SEKELEBAT CERPEN AGUSNI AH

Pengantar Redaksi:
Agusni AH kembali menghadirkan sebuah cerpen berjudul “SEKELEBAT”, sebuah kisah lirih tentang pertemuan yang datang sesaat, namun meninggalkan jejak panjang di relung batin. Cerpen ini mengisahkan seorang lelaki yang dipertemukan kembali dengan masa lalunya pada sebuah pucuk senja, setelah sekian lama waktu memisahkan keduanya dalam diam dan prasangka.
Perempuan itu hadir sekelebat: singkat, nyaris seperti bayangan. Namun kehadirannya sanggup mengguncang ingatan yang selama ini coba dibatu oleh lelaki itu. Tak ada pelukan, tak ada tangis, bahkan percakapan mereka pun terasa dingin dan asing. Akan tetapi, justru dalam keterasingan itulah tersimpan luka yang belum benar-benar pulih
Melalui bahasa yang sendu dan penuh perenungan, “SEKELEBAT” berbicara tentang cinta yang terlambat dipahami, tentang doa-doa yang menggantung di langit malam, serta tentang manusia yang kerap kalah oleh rahasia dan prasangka yang diciptakannya sendiri. Sebuah cerpen yang mengajak pembaca menyelami kesunyian hati, ketika seseorang datang kembali hanya untuk mengingatkan bahwa tidak semua kehilangan benar-benar selesai oleh waktu. Berikut nukilan cerpen Agusni AH:
SEKELEBAT
“ALHAMDULILLAH kau baik-baik saja, dan sepertinya tak ada sedikit pun yang kurang dengan kehidupanmu. Begitu pun kesehatanmu ternyata sehat wal’afiat, tidak sebagaimana yang kucemaskan selama ini,” ucap perempuan itu tanpa ekspresi sesaat sebelum kembali pergi dan menghilang bersama gelap malam saat kepulangannya di pucuk senja.
Lelaki itu hanya bisa diam, mematung. Tanpa bisa berkata-kata. Walau sebenarnya banyak hal yang ingin ia kemukakan tentang kondisi hidupnya sepeninggal perempuan itu. Lelaki itu tercekat. Matanya hanya bisa memandang punggung perempuan itu yang berangsur beranjak pergi bersama turunnya malam yang kian menggulita.
Dan semuanya terasa begitu singkat.
Hanya sekejap.
Namun kejap yang singkat itu justru terasa lebih panjang daripada tahun-tahun yang pernah mereka lalui bersama.
Angin malam menggesek dedaunan kering di halaman rumah tua itu. Lampu-lampu jalan mulai menyala satu demi satu, seperti mata yang perlahan terbangun untuk menyaksikan kesedihan manusia.
Lelaki itu masih berdiri di tempat yang sama. Di balik daun pintu yang tanpa penerang lampu dari arah dalam rumahnya.
Tubuhnya kurus. Wajahnya menyimpan letih seperti lelah panjang yang mengimpit benak dan menyeruak dada. Sorot matanya seperti senter yang meredup dengan kehilangan cahaya. Ia ingin memanggil nama perempuan itu, sedianya memanfaatkan kesempatan hadir sesosok yang telah lama dinanti-nanti dari sebuah kehilangan.
Tetapi lidahnya mendadak kelu.
Ada kalanya hati manusia terlalu penuh oleh luka, sampai kata-kata tak lagi menemukan jalan keluarnya.
Ia hanya bisa menunduk.
Tangannya gemetar ketika merogoh saku jaket lusuhnya. Di sana masih tersimpan secarik kertas kecil berisi daftar obat-obatan yang belum sempat ia menebus di apotek.
Tetapi perempuan itu mengira hidupnya baik-baik saja.
Dan ia tak sanggup menjelaskan apa pun.
Karena lelaki memang diajarkan untuk selalu tampak kuat, bahkan ketika dirinya sedang runtuh berkeping-keping, ia harus terlihat teguh dan kokoh dalam segala cuaca.
Dulu, perempuan itu pernah menjadi rumah paling hangat bagi hidupnya.
Mereka pernah berjalan kaki di bawah cuaca alam yang tak menguntungkan, namun tetap tertawa seperti dua manusia yang percaya dunia akan selalu berpihak pada cinta. Pernah saling menggenggam tangan dengan keyakinan bahwa kebersamaan cukup untuk melawan segala kesulitan hidup. Dan menghempang apa pun yang merintang di hidup mereka. Mereka kerap menghabiskan malam-malam dengan penuh romansa. Masa-masa ketika segala hal terasa begitu sederhana dan membahagiakan. Bahkan hujan yang turun di pelataran rumah kecil mereka pun mampu menjadi alasan untuk tertawa berlama-lama.
Lelaki itu masih mengingat bagaimana perempuan tersebut selalu sibuk menyelamatkan jemuran setiap langit mulai menggelap, sementara ia hanya di bangku yang bermeja panjang di depan pintu rumahnya, sembari memperhatikan senyum kecil yang berulas di bibir perempuannya yang ranum. Setelah semuanya selesai, mereka duduk berdampingan ditemani secangkir kopi dan teh panas, keduanya saling mereguknya. Tidak ada percakapan tema-tema besar, tidak pula janji-janji muluk tentang masa depan. Namun justru dari hal-hal sederhana itulah cinta mereka tumbuh begitu utuh, jika pun tak bisa disebut sempurna.
Perempuan itu adalah seseorang yang gemar bercerita. Ia bisa mengubah kejadian paling kecil menjadi percakapan panjang yang hidup. Tentang warna senja yang menurutnya terlalu muram, atau tentang kisah di masa kecilnya. Lelaki itu sering kali hanya mendengarkan sambil mengangguk pelan. Sesekali tertawa, sesekali menggodanya dengan kalimat-kalimat ringan dan sederhana yang membuat perempuan itu merengek manja. Dan keduanya menikmati semua itu. Mereka juga menikmati kondisi rumah kecil yang ditempatinya. Bahkan pada malam-malam tertentu, ketika listrik padam dan kampung mereka tenggelam dalam gelap, mereka duduk di beranda ditemani cahaya lampu emergency. Angin malam berembus pelan menyembul aroma alam dari dedaunan basah.
Perempuan itu biasanya menyandarkan kepala di pundaknya sambil memandang langit yang dipenuhi bintang-gemintang, menikmati cahaya purnama pada setiap tujuh belas hari bulan datang. Mereka berbicara tentang banyak hal. Tentang impian sederhana memiliki rumah yang lebih layak, tentang anak-anak yang kelak ingin mereka besarkan dengan penuh kasih, juga tentang hari tua yang mereka bayangkan akan dijalani bersama. Lelaki itu masih mengingat bagaimana mata perempuan tersebut berbinar setiap kali membicarakan masa depan, seolah hidup tidak akan pernah menyusut dari segala harapan itu, takkan bisa menyurut langkah untuk terus bertahan, menjalani hari-hari mendatang dalam segala suka-cita. "Biarlah hidup seperti ini dan kita mesti bertahan hingga kita menua," ucap perempuan itu teguh suatu kali.
Namun waktu perlahan mengubah banyak hal. Kesibukan, kelelahan, dan prasangka mulai menyelinap masuk ke sela-sela kehidupan mereka. Percakapan yang dulu panjang berubah singkat-singkat. Tawa yang dulu mudah terdengar perlahan menghilang. Hingga akhirnya rasa cemburu tumbuh di hati perempuan itu, bermula dari sikap lelaki yang mulai sering diam dan menyimpan banyak hal sendiri. Perempuan itu merasa ada rahasia yang sengaja disembunyikan darinya, sementara lelaki tersebut justeru tidak pandai menjelaskan apa pun. Mereka sama-sama lelah, sama-sama terluka, tetapi terlalu pelik untuk saling menyingkapnya.
Pertengkaran demi pertengkaran akhirnya menjauhkan mereka dari kenangan-kenangan indah yang dahulu begitu mereka jaga. Rumah kecil yang dulu penuh cerita berubah menjadi ruang sunyi yang dipenuhi dingin dan kecurigaan. Hingga pada suatu hari, perempuan itu benar-benar pergi meninggalkannya.
Dan kini, setelah waktu berjalan demikian jauh, lelaki itu baru menyadari bahwa yang paling menyakitkan dari kehilangan bukanlah perpisahan itu sendiri, melainkan kenangan-kenangan indah yang tetap tinggal di kalbu dan terus hidup di benaknya. Semua masih ada, masih utuh, seolah waktu menolak menghapusnya.
Sementara perempuan itu kini hanya datang sekelebat di hidupnya, singgah sebentar seperti bayang, lalu pergi lagi meninggalkan sepi yang jauh lebih panjang. Ia kembali belajar untuk hidup tanpa tanpa perempuan itu. Dan ia membiarkannya berlalu, tanpa menyeru pulang untuk kembali. Seperti doa-doa sepanjang sujudnya kini hanya sebatas desir lirih yang tenggelam di antara gelap malam, bersama sekelebat kenangan yang datang lalu pergi. Ia hadir sesaat di pelupuk ingatan, menyerupai cahaya redup di ujung senja.***.



























Discussion
Bagikan pemikiran dan pendapat Anda