SEPOTONG CINTA, SEPENUH JIWA

Cerpen Agusni AH
PENGANTAR REDAKSI:
“SEPOTONG CINTA SEPENUH JIWA” karya Agusni AH merupakan cerpen kontemplatif yang mengajak pembaca menelusuri perjalanan cinta dari kekaguman hingga ketulusan. Melalui tokoh Alone dan Layla, cinta tidak diposisikan semata-mata sebagai hasrat untuk memiliki, melainkan sebagai proses pendewasaan batin: dari mata menuju hati, dan dari hati menuju jiwa.
Kekuatan cerpen ini terletak pada pergulatan antara cinta dan nafsu. Alone pada mulanya mencintai dengan keinginan untuk memiliki, bahkan diliputi kecemburuan. Namun, pengalaman hidup bersama Layla, kehilangan, dan akhirnya kematian orang yang dicintainya mengubah cara pandangnya. Ia sampai pada kesadaran bahwa mencintai berarti menghormati kehendak, menjaga, dan mengikhlaskan.
Dengan bahasa yang sederhana, mengalir, dan sarat refleksi filosofis, Agusni AH menghadirkan pesan bahwa cinta yang matang bukanlah tentang seberapa erat seseorang menggenggam, melainkan seberapa tulus ia menjaga tanpa merasa berhak memiliki. Kematian Layla justru menjadi titik puncak pemaknaan cinta: ketika kehadiran berubah menjadi kenangan, cinta tetap hidup sebagai bagian dari jiwa.
“SEPOTONG CINTA SEPENUH JIWA” pada akhirnya bukan sekadar kisah percintaan, melainkan renungan tentang kehilangan, keikhlasan, dan hakikat mencintai manusia tanpa menjadikannya sebagai milik. Berikut sebuah catatan alegoris cerpen Sepotong Cinta karya Agusni AH:
SEPOTONG CINTA, SEPENUH JIWA
MULA-MULA ia hanya mengenalinya dari mata.
Tidak ada percakapan panjang. Tidak ada janji. Bahkan tidak ada alasan yang cukup masuk akal mengapa pandangan itu harus tinggal begitu lama di kepalanya.
Setiap pagi, perempuan itu selalu duduk di bangku paling ujung di sebuah warung kopi tua, menghadap ke arah badan jalan yang dipenuhi lalulalang kendaraan. Ia datang sendirian, memesan kopi kekinian, lalu membaca buku sambil sesekali menatap langit.
Diam-diam lelaki itu—namanya Alone mengamatinya dari jauh—tidak pernah tahu apa yang dibaca perempuan itu. Ia hanya tahu bahwa ada sesuatu pada perempuan itu yang membuat pagi terasa berbeda. Mungkin cara duduknya yang menyilang kedua kakinya, dan tangan kanannya sesekali memegang botol plastik berisi kopi dingin. Mungkin cara ia membalik halaman buku dengan perlahan.
Atau mungkin karena perempuan itu selalu tersenyum kepada siapa saja, tetapi tidak pernah memberikan senyum yang berlebihan kepada siapa pun. Tak terkecuali kepada Alone saat melintas di depannya.
“Namanya siapa?” tanya Alone suatu pagi kepada pemilik warung.
“Layla.”
“Datang setiap hari?”
“Tidak.”
“Kapan biasanya datang?”
Pemilik warung tersenyum.
“Kenapa kau bertanya seperti orang kehilangan sesuatu?”
Alone tertawa kecil.
“Belum kehilangan. Baru menemukan.”
Pemilik warung menatapnya beberapa detik.
“Berhati-hatilah. Tidak semua yang ditemukan harus dimiliki.”
Kalimat itu berlalu begitu saja.
Saat itu Alone belum mengerti. Hari-hari berikutnya, kagum perlahan turun dari mata menuju hati. Alone mulai mengenal Layla. Tidak banyak. Hanya serpihan-serpihan kecil dari kehidupannya. Layla seorang guru di sekolah ibtidaiyah. Ia tinggal bersama ibunya yang sudah tua. Ayahnya telah lama meninggal. Ia tidak pernah banyak bercerita tentang dirinya, tetapi selalu bersedia mendengarkan cerita orang lain. Alone menyukai sikap dan caranya berbicara.
Tidak tergesa, teratur. Tidak merasa paling benar. Dan satu paling penting setiap kata yang meluncur dari lidahnya tanpa menyisakan luka. Bahkan ketika berbeda pendapat, ia tidak pernah meninggikan suara.
“Kenapa kau selalu tenang?” tanya Alone suatu sore.
Layla tersenyum.
“Karena tidak semua hal harus dimenangkan.”
“Kalau cinta?”
Layla terdiam.
Kemudian ia menatap jalan di depan warung.
“Cinta juga tidak harus dimenangkan.”
Alone mengernyit.
“Lantas?”
“Kadang-kadang cinta hanya perlu dirawat sedianya dijaga.”
Jawaban itu membuat Alone diam.
Sejak hari itu, ia mulai memahami bahwa perasaan yang tumbuh dalam dirinya bukan lagi sekadar kagum.
Ia telah jatuh hati.
Tetapi hati manusia memiliki lorong-lorong yang panjang.
Di dalamnya ada cinta. Terkadang berubah menjadi cemas dan takut. Tak ayal rasa cemburu mengemuka.
Ada keinginan.
Dan ada nafsu yang sering menyamar sebagai cinta. Di tengah genangan rasa yang bercampur aduk, Alone mulai ingin memiliki Layla. Ia ingin tahu ke mana Layla pergi. Dengan siapa ia berbicara. Dengan siapa ada berbagi rasa. Mengapa suatu sore Layla duduk semeja dengan seorang lelaki di warung tua:
“Siapa dia?”
“Teman.”
“Teman?”
“Ya. Teman lama semasih SMA.”
Alone tersenyum, tetapi senyum itu tidak sampai ke matanya.
Malamnya ia tidak bisa tidur. Ia mulai bertanya kepada dirinya sendiri:
Bukankah aku mencintainya? Namun semakin ia bertanya, semakin ia menemukan sesuatu yang lain. Ia bukan sedang takut kehilangan Layla.
Ia sedang takut kehilangan hak atas Layla. Dan tiba-tiba ia merasa licik kepada dirinya sendiri.
Sebab cinta yang selama ini ia banggakan ternyata mulai ditunggangi keinginan untuk memiliki.
Beberapa hari kemudian mereka bertemu di tempat yang sama.
Seperti biasa Layla membaca buku.
Alone duduk di hadapannya.
“Aku ingin bertanya.”
“Tanyakan saja.”
“Kalau aku mencintaimu, apakah aku berhak memilikimu?”
Layla terperanjat, dan tanpa sengaja menutup bukunya.
“Tidak.”
Jawaban itu sederhana.
Tetapi bagi Alone, terasa seperti pintu yang ditutup secara dibanting.
“Kenapa?”
“Karena manusia bukan benda.”
Alone menunduk.
“Lantas apa gunanya cinta?”
Layla tersenyum.
“Untuk membuatmu belajar bahwa seseorang yang kau cintai mempunyai kehendak, kehormatan, dan jalan hidupnya sendiri.”
“Kalau aku ingin bersamamu?”
“Semua orang punya keinginannya sendiri-sendiri. Dan keinginanmu itu boleh saja. Tetapi keinginanku juga harus dihormati.”
Alone terdiam. Untuk pertama kalinya ia melihat cinta dari sisi yang berbeda. Selama ini ia mengira mencintai berarti mendekat. Padahal terkadang cinta justru tahu kapan harus memberi jarak.
***
Waktu berjalan.
Alone dan Layla akhirnya menikah.
Bukan karena Alone berhasil memiliki Layla. Melainkan karena keduanya memilih berjalan pada arah yang sama. Mereka melewati banyak hal: sakit, kehilangan pekerjaan, kematian ibu Layla, kegagalan-kegagalan kecil yang membuat hidup terasa panjang dan berat.
Bertahun-tahun kemudian, pada suatu malam, Layla jatuh sakit. Alone duduk di samping tempat tidurnya. Wajah perempuan yang dahulu membuatnya kagum dari kejauhan kini tampak pucat. Tangannya menggenggam tangan Layla, erat-erat. Tidak ada lagi kecemburuan.
Tidak ada lagi keinginan untuk memiliki. Yang tersisa hanya satu ketakutan sederhana: jika Layla pergi. "semoga ia baik-baik saja, meski kebaikan itu suatu hari mungkin harus berlangsung tanpa diriku."
Layla membuka mata.
“Kenapa menangis?”
Alone menggeleng.
“Aku tidak tahu.”
“Bohong.”
Alone tersenyum dipaksakan.
“Dulu aku mencintaimu karena ingin memilikimu.”
“Sekarang?”
Alone memandangnya lama.
“Sekarang aku mencintaimu karena aku ingin kau baik-baik saja.”
Layla tersenyum. Senyum yang sama seperti bertahun-tahun lalu. Senyum yang pertama kali membuat Alone jatuh cinta. Tetapi kali ini ia melihatnya dengan cara yang berbeda. Dulu ia melihat perempuan itu dengan mata. Kemudian dengan hati. Dan kini, setelah begitu banyak kehilangan dan pengorbanan, ia melihatnya dengan jiwa.
Menyusul cancer yang sudah stadium-4, beberapa bulan kemudian Layla pergi meninggal dunia untuk selamanya.
Tidak ada yang lebih sunyi daripada sebuah rumah yang baru saja kehilangan suara seseorang yang dicintai. Semua barang berharga dan pakaiannya masih berada di lemari.
Buku-bukunya masih tersusun rapi.
Kursi di dekat jendela masih kosong. Tetapi Layla telah menjadi kenangan.
Alone tidak berusaha menghapusnya. Ia juga tidak berusaha menggantikan tempatnya. Ia hanya melanjutkan hidup dengan membawa sepotong cinta yang pernah diberikan Layla kepadanya.
Suatu pagi, ia kembali ke warung kopi tua itu.
Pemiliknya yang sudah semakin renta masih sangat mengenalinya.
“Kau datang sendirian?”
Alone tersenyum.
“Tidak.”
Pemilik warung memandang ke belakangnya.
“Mana Layla?”
Alone menatap kursi di depan yang berhadapan jalan.
“Layla tidak datang lagi. Dia sudah pergi untuk selamanya.”
“Sudah lama?”
Alone mengangguk.
“Sudah.”
Pemilik warung menunduk, memahami.
Alonebmemesan kopi hitam tanpa gula.
Lalu duduk di kursi yang dahulu sering ditempati Layla. Ia membuka sebuah buku Layla. Di halaman pertama tertulis dengan tulisan tangan istrinya:
“Cinta bukan tentang siapa yang berhasil memiliki siapa. Cinta adalah tentang siapa yang tetap menjaga, bahkan ketika tidak lagi memiliki.”
Alone menutup buku.
Di luar, matahari perlahan naik.
Ia tersenyum. Barangkali benar—
cinta memiliki tiga tahapan. Ketika jatuh ke mata, ia bernama kagum. Ketika jatuh ke hati, ia menjelma cinta. Dan ketika telah meresap ke jiwa, ia menjadi sesuatu yang tak tergantikan. Tetapi ada satu tahap yang sering dilupakan manusia:
ketika cinta bertemu nafsu, ia diuji. Nafsu berkata:
“Aku ingin memiliki.” Cinta berkata:
“Aku ingin menjaga.”
Nafsu bertanya:
“Apa yang bisa kudapatkan darimu?”
Cinta menjawab:
“Apa yang bisa kuberikan agar hidupmu tidak terluka olehku?”
Dan pada akhirnya Alone mengerti—
cinta yang paling utuh bukanlah cinta yang menggenggam paling erat. Melainkan cinta yang mampu membuka telapak tangan, lalu berkata:
“Pergilah jika itu membuatmu bahagia. Tetapi jika kau memilih tinggal, ketahuilah bahwa seluruh hidupku akan belajar menjagamu tanpa pernah merasa berhak memilikimu.”
Itulah cinta yang telah sampai ke jiwa.
Sepotong cinta yang mungkin tak lagi utuh dalam bentuknya, tetapi menjadi sepenuh jiwa dalam kenangannya.***
Cikini-Jakarta, Medio 2023.
Sebuah catatan alegoris Agusni AH.



























Discussion
Bagikan pemikiran dan pendapat Anda