Breaking News
Memuat breaking news...
Advertisement

Satu Fakta, Seribu Cerita: Kala Jurnalis Muda Merawat Kebenaran di UIN SUNA Lhokseumawe

Redaksi
Redaksi
Rabu, 4 November 2026 - 4.27 PM WIB
Satu Fakta, Seribu Cerita: Kala Jurnalis Muda Merawat Kebenaran di UIN SUNA Lhokseumawe
50 peserta pelatihan jurnalistik berfoto bersama usai mengikuti pelatihan selama dua hari penuh di UIN Sultanah Nahrasiyah Lhokseumawe. Waspada.id/Ist
Eksklusif di WhatsApp
Dapatkan berita terkini langsung di layar HP Anda
Waspada+ Gabung
Reading Comfort
adjust the font size
Advertisement

"Satu peluru hanya bisa menembus satu kepala, namun satu tulisan bisa menembus ribuan kepala dan merawat kebenaran melintasi waktu."

Sebuah tulisan tidak sekadar lahir dari ketukan jemari di atas papan ketik. Ia adalah lentera yang merekam jejak pemikiran, melintasi sekat waktu, hingga bertahun-tahun setelah penulisnya tiada.

Ruh itulah yang coba dihidupkan kembali oleh Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Al-Kalam Universitas Islam Negeri Sultanah Nahrasiyah (UIN SUNA) Lhokseumawe.

Selama dua hari penuh, dari Senin hingga Selasa di awal November 2026, riuh semangat anak-anak muda berkumpul dalam sebuah ritus tahunan bernama Pelatihan Jurnalistik Tingkat Dasar (PJTD).

Di bawah langit Lhokseumawe, tema yang diusung bukan sekadar deretan kata tanpa makna: "Write It, Shoot It, Tell It: Satu Fakta, Seribu Cerita."

Tiara Khalisna, sang ketua panitia, menjabarkannya dengan binar mata penuh antusiasme. "Write It" adalah tentang bagaimana jemari merajut kisah lewat feature news; "Shoot It" menjadi media perekam realitas lewat lensa video; dan "Tell It" adalah muara ketika semua kebenaran itu disuarakan ke publik.

Sementara itu, frasa "Satu Fakta, Seribu Cerita" menjadi jangkar filosofis bahwa sebuah kebenaran tunggal di lapangan dapat dipandang dari ribuan sudut pandang yang berbeda, melahirkan narasi yang kaya, tetapi tetap jujur.

Bagi 16 kru baru angkatan 2025, PJTD kali ini adalah jembatan sakral. Berdasarkan Anggaran Rumah Tangga (ART) Bab II Pasal 3 ayat 2 organisasi tersebut, momentum ini adalah gerbang resmi yang mengubah status mereka dari sekadar tunas baru menjadi Kru Aktif—sebutan bagi para pemegang amanah pena penuh di LPM Al-Kalam.

Namun, mereka tidak merawat lilin ilmu itu sendirian. Sebanyak 34 siswa dari berbagai sekolah, mulai dari SMAN 2 Lhokseumawe, SMAN 1 Syamtalira Bayu, MAN Kota Lhokseumawe, SMKN 8 Lhokseumawe, hingga SMA IT Dataqu Imam Syafi'i, turut membaur.

Sebanyak 50 kepala berkumpul, melebur ego, dan bertukar ide.

Wakil Rektor III UIN SUNA, Darmadi, yang membuka acara ini secara resmi, menitipkan pesan mendalam yang membekas di benak para peserta.

"Menulis membuat seseorang dikenal. Melalui tulisan, orang lain dapat mengenal pemikiran, pengalaman, dan karya kita," ujarnya retoris.

Namun, ia juga menyelipkan sebuah pengingat agar nurani jurnalis tidak tergadaikan oleh hal-hal fana. "Jangan menjadikan popularitas atau uang sebagai tujuan utama."

Setelah doa yang dilantunkan dengan khidmat oleh Faris Kurniawan, lembaran pelatihan pun resmi dibuka.

Hari pertama diisi oleh untaian materi dari Anita Diana, seorang reporter RRI Lhokseumawe. Sejak pukul 11.00 WIB, ia mengajak peserta menyelami samudra penulisan feature.

Baginya, jurnalisme bukan sekadar teks yang kaku. "Kalau gaya penulisan kita menarik, orang jadi semangat untuk membacanya hingga akhir," tuturnya hangat.

Anita menekankan bahwa menulis feature adalah seni menyentuh hati pembaca tanpa sedikit pun mengurangi bobot kebenaran. Proses tersebut menuntut verifikasi ketat dan keakuratan mutlak sebelum tulisan disajikan kepada publik.

Ruang kelas seketika hidup saat 50 peserta dibagi ke dalam empat kelompok untuk memeras otak dan merancang mahakarya feature pertama mereka sebelum hari berganti.

Ketika Selasa menyapa, atmosfer pelatihan berganti rupa menjadi lebih dinamis. Dipandu oleh MC Juramaida Ziliwu dan moderator Nurul Fadila, giliran Slamet Abdullah, seorang jurnalis MetroTV, yang mengambil alih panggung.

Fokus bergeser pada dunia audiovisual. Slamet membedah bagaimana kamera harus berbicara jujur, bagaimana menyusun potongan visual menjadi cerita yang utuh, hingga seni menyunting video agar pesan yang disampaikan mudah dicerna oleh mata dan hati penonton.

Usai tengah hari, teori menjelma menjadi aksi. Papan tulis di ruangan dipenuhi coretan tema unik saat tujuh kelompok mendaftarkan ide mereka agar tidak ada kisah yang seragam.

Mereka lalu menyebar, berburu momentum di bawah terik Lhokseumawe, dan merekam realitas dengan kamera di tangan.

Ritus dua hari itu akhirnya mencapai ujungnya setelah matahari menggelincir ke barat. Gelak tawa dan tepuk tangan riuh memenuhi ruangan saat penghargaan dibagikan, mulai dari penulisan feature terbaik, video jurnalistik terasri, hingga apresiasi bagi mereka yang paling tangkas menarik kesimpulan dan paling kreatif di media sosial.

Pulang dengan sertifikat di tangan, 50 jurnalis muda itu kini tidak lagi sama. Mereka pulang membawa pemahaman baru bahwa di tangan mereka yang jujur, satu fakta akan selalu menemukan seribu cerita untuk merawat kebenaran. (Maimun Asnawi, S.HI., M.Kom.I./WASPADA.id)

Ikuti WASPADA di Google Berita
Dapatkan berita terbaru langsung dari Google News.
Ikuti
Topik

Discussion

Bagikan pemikiran dan pendapat Anda

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.

Berita Terkait

Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement