Breaking News
Memuat breaking news...

SHALAT Sebagai Mikraj Orang Beriman

Redaksi
Redaksi
Kamis, 10 Maret 2022 - 1.06 AM WIB
W
Waspada
Eksklusif di WhatsApp
Dapatkan berita terkini langsung di layar HP Anda
Waspada+ Gabung
Reading Comfort
adjust the font size

Kendati peristiwa mikraj hanya dialami oleh Nabi Muhammad Saw, namun tidak menutup peluang umatnya dapat menghayati maknanya. Hal ini tergambar pada sabda Nabi Muhamamd Saw bahwa “shalat adalah mikrajnya orang beriman” (ash-shalatu mi’rajul mukmin), sebagaimana judul di atas.
Hadits ini memberi panduan (guidance) jika ada keinginan untuk nenaik (mikraj, taraqqi) kepada Tuhan, yaitu dengan melaksanakan shalat.

Sebagaimana dimaklumi bahwa shalat adalah aktifitas hati (rukun qalbi), aktifitas anggota badan (rukun fi’li) dan aktifitas lidah (rukun qawli). Shalat yang sempurna haruslah terintegral di dalamnya ketiga aktifitas tersebut
Namun jika menelisik lebih jauh, makna terdalamnya ialah ingat kepada Allah, sesuai kata al-Qur’an pada surat ..”aqimish-shalata lizikriy, kerjakanlah shalat untuk mengingat-Ku”. Saat mengingat itulah, pelaku shalat harus konsentrasi penuh, dan saat itulah proses mikraj berlangsung, yang dalam teori Insan Kamil disebut dengan “taraqqi”, yaitu spiritual manusia menaik mendekat kepada Allah (taqarrub ila Allah).


Namun kata Imam al-Ghazali dan sufi aliran Baghdad lainnya, kedekatan itu hanyalah sebatas “kesadaran rohani” (wahdatusy-syuhud), tidak sampai pada kedekatan substansial (wahdatul wujud), sebagaimanan dianut oleh para sufi aliran Isfahan, Iran, seperti Abu Yazid al-Busthamiy, Al-Hallaj dan Ibn ‘Arabi. Menurut Abu Yazid al-Busthamiy, kedekatan bisa dalam bentuk ittihad, yaitu lahut manusia bersatu dengan nasut Tuhan.

Atau menurut Al-Hallaj dalam bentuk hulul, yaitu nasut Tuhan bersatu dengan lahut manusia. Sedangkan menurut Ibn ‘Arabi, kedekatan sampai pada titik substansial, yang disebutnya dengan wahdatul wujud.
Namun ketiga teori ini tidak terjebak pada aliran panteisme, karena yang bersatu hanya lahut manusia dengan nasut Tuhan (Ittihad Abu Yazid al-Busthamiy), nasut Tuhan dengan lahut manusia (hulul Al-Hallaj), dan kesatuan hakekat (al-haqiqat) dan bukan hakekat (al-majaz) atau seperti kaitan angka 1 pada angka-angka lainnya (al-‘adad), atau hubungan antara bayangan dicermin dan pemilik bayangan (al-mir’ah) dan lain-lain (wahdatul wujud Ibn Arabi).


Kembali ke judul di awal, saat mikraj yang dilakukan dalam shalat, manusia akan merasakan kenikmatan beragama (kenikmatan spiritual), seolah tidak merasakan lagi apapun yang dihadapi. Hal ini dapat dilihat pada kasus Ali bin Abi Thalib yang terhunjam anak panah. Saat di luar shalat, Ali bin Abi Thalib merasakan rasa sakit yang luar biasa, namun ketika shalat, anak panah dicabut, ia tidak merasakan apa-apa.

…10=3=2022..

Ikuti WASPADA di Google Berita
Dapatkan berita terbaru langsung dari Google News.
Ikuti
Topik
No topics for this article yet.

Discussion

Bagikan pemikiran dan pendapat Anda

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.
Berita Terkait
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement