Breaking News
Memuat breaking news...

Setetes Darah Di Ujung Jarum, Kisah Kecil Dari Almanza Untuk Kemanusiaan

Redaksi
Redaksi
Senin, 3 November 2025 - 2.45 PM WIB
Setetes Darah Di Ujung Jarum, Kisah Kecil Dari Almanza Untuk Kemanusiaan
Eksklusif di WhatsApp
Dapatkan berita terkini langsung di layar HP Anda
Waspada+ Gabung
Reading Comfort
adjust the font size

Pagi itu, Senin (3/11) langit Sigli masih berbalut lembut cahaya. Di halaman RSUD Tgk Chik Ditiro (TCD), angin berhembus pelan, membawa aroma tanah basah dan harapan.

Di antara lalu-lalang petugas medis dan denting alat donor darah, seorang pria berseragam rapi melangkah tenang Dialah, Almanza, S.STP, Kepala Bagian Pemerintahan Setdakab Pidie.

Di tengah rutinitasnya menata urusan pemerintahan, ia masih setia pada satu kebiasaan lama yang tidak pernah pudar: mendonorkan darah. Sebuah kebiasaan yang telah menempel sejak masa mudanya di IPDN Jatinangor, kala semangat menolong sesama tumbuh di antara lembar-lembar buku dan disiplin praja.

“Dulu waktu di IPDN, saya rajin donor darah,” ucapnya perlahan, seolah mengingat sesuatu yang sederhana tetapi berharga. “Sekarang memang lebih jarang, tetapi semangatnya tidak pernah hilang.” tuturnya lagi dengan nada lembut.

Jarum kecil menembus kulitnya, darah merah mengalir dalam tabung transparan. Bagi sebagian orang, itu mungkin hal biasa. Namun bagi Almanza, setetes darah adalah kisah tentang kehidupan, tentang bagaimana manusia bisa saling menjaga tanpa harus mengenal satu sama lain.

“Setetes darah yang kita donorkan sangat berarti bagi mereka yang membutuhkan,” tuturnya, suaranya tenang tetapi berisi.

Lulusan SMU Negeri 1 Sigli tahun 2003 dan IPDN angkatan XVI tahun 2008 ini telah melintasi banyak jalan pengabdian: dari Camat Tiro (2018–2021) hingga kini menjadi Kabag Pemerintahan Setdakab Pidie. Namun di balik segala jabatan dan tanggung jawab, ia tetap menaruh tempat bagi sisi kemanusiaan yang lembut, sebuah ruang di hati untuk berbagi.

Ia percaya, menolong tidak selalu harus dengan harta atau kekuasaan. Kadang, cukup dengan keberanian untuk memberi sebagian dari diri sendiri.

“Donor darah bukan hanya untuk mereka yang membutuhkan,” katanya. “Tetapi juga untuk diri kita, agar hidup ini tetap sehat dan bermakna.”katanya.

Ketika kantong darah itu penuh, seorang petugas tersenyum dan mengucap terima kasih. Almanza pun berdiri, menepuk lengan yang dibalut perban kecil. Di wajahnya, tergambar rasa lega yang sederhana. Mungkin inilah bentuk bahagia yang paling tulus: saat kita tahu, ada kehidupan lain yang bisa terus berjalan karena kebaikan sekecil setetes darah.

Hari itu, Sigli kembali ramai. Tetapi di hati Almanza, dan barangkali juga di hati siapa pun yang melihatnya tersimpan pesan yang lembut. Menolong tidak selalu harus besar. Kadang, hanya perlu seujung jarum dan niat yang tulus.

Muhammad Riza

Ikuti WASPADA di Google Berita
Dapatkan berita terbaru langsung dari Google News.
Ikuti
Topik

Discussion

Bagikan pemikiran dan pendapat Anda

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.
Berita Terkait
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement