Breaking News
Memuat breaking news...
Advertisement

Selamat Jalan Legenda Bulu Tangkis Indonesia, H. Atik Jauhari

Redaksi
Redaksi
Minggu, 8 November 2026 - 2.30 PM WIB
Selamat Jalan Legenda Bulu Tangkis Indonesia, H. Atik Jauhari
Ucapan dukacita Komunitas Bulutangkis Indonesia atas wafatnya H.Atik Jauhari
Eksklusif di WhatsApp
Dapatkan berita terkini langsung di layar HP Anda
Waspada+ Gabung
Reading Comfort
adjust the font size

Oleh: Indra Efendi Rangkuti

Dunia bulu tangkis Indonesia kembali berduka. Pelatih legendaris ganda putra Indonesia, H. Atik Jauhari, meninggal dunia pada Minggu, 8 November 2026, pukul 02.49 WIB di Rumah Sakit Mayapada, Tangerang.

Kepergian Atik Jauhari menjadi kehilangan besar bagi dunia bulu tangkis Indonesia. Sepanjang perjalanan kariernya, ia tidak hanya melahirkan atlet-atlet berprestasi di Tanah Air, tetapi juga memberikan kontribusi penting bagi perkembangan bulu tangkis di sejumlah negara, seperti Swedia, Thailand, India, dan Italia.

Atik Jauhari lahir di Tangerang pada 14 Agustus 1949. Perjalanan panjangnya di dunia bulu tangkis dimulai sebagai pemain profesional. Ia mengasah kemampuan sebagai atlet di klub Blue White, yang kini dikenal sebagai klub Mutiara Bandung.

Berpasangan dengan salah satu legenda bulu tangkis Indonesia, Christian Hadinata, Atik berhasil meraih gelar juara nasional nomor ganda putra pada 1971. Keduanya kemudian mewakili Jawa Barat dalam Seleksi Nasional (Seleknas). Keberhasilan menjadi juara Seleknas mengantarkan mereka masuk Pelatnas.

Namun, perjalanan sebagai atlet harus berakhir lebih cepat. Saat latihan, Atik mengalami cedera pada bagian mata akibat terkena smash. Ia harus menjalani perawatan cukup lama di rumah sakit hingga akhirnya memutuskan mengundurkan diri dari Pelatnas.

Pelatih mereka saat itu, Stenley Goh, kemudian memasangkan Christian Hadinata dengan Ade Chandra.

Meski tidak lagi berkarier sebagai atlet, Atik tidak meninggalkan dunia bulu tangkis. Pada 1974, ia mulai menekuni profesi kepelatihan dan dipercaya menjadi pendamping utama pelatih Pelatnas dengan menangani sektor tunggal putra.

Selamat Jalan Legenda Bulu Tangkis Indonesia, H. Atik Jauhari

Atik Jauhari bersama Rudy Hartono dan pelatih Tahir Djide tahun 1976

Sejumlah pebulu tangkis papan atas Indonesia pernah berada di bawah asuhannya, di antaranya Liem Swie King, Icuk Sugiarto, Hastomo Arbi, Eddy Kurniawan, Hermawan Susanto, Ardy Wiranata, Alan Budikusuma, dan Fung Permadi.

Kontribusinya di sektor ganda putra juga sangat besar. Atik pernah menangani sejumlah pasangan legendaris, seperti Tjun Tjun/Johan Wahyudi, Kartono/Heriyanto, Liem Swie King/Kartono, Liem Swie King/Bobby Ertanto, Liem Swie King/Eddy Hartono, serta Eddy Hartono/Gunawan.

Selamat Jalan Legenda Bulu Tangkis Indonesia, H. Atik Jauhari

Atik Jauhari ketika melatih pasangan Eddy Hartono/Gunawan

Salah satu puncak prestasinya terjadi pada Olimpiade Atlanta 1996. Bersama Christian Hadinata, Atik sukses mengantarkan pasangan Ricky Achmad Soebagdja/Rexy Mainaky meraih medali emas nomor ganda putra.

Setelah Christian Hadinata mengundurkan diri dari dunia kepelatihan pada akhir 1996, Atik dipercaya menjadi pelatih kepala ganda putra Pelatnas.

Di bawah arahannya, pasangan Candra Wijaya/Sigit Budiarto sukses meraih gelar juara dunia pada Kejuaraan Dunia 1997 di Glasgow. Tangan dinginnya juga berperan dalam membentuk pasangan Tony Gunawan/Halim Haryanto serta Candra Wijaya/Tony Gunawan.

Selamat Jalan Legenda Bulu Tangkis Indonesia, H. Atik Jauhari

Atik Jauhari ketika memberi pengarahan kepada pasangan Candra Wijaya/Sigit Budiarto di Final Kejuaraan Dunia 1997 yang berlangsung di Glasgow

Atik Jauhari turut menjadi bagian penting dalam keberhasilan Indonesia menjuarai Piala Sudirman 1989 serta Piala Thomas pada 1994, 1996, dan 1998.

Pada 1999, Atik memutuskan meninggalkan Pelatnas PBSI dan menerima tawaran melatih tim bulu tangkis Swedia. Di bawah asuhannya, Swedia berhasil melaju ke putaran final Piala Thomas dan Piala Uber di Malaysia pada 2000.

Ia juga menangani pasangan Par-Gunnar Jonsson/Peter Axelsson yang meraih posisi runner-up Kejuaraan Eropa di Skotlandia. Selain itu, Atik sukses mengantarkan tunggal putri Swedia, Marina Andrievskaja, menjadi runner-up pada kejuaraan yang sama.

Sebagai pelatih kepala Swedia, Atik tiga kali membawa negara tersebut meraih posisi runner-up Kejuaraan Beregu Eropa.

Pada akhir 2003, Atik meninggalkan Swedia dan kembali ke Pelatnas PBSI untuk menangani sektor ganda putri. Pada periode inilah ia menemukan dan membina bibit-bibit muda potensial, di antaranya Jo Novita dan Greysia Polii.

Selamat Jalan Legenda Bulu Tangkis Indonesia, H. Atik Jauhari

Atik Jauhari ketika pelepasan Tim Indonesia menuju Piala Sudirman 2005

Namun, pada awal 2006, Atik kembali memutuskan mundur dari Pelatnas setelah evaluasi SEA Games 2005 dan kualifikasi Piala Uber.

Perjalanan karier internasionalnya berlanjut ke Thailand pada 2006. Di negara tersebut, Atik dipercaya melatih tim nasional bulu tangkis.

Salah satu keberhasilannya terlihat melalui perkembangan pebulu tangkis tunggal putra Thailand, Boonsak Ponsana. Di bawah arahannya, Boonsak berhasil mencatatkan prestasi penting, salah satunya menjuarai Aviva Open Singapore Super Series 2007 setelah mengalahkan Lin Dan dari China, yang saat itu berstatus pebulu tangkis nomor satu dunia.

Setelah menyelesaikan kontraknya di Thailand, Atik melanjutkan karier kepelatihannya ke India. Sejak Agustus 2008, ia dipercaya mengepalai pemusatan latihan nasional di Hyderabad, tepatnya di Pullela Gopichand Badminton Academy, serta Bangalore melalui Prakash Padukone Badminton Academy.

Selamat Jalan Legenda Bulu Tangkis Indonesia, H. Atik Jauhari

Atik Jauhari ketika melatih di India

Di India, salah satu atlet yang mengalami perkembangan pesat di bawah bimbingannya adalah tunggal putri Saina Nehwal.

Berkat pembinaan tersebut, Saina berhasil menembus jajaran elite bulu tangkis dunia dengan menempati peringkat lima besar hingga tiga besar dunia. Ia juga mampu mempertahankan gelar Indonesia Open Super Series, mencapai peringkat satu dunia, serta meraih prestasi di Commonwealth Games 2010.

Saina Nehwal bahkan secara terbuka memuji kontribusi Atik dalam perjalanan karier dan perkembangan kemampuannya sebagai pebulu tangkis profesional.

Tidak hanya di sektor perorangan, Atik juga sukses mengantarkan tim India menjadi finalis Commonwealth Games 2010 di New Delhi.

Selama berkiprah di India, Atik turut berperan dalam membangun sistem pembinaan dan mental juara atlet negara tersebut. Ia melakukan pembenahan kedisiplinan, pola latihan, serta manajemen program pembinaan, mulai dari level akar rumput hingga atlet elite.

Kontribusinya menjadi salah satu bagian penting dalam transformasi India hingga berkembang menjadi salah satu kekuatan bulu tangkis dunia.

Pada 2012, Atik meninggalkan tim bulu tangkis India dan melanjutkan karier sebagai pelatih di Italia hingga 2013.

Setelah mengakhiri karier internasionalnya pada akhir 2013, maestro kepelatihan asal Indonesia itu memilih kembali ke Tanah Air. Ia kemudian mendedikasikan waktunya untuk membina talenta-talenta muda dengan mendirikan Sekolah Bulu Tangkis Atik Jauhari.

Selain aktif membina atlet muda, Atik juga tetap terlibat dalam Komunitas Bulu Tangkis Indonesia hingga akhir hayatnya.

Selamat Jalan Legenda Bulu Tangkis Indonesia, H. Atik Jauhari

Atik Jauhari bersama rekan - rekannya di Komunitas Bulutangkis Indonesia.Ki-Ka : Erma Sulisyaningsih, Rosiana Tendean, Imelda Wiguna, Heryanto, Liem Swie King, Atik Jauhari, Hariyanto Arbi dan Ny.Atik Jauhari.

Kepergian Atik Jauhari menyisakan duka mendalam bagi keluarga besar bulu tangkis Indonesia maupun dunia. Ucapan belasungkawa mengalir dari mantan anak didiknya, baik yang berkarier di dalam negeri maupun luar negeri.

Salah satunya datang dari Halim Haryanto yang kini berkarier sebagai pelatih di Amerika Serikat. Ungkapan duka juga disampaikan Hariyanto Arbi, Candra Wijaya, serta sejumlah legenda bulu tangkis Indonesia lainnya.

Rekan sesama pelatih di Pelatnas PBSI, Herry Iman Pierngadi, yang kini melatih di Malaysia, turut menyampaikan rasa kehilangan atas berpulangnya sosok yang telah memberikan kontribusi besar bagi dunia bulu tangkis tersebut.

Atik Jauhari disemayamkan di rumah duka di Jalan Sukabakti VI No. 29, Tangerang, dan akan dimakamkan di TPU Cipondoh, Tangerang.

Almarhum meninggalkan seorang istri, Hj. Neng Titiek, empat orang anak, serta lima orang cucu.

Selamat jalan, H. Atik Jauhari. Dedikasi, pengabdian, dan prestasimu akan selalu dikenang sebagai bagian penting dari sejarah kejayaan bulu tangkis Indonesia. WASPADA.id

  • Penulis adalah pemerhati olahraga

Ikuti WASPADA di Google Berita
Dapatkan berita terbaru langsung dari Google News.
Ikuti
Topik

Discussion

Bagikan pemikiran dan pendapat Anda

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.

Berita Terkait

Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement