Sekolah Nasional Terintegrasi Mulai 2026, Prioritaskan Siswa BerprestasiSekolah Nasional Terintegrasi Mulai 2026, Prioritaskan Siswa Berprestasi

JAKARTA (Waspada.id): Sekolah Nasional Terintegrasi (SNT) mulai diselenggarakan pada tahun ajaran 2026 dengan menyasar peserta didik berprestasi secara akademik, khususnya di bidang sains dan teknologi. Program ini dikembangkan pemerintah untuk memperluas akses pendidikan berkualitas bagi anak-anak dengan kemampuan di atas rata-rata atau istimewa yang belum seluruhnya tertampung di sekolah formal.
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti mengatakan, anak-anak dengan kemampuan istimewa berhak memperoleh layanan pendidikan yang sesuai dengan kebutuhan dan potensinya.
“Anak-anak memiliki kemampuan di atas rata-rata atau istimewa berhak mendapat perlakuan khusus. Kenyataan lain, tidak semua anak berprestasi ini tertampung di sekolah-sekolah formal,” ujar Abdul Mu’ti dalam jumpa pers SNT di Plaza Insan Berprestasi, Jakarta, Senin (20/7/2026).
Ia mengatakan, pemerintah sebelumnya mengembangkan Sekolah Garuda untuk memberikan layanan pendidikan bagi anak-anak berprestasi. Namun, jumlah sekolah tersebut masih terbatas sehingga diperlukan perluasan jangkauan melalui SNT.
“Sekolah Nasional Terintegrasi ini diperluas jangkauannya untuk melengkapi Sekolah Garuda,” katanya.
Abdul Mu’ti menjelaskan, jumlah peserta didik SNT pada tahun pertama akan dibatasi. Pada jenjang SMP dan SMA masing-masing tersedia dua rombongan belajar dengan 20 siswa per rombel.
Dengan demikian, satu SNT akan menampung 40 siswa SMP dan 40 siswa SMA atau total 80 peserta didik.
“Bukan jumlah besar karena segmentasinya untuk anak-anak jenius,” ujarnya.
Menurut Abdul Mu’ti, pengembangan SNT juga didasarkan pada kebutuhan memperkuat pemerataan kesempatan memperoleh pendidikan berkualitas. Berdasarkan Rapor Pendidikan 2021, baru sekitar 243 dari 747 satuan pendidikan atau sekitar 40 persen yang mencapai standar tertentu dalam penyelenggaraan pendidikan.

Karena itu, SNT tidak hanya dirancang sebagai sekolah bagi peserta didik, tetapi juga sebagai pusat pembelajaran dan peningkatan mutu bagi sekolah-sekolah di sekitarnya.
“SNT diberdayakan bukan hanya untuk memberikan layanan pendidikan kepada anak, tetapi juga untuk pembelajaran, pengembangan guru, pembinaan karakter, pengembangan talenta, pemanfaatan fasilitas, dan penjaminan mutu,” katanya.
Ia menjelaskan, pengembangan SNT bertumpu pada tiga transformasi utama, yakni infrastruktur, sumber daya manusia, serta pembelajaran dan pendidikan. Infrastruktur disiapkan untuk mendukung pembelajaran yang aman, ramah anak, fleksibel, dan adaptif terhadap kebutuhan pendidikan masa depan.
Sementara itu, guru-guru SNT dipersiapkan sebagai penggerak pembaruan dan inovasi pembelajaran. Mereka diharapkan dapat menjadi pelatih dan mitra bagi guru-guru di sekolah lain.
“Guru di sekolah penggerak menjadi contoh. Guru dipersiapkan sebagai pelatih program, pembaharu, inovator pembelajaran, dan mitra belajar bagi guru-guru di sekolah lain,” ujarnya.
Abdul Mu’ti menambahkan, SNT juga diarahkan untuk memperkuat pemulihan dan peningkatan mutu pendidikan melalui pembelajaran efektif berbasis data serta kolaborasi dengan pemerintah daerah, perguruan tinggi, dan komunitas.
Sementara itu, Direktur Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Nonformal dan Informal Kemendikdasmen Gogot Suharwoto mengatakan, pembangunan dan penyiapan SNT dilakukan secara bertahap.
Pembangunan jenjang SMP direncanakan mulai dilaksanakan pada 2027. SNT dirancang sebagai kawasan pendidikan terpadu yang dilengkapi smart classroom, world-class school, teacher learning and learning commons, training partner studio, pusat pengembangan dan inovasi guru, serta pusat olahraga.
Kawasan tersebut diharapkan mendukung pembelajaran akademik sekaligus pengembangan karakter, kreativitas, keterampilan, olahraga, dan potensi peserta didik.
Khusus jenjang SMP, pembelajaran akan memperkuat fondasi pendidikan nasional dengan tetap mempertimbangkan konteks lokal. Pendekatan yang dikembangkan mencakup kerja tim, pembelajaran mendalam, pengayaan, serta pengembangan kurikulum di bidang sains, teknologi, coding, seni, olahraga, dan bidang unggulan lainnya.
Gogot mengatakan, proses rekrutmen kepala sekolah dan guru telah disiapkan. Peserta didik jenjang SMP akan direkrut dari calon murid di wilayah sekitar atau daerah yang menjadi lokasi pembangunan SNT.
Sambil menunggu pembangunan gedung permanen, Abdul Mu’ti mengatakan penyelenggaraan SNT dapat dilakukan dengan memanfaatkan fasilitas yang tersedia di satuan pendidikan atau unit pelaksana teknis (UPT).
“Karena sebenarnya secara kurikuler sudah siap. Apalagi yang nanti akan siap pertama, OIKM sudah sangat siap. OIKM itu sejak awal sudah membangun budaya sekolah terintegrasi,” katanya.
Ia menambahkan, pemerintah terus mematangkan konsep SNT agar ke depan dapat hadir di setiap kabupaten/kota. Penyelenggaraannya diharapkan didukung pendanaan bersama antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah.
“Tanah itu milik pemerintah daerah, tetapi penyelenggaraan dan pembiayaannya pemerintah pusat,” ujar Abdul Mu’ti.(id11)






























Discussion
Bagikan pemikiran dan pendapat Anda