkiprah di Kabupaten Pidie. Ia pernah menjabat sebagai Bupati Pidie dan dikenal dekat dengan masyarakat akar rumput.

Gayanya yang tenang membuat dirinya sering dipandang sebagai figur yang lebih suka bekerja daripada banyak bicara.

Sementara Zakaria Saman atau Apakarya merupakan tokoh penting dalam sejarah Aceh, mantan Menteri Pertahanan GAM yang namanya melekat kuat dalam perjalanan konflik dan perdamaian Aceh.

Di antara secangkir kopi dan obrolan sederhana, keduanya tampak larut dalam suasana penuh kekeluargaan. Ada tatapan hormat, ada canda ringan, bahkan ada kehangatan yang sulit dibuat-buat oleh panggung politik.

Pertemuan seperti itu mengingatkan bahwa orang-orang besar tidak selalu harus tampil keras, kadang mereka justru tampak paling kuat saat mampu duduk santai dan saling menghargai.

Dua sosok ini lahir dari sejarah yang panjang. Mereka pernah melewati masa-masa ketika Aceh bukan hanya bicara tentang pembangunan, tetapi juga tentang luka, kehilangan, dan harapan.

Karena itu, ketika silaturahmi tetap terjaga di antara tokoh-tokoh Aceh, masyarakat sesungguhnya sedang melihat contoh bahwa masa depan tidak dibangun dengan dendam.

Aceh terlalu kecil jika dipenuhi ego yang besar. Kadang lucu melihat politik hari ini, baru duduk satu meja sudah merasa jadi raja dunia, padahal sendal di meunasah ( durau-red), pun masih sering tertukar.

Ada pula yang baru pegang mikrofon sekali, suaranya berubah seperti toa masjid kena petir. Namun begitulah hidup, manusia sering sibuk meninggikan kursi, lupa meninggikan hati.

Di sinilah pentingnya silaturahmi. Sebab silaturahmi bukan sekadar berjabat tangan di depan kamera, lalu selesai saat lampu media padam.

Silaturahmi adalah kesediaan menjaga hubungan meski berbeda jalan pikiran. Sebab orang Aceh sejak dulu paham, tali yang kusut tidak diputus, tetapi diurai perlahan.

Apakarya sendiri adalah simbol perjalanan sejarah Aceh. Di usianya yang tidak muda lagi, namanya tetap menjadi perhatian publik.

Bahkan ketika isu hoaks tentang dirinya meninggal dunia tersebar, masyarakat Aceh ramai mencari kabar.

Itu menunjukkan bahwa seorang tokoh tidak hidup hanya karena jabatan, tetapi karena jejak yang tertinggal dalam ingatan rakyat.

Sementara H. Sarjani Abdullah, SH., MH. hadir dengan karakter kepemimpinan yang lebih teduh. Dalam banyak pandangan masyarakat Pidie, dirinya dikenal sederhana dan tidak gemar mempertontonkan diri.

Sosok seperti ini ibarat padi di sawah, semakin berisi, semakin menunduk. Berbeda dengan kaleng kosong, baru disentuh sedikit saja, bunyinya bisa sampai tiga gampong (desa-red).

Silaturahmi antara tokoh-tokoh Aceh sesungguhnya bukan hanya urusan pribadi. Ia adalah pesan sosial. Rakyat sering belajar bukan dari pidato panjang, tetapi dari sikap para pemimpinnya.

Jika tokohnya rajin berseteru, masyarakat ikut panas. Jika tokohnya saling menghormati, rakyat pun belajar teduh.

Aceh sudah terlalu lama kenyang dengan pertengkaran. Hari ini yang dibutuhkan bukan lagi siapa paling keras berbicara, tetapi siapa paling tulus merawat kebersamaan. Sebab negeri tidak dibangun dengan suara tinggi, melainkan dengan hati yang lapang.

Pada akhirnya, manusia hanyalah pengembara waktu. Jabatan akan selesai, tepuk tangan akan hilang, baliho akan pudar dimakan hujan. Namun silaturahmi dan kebaikan akan tinggal lebih lama daripada usia manusia itu sendiri.

Sebagaimana gunung yang tetap berdiri meski musim berganti, begitulah persaudaraan seharusnya dijaga, kokoh, teduh, dan tidak saling membelakangi.

Muhammad Riza

Ikuti WASPADA di Google Berita
Dapatkan berita terbaru langsung dari Google News.
Ikuti
Topik

Discussion

Bagikan pemikiran dan pendapat Anda

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.
Berita Terkait
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement