Breaking News
Memuat breaking news...

SEPOTONG DOA TERAKHIR CERPEN AGUSNI AH

Redaksi
Redaksi
Selasa, 16 Juni 2026 - 9.38 AM WIB
SEPOTONG DOA TERAKHIR CERPEN AGUSNI AH
Eksklusif di WhatsApp
Dapatkan berita terkini langsung di layar HP Anda
Waspada+ Gabung
Reading Comfort
adjust the font size

PENGANTAR REDAKSI:

Dalam cerpen "Sepotong Doa Terakhir", Agusni AH menghadirkan kisah yang menyentuh tentang cinta, penantian, kehilangan, dan perjalanan spiritual seorang perempuan dalam menerima takdir Allah. Melalui tokoh Cut Nuyan, pembaca diajak menyelami pergulatan batin seorang perempuan yang selama bertahun-tahun menyelipkan satu nama setiap doa dalam sujudnya, berharap lelaki yang dicintainya menjadi bagian dari takdir hidupnya.

Namun, ketika harapan yang terus dipertahankan berulang kali berhadapan dengan ketidakpastian, perpisahan, dan luka, Cut Nuyan perlahan menyadari bahwa tidak semua yang dicintai harus dimiliki. Di tengah upaya melepaskan masa lalu, ia menemukan pemahaman bahwa cinta yang paling menenangkan adalah cinta yang diserahkan sepenuhnya kepada kehendak Sang Pencipta.

Cerpen ini tidak hanya berbicara tentang kandasnya sebuah hubungan, tetapi juga tentang keberanian untuk mengoreksi diri, menerima kenyataan yang secara diam-diam menghadirkan lelaki lain di hidupnya. Atas ikhwal ini menjadi alasan mendasar oleh tokoh Banta yang kerap putus-sambung, bahkan memilih ikhlas pisah. Pembaca diajak mengetahui setelah adanya pesan terakhir dari Banta. Disini menunjukkan bahwa lelaki tak banyak bicara, meski kemudian terlihat sebagai pihak yang paling bersalah. Dengan latar budaya pesisir Aceh dan nuansa religius yang kuat, "Sepotong Doa Terakhir" menghadirkan refleksi mendalam mengenai cinta, keikhlasan, dan kepasrahan yang tumbuh dari hati yang belajar berdamai dengan takdir.

Melalui kisah ini, Agusni AH mengingatkan bahwa terkadang doa tidak selalu berakhir pada pertemuan, tetapi bisa pula bermuara pada penerimaan. Sebab, tidak semua cinta ditakdirkan untuk bersatu, namun setiap cinta yang tulus tetap dapat meninggalkan hikmah dan kedewasaan bagi mereka yang menjalaninya. Selamat membaca.

SEPOTONG DOA TERAKHIR

INI adalah shalat terakhir yang menyelipkan sebuah nama dalam doa. Bertahun-tahun lamanya, di setiap sujud perempuan ini selalu memohon kepada Allah agar lelaki yang dicintai menjadi bagian dari takdir yang ditetapkan untuknya. Kini ia mengakhiri doa itu, bukan karena kebencian, tetapi belajar menerima keputusan terbaik dari-Nya. Kecuali sepotong doa yang ia sisakan dan masih menggantung di dada.

Dalam setiap kesempatan tak hanya dalam sujud-sujudnya, ia juga bermunajat agar diberikan kekuatan dan keikhlasan untuk melepaskan kepergian seorang lelaki bernama Banta yang satu tahun lebih muda darinya. Tak ada lagi airmata yang memaksa takdir untuk berpihak, tak ada lagi permohonan agar Allah menjadikan lelaki itu sebagai pendamping hidupnya. Yang tersisa hanyalah kepasrahan dan keyakinan bahwa segala ketetapan-Nya mengandung hikmah terbaik.

Setelah beberapa saat tenggelam dalam doa, ia perlahan mengangkat kepala. Walau hatinya masih rersimpan luka, tetapi jiwanya mulai belajar menerima. Seusai shalat di sepertiga malam ini ia duduk termangu, seperti hari-hari yang dihabiskan untuk memikirkan sebuah masa depan bersama seorang lelaki yang dicintai, selama bertahun-tahun selalu menyelipkan satu nama yang sama dalam setiap munajatnya.

Penghujung malam itu bukan hanya sebuah doa yang usai, melainkan juga sebuah harapan yang ia serahkan sepenuhnya hanya kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala. Jika lelaki itu memang ditakdirkan untuknya, Allah akan mempertemukan mereka dengan cara yang terbaik, meski di usia senja nanti yang kini umurnya menyentuh angka 40 tahunan.

Selebihnya perempuan itu tak peduli lagi pada janji-janji maupun sejuta kenangan indah yang pernah mereka rajut di masa lalu. Semua itu kini mulai dikuburkan. Kali ini ia berusaha melepaskan diri dari segala keterikatan yang selama ini membelenggu hatinya. Baginya, semua yang pernah diimpikan bersama tak lebih dari sebuah fatamorgana, tampak begitu nyata mengapung di kejauhan, tetapi lenyap dan tenggelam saat didekati.

Meski demikian, perempuan itu harus mengakui bahwa di relung hatinya yang paling dalam masih tersimpan rasa iba. Rindu yang begitu halus menyusup ke relung-relung jiwa. Bukan karena masih berharap untuk memiliki, melainkan karena pernah ada cinta yang begitu tulus diperjuangkan dalam diam.

"Tetapi aku masih mencintai dan menyayangimu dengan sepenuh hati, tanpa basa-basi. Di benak dan sanubari ini kau masih nyata. Tak ada yang samar apalagi hilang," cetus Banta suatu kali.

"Sungguhkah itu ?" Tanya Cut Nuyan, seolah mencari kepastian di tengah rasa penasaran yang menggelayut.

Senja itu, mereka duduk di tepi pantai Selat Malaka. Di bawah pohon _keutapang_ nan rindang. Di balik rerimbunan pohon-pohon kelapa yang melambai-lambai, mengalun seirama angin laut berembus pelan, mengiringi percakapan yang lahir setelah sepekan mereka tak saling berjumpa akibat sebuah pertengkaran dari kesalahpahaman. Cut Nuyan menatap garis cakrawala yang memisahkan laut dan langit, sementara hatinya berusaha menimbang-nimbang ungkapan Banta. Apakah kalimat yang diucapkan barusan dari sebuah ketulusan atau sekadar kata-kata yang indah untuk didengar, namun susah untuk digenggam dalam kenyataannya yang tak pernah menjadi nyata. Bagaimana tidak, janji menikahinya selalu gagal karena alasan-alasan _klise_. Itupun tak terbicarakan secara detail semisal tentang perkerjaan Banta yang serabutan. Padahal, Cut Nuyun telah menerima segala konsekuensi yang bakal terjadi di kemudian hari. Begitupun, soal rezeki yang ada yang mengaturnya. Mustahil Allah membiarkan hambanya lapar sejauh manusia meyakini dan berusaha bahwa hidup memang harus diperjuangkan.

Banta terdiam sesaat. Matanya memandang ombak yang datang dan pergi silih berganti. Ia seakan tengah mencari jawaban pada laut yang terbentang di hadapan mereka. Namun terkadang, yang paling sulit dibuktikan bukanlah cinta itu sendiri, melainkan kesungguhan untuk tetap bertahan ketika keadaan yang tak berjalan seperti yang diharapkan. Cinta memang acap pasang surut seperti air laut yang disertai ombak--gelombang setiap waktu.

"Bukankah air laut juga setiap waktu mengalami pasang dan surut ?" Ujar Banta, berusaha meyakinkan Cut Nuyan.

Cut Nuyan mengalihkan pandangannya ke hamparan Selat Malaka yang membentang di hadapan mereka. Ombak kecil berkejaran menuju bibir pantai sebelum kembali ditelan laut. Ia memahami maksud perumpamaan Banta, tetapi hatinya belum bisa sepenuhnya menerima.

"Maksudmu, pertengkaran kita adalah sesuatu yang wajar ?" Tanya Cut Nuyan pelan, namun bagai menyergap perumpaan

Banta.

Banta mengangguk. "Tak ada hubungan yang selalu tenang, tanpa masalah, tanpa perbedaan, tanpa selisih paham. Pantai pun bisa berubah. Begitupun laut, ada kalanya pasang, ada kalanya surut. Namun laut tetaplah laut. Begitu juga perasaanku kepadamu. Pertengkaran tidak mengubah apa pun di hati ini." Banta menegaskan dengan kalimat sedikit panjang.

Cut Nuyan terdiam. Kata-kata itu terdengar menenangkan, sangat meyakinkan. Tetapi pengalaman mengajarkannya bahwa cinta tidak cukup dibuktikan dengan ucapan. Sebab janji paling indah sekalipun akan kehilangan makna jika tidak disertai kesungguhan dengan sikap atau perilaku manusia itu sendiri.

Senja perlahan turun. Cahaya matahari yang kemerahan memantul di permukaan laut, menciptakan kilau keemasan yang menari-nari di antara ombak. Semburat jingga menghiasi ufuk barat menjelang senja, memancarakan keindahan sebelum malam menjemputnya.

Di tengah suasana yang tampak damai itu, Cut Nuyan masih berusaha mencari jawaban. Apakah lelaki di hadapannya benar-benar akan tetap bertahan ketika gelombang kehidupan datang lebih besar daripada sekadar pertengkaran kecil di antara mereka. Cut Nuyan ingin sebuah kepastian, walau disadarinya bahwa apa pun yang terjadi di jagad itu semuanya atas kehendak Ilahi. Tak terkecuali dengan segala harapan dan cita-cita manusia, sehebat apa pun rancangannya tetap Sang Pencipta yang berhak menentukan akhirnya.

"Ya, aku percaya apa pun yang Banta sampaikan. Namun kita harus lebih yakin kepada segala yang ditakdirkan-Nya," sergah Cut Nuyan seraya meminta agar Banta tidak mengulangi cara yang sama. "Jika memang sudah begitu, sekarang aku meminta agar Banta tidak pergi-pergi lagi."

"Aku pun sudah lelah pergi darimu. Aku hanya damai di dekatmu, Cut." Sergah Banta dengan kakimat meyakinkan.

Cut Nuyan tersentak dari lamunannya yang panjang. Percakapan di tepi Pantai Selat Malaka itu hanyalah satu catatan kecil dari sekian banyak kenangan yang kini lebih terasa sebagai luka. Ia bahkan tak sanggup lagi mengingat satu per satu pertengkaran yang pernah terjadi di antara mereka. Yang paling melekat dalam ingatannya justeru kebiasaan lelaki itu setiap kali menghadapi kesalahpahaman, bahkan yang sepele sekalipun, Banta selalu memilih menjauh, menghilang tanpa penjelasan. Lalu menutup seluruh akses komunikasi. Cut Nuyan sudah tak ingat untuk keberapa kalinya nomor teleponnya diblokir. Banta pergi begitu saja, tanpa kabar, tanpa penjelasan, seolah hubungan yang mereka bangun tak pernah memiliki arti apa pun.

Namun anehnya, setelah beberapa waktu berlalu, selalu saja muncul sebuah notifikasi yang membuat harapan lama berdenyut kembali. Sebuah pesan singkat, sapaan sederhana, atau permintaan maaf yang tak pernah benar-benar menjelaskan alasan kepergiannya. Percakapan pun tersambung lagi seperti biasa. Mereka kembali saling menyapa, kembali berbagi cerita, bahkan kembali berjumpa.

Demikianlah siklus itu berulang. Datang, dekat, lalu menjauh. Kembali hadir, lalu menghilang--pergi.

Pada awalnya Cut Nuyan menganggap semua itu sebagai ujian yang harus dilalui sebagai dua insan yang saling mencintai untuk dimaklumi. Namun seiring waktu berjalan, Cut Nuyan mulai menyadari bahwa yang paling melelahkan bukanlah pertengkaran itu sendiri, adalah ketidakpastian yang selalu menyertainya.

Kini, saat mengenang semuanya itu, Cut Nuyan tidak lagi berusaha mencari siapa yang benar dan siapa yang salah. Ia hanya menyadari bahwa terlalu banyak airmata yang telah jatuh untuk mempertahankan seseorang yang begitu mudah datang dan pergi. Menjadi hidup dalam waktu yang sia-sia. Dan mungkin, luka terdalam bukanlah ketika seseorang meninggalkan, melainkan ketika ia berkali-kali datang membawa harapan, lalu pergi lagi tanpa kepastian. Cut Nuyan tidak sedang mencari siapa yang benar dan siapa yang salah. Ia juga tidak ingin menjadikan dirinya sebagai hakim yang paling benar dalam memutuskan sebuah perkara atas lelaki yang pernah begitu dicintainya. Namun, dalam perenungannya yang panjang, ia menyadari ada kesalahan yang lebih mendasar daripada sekadar pertengkaran atau kesalahpahaman yang berulang.

Hubungan dan kebersamaan yang mereka jalani selama ini perlahan telah menjauh dari nilai-nilai agama yang diyakininya. Banyak hal yang dahulu dijaga penuh tatanan ternyata tidak lagi sejalan dengan tuntunan Allah Ajawajalla dan risalah Rasul-Nya. Dalam upaya mempertahankan perasaan, ia mungkin terlalu sering mengabaikan batas-batas yang seharusnya tidak mengingkar. Tidak menerabas dan melewati garis norma yang selama ini diyakini sebagai cara hidup yang bertanggung jawab.

Karena itulah, kini Cut Nuyan tidak lagi memandang semua yang terjadi semata-mata sebagai akibat dari sikap dan kesalahan Banta. Ia justeru lebih berusaha mengoreksi dirinya sendiri. Barangkali Allah Ta'ala tidak meridhai kebersamaan mereka berjalan sebagaimana yang diharapkan. Kebersamaan yang tanpa ikatan pernikahan. Barangkali jalan yang berulang kali dipenuhi perpisahan, kesalahpahaman, dan luka itu adalah cara Allah menunjukkan bahwa ada sesuatu yang harus diperbaiki terlebih dahulu.

Pemikiran itu tidak membuatnya membenci masa lalu. Sebaliknya, ia belajar menerimanya sebagai pelajaran yang berharga. Sebab tidak semua yang diinginkan hati akan menjadi kebaikan, dan tidak semua yang disusun pikiran akan berbuah nyata, dan kegagalan ini bukan merupakan keburukan. Terkadang Allah menahan sesuatu bukan karena Dia tidak mendengar tak mengabulkan doa hamba-Nya. Melainkan karena Dia lebih mengetahui apa yang layak dipersatukan dan apa yang harus dipisahkan. Diyakininya Allah Maha Tahu atas segala ciptaan-Nya.

Untuk pertama kalinya, Cut Nuyan merasa bahwa tugasnya bukan lagi memperjuangkan seseorang agar tetap tinggal, melainkan memperbaiki hubungannya dengan Allah semata. Ia juga meyakini jika ridha-Nya telah didapatkan, maka apa pun ketetapan yang datang setelah itu akan lebih mudah diterima oleh hati dan pikiran.

Jika pada waktu-waktu sebelumnya nomor kontaknya selalu diblokir seiring lelaki itu pergi tanpa berita, maka kali ini Cut Nuyan memilih sebaliknya. Ia tidak menutup akses buat lelaki itu, tidak pula menyimpan amarah atau dendam. Yang ia kunci adalah pintu harapan di dalam hatinya sendiri.

Dengan perlahan Cut Nuyan menutup lembar demi lembar kisah yang selama bertahun-tahun memenuhi ruang pikirannya. Kisah yang pernah ia yakini sebagai jawaban atas doa-doanya, tetapi pada akhirnya lebih menyerupai fatamorgana, tampak begitu indah dan menjanjikan dari kejauhan. Namun menghilang ketika hendak digenggam. Cut Nuyan memahami bahwa melupakan bukan perkara mudah, tidak semudah membalikkan telapak tangan. Kenangan tidak dapat dihapus dalam semalam, sebagaimana luka tidak serta-merta sembuh hanya karena waktu berlalu. Namun ia memilih berhenti menunggu sesuatu yang tidak pasti.

Kini ia tidak lagi menanti notifikasi yang tiba-tiba muncul, tidak lagi berharap pada pesan yang datang setelah sekian lama menghilang, dan tidak lagi menggantungkan harapan untuk sebuah kebahagiaan hingga membangun rumah tangga dengn seseorang yang begitu mudah pergi tanpa penjelasan.

Di penghujung doa yang menggantung di dada, Cut Nuyan menyerahkan semuanya kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala. Ia melepaskan, bukan karena telah berhenti menyayangi, melainkan kini menyadari bahwa cinta yang paling menenangkan adalah cinta yang tidak memaksa takdir.

Maka malam itu, bersamaan dengan salam terakhir yang mengakhiri shalatnya, Cut Nuyan juga menutup sebuah balada cinta fatamorgana, sebuah kisah yang pernah ia perjuangkan dengan sepenuh hati, lalu ia lepaskan dengan penuh keikhlasan, tanpa harus mendendami.

Malam yang kian menuju penghujung waktu, diantara kegundahan yang masih mendera, meski hatinya mulai berangsur tenang, tiba-tiba ponselnya bergetar. Sebuah pesan WhatsApp masuk, memecah keheningan malam yang sedari tadi menyelimutinya. Banta mengirim pesan:

"Cut, sebelumnya aku memohon maaf sebesar-besarnya. Di penghujung malam ini, mungkin untuk terakhir kalinya aku mengirimkan pesan kepadamu. Aku yakin kini Cut telah mampu menerima kenyataan yang terjadi di antara kita.

Namun, ada satu hal yang perlu kusampaikan. Tentang kebiasaanku pergi tanpa kabar dan berulang kali memblokir nomor ponselmu, meskipun persoalan yang muncul berawal dari hal sederhana dan sepele. Sesungguhnya, bukan hanya karena masalah-masalah itu. Aku sering diliputi rasa cemburu. Ya, cemburu yang teramat dalam terhadap kedekatanmu dengan lelaki itu.

Pada akhirnya, aku memilih mengalah. Aku ingin memberikan kesempatan kepadamu untuk meraih kebahagiaan yang lebih layak kau dapatkan dalam berumah tangga bersamanya. Dalam pandanganku, ia jauh lebih mampu memberikan masa depan yang baik untukmu dibandingkan diriku. Jika selama ini sikapku telah melukai perasaanmu, sekali lagi aku meminta maaf. Semoga Allah memberikan jalan terbaik bagi setiap pilihan dan takdir yang telah ditetapkan-Nya untuk kita. Sekadar Cut ketahui ujung kalimat dari pesan terakhir ini adalah sebuah doa di setiap sujudku selama ini dan seterusnya: doaku semoga Allah memberikan kebahagiaan dunia dan akhirat buat buat rumah tanggamu. Dan, aku akan memilih hidup sendiri untuk selamanya."

Layar ponsel Cut Nuyan perlahan menjadi buram. Butiran air mata yang tak lagi mampu dibendung jatuh bercucuran, membasahi pipinya sekaligus menitik di permukaan layar yang masih menampilkan pesan terakhir itu adalah sebentuk doa dari Banta.***.

Ikuti WASPADA di Google Berita
Dapatkan berita terbaru langsung dari Google News.
Ikuti
Topik

Discussion

Bagikan pemikiran dan pendapat Anda

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.
Berita Terkait
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement