Breaking News
Memuat breaking news...

SILENT ACTION

Redaksi
Redaksi
Minggu, 6 September 2026 - 2.59 PM WIB
SILENT ACTION
Eksklusif di WhatsApp
Dapatkan berita terkini langsung di layar HP Anda
Waspada+ Gabung
Reading Comfort
adjust the font size
Advertisement

Cerpen Agusni AH

PENGANTAR REDAKSI:

Cerpen SILENT ACTION karya Agusni AH menghadirkan sebuah ironi tentang ruang-ruang forum yang dipenuhi manusia, tetapi justru miskin pendengaran. Di tengah riuh perdebatan, klaim kebenaran, dan hasrat untuk memenangkan pendapat, tokoh lelaki ringkih memilih jalan yang berlawanan: diam. Namun, diam dalam cerpen ini bukan lambang ketidakberdayaan. Agusni AH justru membalik cara pandang umum tentang kesunyian. Ketika kata-kata telah kehilangan makna karena terlalu banyak diperdagangkan, tindakan menjadi bahasa yang lebih jujur. Pengeras suara dapat membesarkan suara, tetapi tidak selalu membesarkan kebenaran. Melalui suasana forum yang penuh ego, pembenaran, dan klaim “kemutlakan”, cerpen ini menyindir kecenderungan manusia untuk lebih sibuk memenangkan perdebatan daripada menemukan kebenaran. Lelaki ringkih yang dianggap pengecut justru menyimpan kekuatan lain: kemampuan untuk tidak larut dalam kebisingan.

Akhir cerita menjadi penegasan gagasan utama SILENT ACTION: tidak semua perubahan dimulai dengan pidato, tidak semua keberanian harus diteriakkan, dan tidak semua kemenangan lahir dari perdebatan. Ada kalanya, tindakan yang dilakukan dalam diam meninggalkan jejak jauh lebih panjang daripada ribuan kata yang diperebutkan di atas mimbar.

Dengan gaya reflektif dan simbolik, Agusni AH mengajak pembaca merenungkan sebuah pertanyaan sederhana, tetapi menggugah: siapa sesungguhnya yang bekerja, ketika semua orang sibuk berbicara? Silahkan pembaca menyimaknya.(red).

SILENT ACTION

ORANG-ORANG berbicara menggunakan pengeras suara. Ia diam dengan mulut bagai direnda benang layangan. Kedua bibir bawah-atas tersimpul rapat.

Di hadapannya, suara-suara bersahutan, bertubrukan, lalu mengembang menjadi kebisingan yang memenuhi ruangan. Ada yang berpidato tentang perubahan. Ada yang menjanjikan masa depan. Ada pula yang sibuk menyebut dirinya paling tahu jalan menuju kebenaran.

Ruangan dipenuhi riuh. Orang-orang saling melakukan pembenaran atas semua yang diyakini masing-masing. Suara-suara bersahutan, bertumpuk, lalu pecah menjadi serpihan kalimat yang nyaris tak lagi memiliki arah. Setiap orang datang membawa kebenarannya sendiri, menggenggamnya erat-erat seperti benda pusaka yang tak boleh disentuh, apalagi dipertanyakan.

Forum itu berlangsung di sebuah ruangan besar yang dingin oleh pendingin udara, tetapi panas oleh kepala-kepala yang dipenuhi keyakinan. Di atas meja panjang, botol-botol air mineral berjajar, sebagian telah terbuka dan kehilangan kesegarannya. Berkas-berkas bertumpuk di depan para peserta, sebagian penuh coretan, sebagian lagi dibiarkan utuh—seolah sejak awal tak pernah benar-benar dibaca.

Di sudut ruangan, beberapa orang sibuk berbisik. Ada yang mengangguk-angguk, ada pula yang menatap lurus ke depan dengan wajah tegang. Sejumlah peserta sesekali melirik layar telepon genggam di bawah meja, sementara yang lain tampak sibuk mencatat sesuatu yang entah akan digunakan sebagai bahan pertimbangan atau sekadar bukti bahwa mereka hadir.

“Ini adalah kemutlakan!”

Suara lelaki tambun itu mendadak membelah riuh.

Ia berdiri dengan dada sedikit dibusungkan. Dasi yang melingkari lehernya tampak terlalu ketat, sementara jas gelap yang dikenakannya memberi kesan seolah kewibawaan dapat dijahit bersama kain dan kancing. Tangannya terangkat, telunjuk kirinya menunjuk ke langit ruangan, seperti hendak memastikan bahwa langit pun menjadi saksi atas apa yang baru saja diucapkannya.

“Tidak ada lagi ruang untuk penafsiran!” lanjutnya. “Kita sudah membahas ini berkali-kali. Semua dasar telah jelas. Semua argumentasi telah selesai. Apa yang saya sampaikan bukan lagi sekadar pendapat!”

Beberapa orang segera mengangguk.

Entah karena sepakat.

Entah lantaran takut terlihat berbeda.

Entah pula karena dalam forum semacam itu, anggukan kadang lebih aman daripada sebuah pertanyaan.

Namun, di tengah meja depan, seorang petinggi yang sejak tadi duduk tenang hanya menyeringai ringan. Senyumnya tipis, hampir tak terlihat, tetapi cukup untuk mengusik suasana. Ia menyandarkan tubuh ke kursi, menyilangkan kedua tangan di atas dada, lalu menatap lelaki tambun itu seperti seseorang yang baru saja mendengar sebuah presentasi lucu yang terlalu serius untuk ditertawakan.

“Kemutlakan?” ulangnya perlahan.

Ruangan mendadak mereda.

Beberapa kepala menoleh.

Lelaki tambun itu masih berdiri. Wajahnya mulai memerah, tetapi ia berusaha mempertahankan ketegasan yang sejak tadi dibangunnya.

Petinggi itu kembali menyeringai.

“Menarik,” katanya.

Ia berhenti sejenak, membiarkan satu kata itu menggantung di antara meja, kursi, dan wajah-wajah yang mulai kehilangan keberanian untuk bergerak.

“Biasanya,” lanjutnya kemudian, “orang yang paling sering menyebut sesuatu sebagai kemutlakan adalah mereka yang paling takut jika ternyata masih ada kemungkinan lain.”

Tak ada yang segera menjawab.

Pendingin udara tetap berdengung.

Jarum jam terus bergerak.

Dan di dalam ruangan itu, untuk beberapa saat, semua orang seperti baru menyadari sesuatu: bahwa perdebatan mereka mungkin bukan sedang mencari kebenaran.

Mereka hanya sedang berlomba menentukan siapa yang paling berhak menyebut dirinya benar.

Lelaki ringkih itu diam.

“Biarlah diam menjadi sebuah kebodohan yang terpampang di mata-mata semu,” gumamnya. Sebab kadang-kadang, pikirnya, menjelaskan kebenaran kepada mereka yang telah memilih untuk tidak percaya hanyalah pekerjaan melelahkan. Kata-kata akan berubah menjadi debu sebelum sampai ke telinga, sementara kejujuran kerap tampak seperti kesalahan di hadapan mata yang telah lama diselimuti prasangka.

Maka ia memilih diam—meski diam itu perlahan melukainya dari dalam. Ia membiarkan dirinya tampak bodoh, kalah, bahkan tak berdaya. Sebab ia tahu, tidak semua kebodohan lahir dari ketidaktahuan; sebagian adalah keberanian untuk tidak membalas dunia dengan kebisingan yang sama.

Di dalam kesunyiannya, lelaki ringkih itu masih menyimpan sesuatu yang tak seorang pun mampu melihatnya: keyakinan bahwa suatu ketika, mata-mata semu itu akan lelah menatap bayangan mereka sendiri.

Sesekali matanya bergerak, menyapu wajah-wajah yang sedang bersemangat menjual kata-kata. Ia tidak mencatat. Tidak pula mengangguk. Hanya memperhatikan.

Orang-orang mengira ia tidak mengerti. Sebagian menganggapnya pengecut. Sebagian lainnya bahkan telah memasukkannya ke dalam daftar orang-orang yang tidak memiliki keberanian untuk mengambil sikap.

Ia tidak membantah. Sebab baginya, membantah dengan kata-kata hanyalah menambah satu suara di antara suara-suara yang sudah terlalu ramai. Ia lebih percaya kepada tindakan. Kata-kata dapat berbohong. Suara dapat direkayasa. Pengeras suara dapat membuat bisikan terdengar seperti kebenaran. Tetapi tindakan meninggalkan jejak.

Malam telah turun ketika kerumunan itu bubar. Satu demi satu orang meninggalkan tempat dengan dada penuh kebanggaan, membawa pulang kalimat-kalimat yang telah mereka ucapkan sendiri.

Ia masih duduk di sana. Sendirian.

Lampu ruangan tinggal beberapa yang masih menyala. Kursi-kursi berserakan. Mikrofon tergeletak di atas meja seperti mulut yang kelelahan berbicara.

Ia berdiri.

Merapikan satu kursi. Kemudian kursi yang lain. Tidak ada yang melihat.

Setelah itu, ia memungut secarik kertas yang tercecer di lantai. Dibacanya sekilas kalimat yang tertulis di sana:

“Aku telah memenangkan debat yang tak bermutu. Dan ide-ide pikiran kutelah menetap di kepala mereka.”

Lelaki ringkih itu tersenyum tipis. Senyum yang nyaris tak sempat menjadi senyum. Ia merasa kalimat itu seperti sebuah pengakuan yang tersesat—tentang kemenangan yang tak pernah benar-benar membebaskan. Sebab memenangkan perdebatan, kadang, bukan berarti memenangkan diri sendiri. Ada kata-kata yang berhasil dibungkam, ada lawan yang dipaksa terdiam, tetapi kepala-kepala yang dikalahkan itu justru pulang dan menetap di dalam pikiran. Mereka berubah menjadi suara-suara kecil, berdebat tanpa henti di ruang batin yang semakin sempit.

Ia meremas kertas itu perlahan.

Namun, sebelum kertas itu benar-benar menjadi segumpal kusut, ia kembali membukanya. Dan berulang kali membacanya.

Barangkali, pikirnya, kekalahan paling menyedihkan bukan ketika seseorang tak mampu memenangkan perdebatan, melainkan ketika ia menang, tetapi tak pernah lagi mampu keluar dari kepala orang-orang yang telah dikalahkannya.

Di luar, jalanan mulai lengang. Ia berjalan tanpa tergesa. Tidak ada kamera yang mengikutinya. Tidak ada wartawan yang bertanya. Tidak ada tepuk tangan.

Namun malam itu, sesuatu telah dimulainya. Sesuatu yang kelak membuat orang-orang bertanya-tanya:

Siapa yang sebenarnya bekerja ketika semua orang sibuk berbicara dan berdebat?(***).

Ikuti WASPADA di Google Berita
Dapatkan berita terbaru langsung dari Google News.
Ikuti
Topik

Discussion

Bagikan pemikiran dan pendapat Anda

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.
Berita Terkait
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement