Breaking News
Memuat breaking news...

Sekelumit Jejak Wartawan: Aku Enggan Disebut Mantan

Redaksi
Redaksi
Rabu, 29 Juli 2026 - 3.29 PM WIB
Sekelumit Jejak Wartawan: Aku Enggan Disebut Mantan
Eksklusif di WhatsApp
Dapatkan berita terkini langsung di layar HP Anda
Waspada+ Gabung
Reading Comfort
adjust the font size

Oleh Agusni AH

TERAKHIR saya tercatat sebagai wartawan Harian Waspada pada 2000 hingga 2017. Sebelum itu, saya belajar dan mengabdi di sejumlah media cetak, menjalani profesi yang membawa langkah hingga ke pelosok Aceh. Berkat Harian Waspada saya juga berkesempatan melakukan liputan pementasan seni dan budaya ke beberapa negera. Dari ruang redaksi hingga jalan-jalan berdebu di pedalaman, saya belajar bahwa menjadi wartawan bukan sekadar mencari berita, melainkan belajar memahami kehidupan dari dekat.

Perjalanan itu kemudian berhenti. Bukan karena kecintaan saya terhadap dunia jurnalistik memudar, melainkan karena pilihan pengabdian yang berbeda. Regulasi penyelenggaraan pemilu tidak memperkenankan seseorang merangkap profesi sebagai wartawan dan penyelenggara pemilu. Ketentuan tersebut mengharuskan saya melepaskan kartu pers ketika menerima amanah sebagai penyelenggara pemilu, mulai dari Panwaslu dan Panwaslih Aceh Timur, kemudian menjadi Ketua Komisi Independen Pemilihan (KIP) Kota Langsa, hingga kini menjalani periode kedua sebagai anggota KIP Aceh.

Sejak saat itu saya memang tidak lagi berprofesi sebagai wartawan. Namun, terus terang, saya tak pernah merasa menjadi mantan wartawan. Bahkan, ada rasa enggan ketika mendengar sebutan "mantan" disematkan kepada diri saya.

Bagi saya, yang berakhir hanyalah status profesi, bukan cara berpikir yang dibentuk oleh dunia jurnalistik. Jiwa wartawan tidak otomatis hilang hanya karena kartu pers telah dikembalikan. Ia hidup dalam kebiasaan mempertanyakan sesuatu, dalam kepekaan membaca peristiwa, dan dalam kegelisahan mencari kebenaran di balik setiap fakta.

Karena itulah, menulis tetap menjadi rumah tempat saya pulang. Di sela-sela kesibukan dan tanggung jawab sebagai penyelenggara pemilu, saya selalu berusaha menyisihkan waktu untuk menulis. Aktivitas itu bukan sekadar mengisi waktu luang, melainkan cara merawat nurani, menjaga nalar tetap kritis, dan memastikan api jurnalistik di dalam diri tidak pernah padam.

Kartu pers memang telah lama saya lepaskan. Namun keinginan untuk memahami persoalan secara utuh, mendengar semua sisi, dan mengurai sebuah peristiwa dengan jernih masih terus saya pelihara. Saya percaya, itulah warisan paling berharga yang diberikan dunia kewartawanan.

Apa yang saya tuliskan ini sama sekali bukan bentuk euforia atau ketidakmampuan menerima kenyataan bahwa saya telah meninggalkan profesi wartawan. Saya hanya ingin menegaskan satu hal: kewartawanan bukan sekadar pekerjaan yang selesai ketika seseorang berhenti bekerja di sebuah media. Kewartawanan adalah proses panjang yang membentuk watak, cara berpikir, dan cara memandang kehidupan.

Profesi ini mengajarkan bahwa setiap informasi harus diuji, setiap peristiwa harus dilihat dari berbagai sudut, dan setiap keputusan harus didasarkan pada fakta, bukan prasangka. Nilai-nilai itulah yang saya rasakan tetap menyertai dalam setiap tugas pengabdian, meskipun medan pengabdian saya kini berbeda.

Dunia kewartawanan ibarat medan tempur yang sunyi. Di balik sebuah berita yang hanya dibaca beberapa menit, tersimpan waktu yang panjang, perjalanan yang melelahkan, tekanan, kegelisahan, bahkan risiko yang sering kali tidak diketahui orang. Wartawan bukan hanya bekerja dengan pena atau kamera, melainkan juga dengan keberanian, kejujuran, dan tanggung jawab moral.

Mungkin karena itulah saya enggan disebut mantan wartawan. Sebab yang saya tinggalkan hanyalah profesinya, bukan nilai-nilai yang telah menempa diri selama bertahun-tahun. Seorang wartawan boleh berhenti bekerja di media, tetapi kepekaan membaca realitas, keberanian mempertanyakan keadaan, dan kegelisahan mencari kebenaran semestinya tidak pernah pensiun.

Saya percaya, sekali seseorang benar-benar menjadi wartawan, sebagian dari dirinya akan selalu menjadi wartawan. Profesi boleh berganti, jabatan dapat berakhir, bahkan kartu pers bisa saja disimpan sebagai kenangan. Namun jiwa jurnalistik—yang dibangun oleh rasa ingin tahu, keberanian menyuarakan kebenaran, dan kesetiaan pada nurani—akan tetap hidup, selama ia terus dirawat.

Itulah sebabnya saya tidak pernah merasa menjadi mantan wartawan. Saya hanya sedang melanjutkan pengabdian di jalan yang berbeda, dengan bekal nilai-nilai jurnalistik yang tetap saya pegang hingga hari ini. Sebab bagi saya, wartawan bukan semata-mata profesi, melainkan cara hidup. Dan cara hidup yang baik tidak pernah mengenal kata mantan. Tetapi tidak juga mengaku-ngaku WTS (wartawan tanpa suratkabar).***

Penulis adalah Ketua Komisi Independen Pemilihan (KIP/KPU) Aceh, dan aktif menulis opini, esai, cerpen serta puisi.

Ikuti WASPADA di Google Berita
Dapatkan berita terbaru langsung dari Google News.
Ikuti
Topik
No topics for this article yet.

Discussion

Bagikan pemikiran dan pendapat Anda

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.
Berita Terkait
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement