Soal Indonesia Bisa Jadi Ekonomi Terbesar Keempat Dunia, Menaker: Tapi Ada SyaratnyaSoal Indonesia Bisa Jadi Ekonomi Terbesar Keempat Dunia, Menaker: Tapi Ada Syaratnya

JAKARTA (Waspada.id): Indonesia bisa menjadi ekonomi terbesar keempat di dunia pada 2050 setelah Tiongkok, India, dan Amerika Serikat. Namun, ada satu syarat utama yang harus dipenuhi, yakni membangun sumber daya manusia (SDM) yang memiliki pola pikir inovatif.
"Tanpa generasi muda yang berani berinovasi, peluang mewujudkan Indonesia Emas 2045 akan sulit tercapai," ujar Menteri Ketenagakerjaan Yassierli saat menjadi pembicara dalam Tanoto Scholars Gathering di Pangkalan Kerinci, Riau, pekan lalu.
Pernyataan itu sejalan dengan laporan The World in 2050 yang dirilis PricewaterhouseCoopers (PwC) yang memproyeksikan Indonesia menjadi salah satu kekuatan ekonomi terbesar dunia pada 2050. Menurut Yassierli, peluang tersebut hanya dapat diwujudkan apabila Indonesia mampu melahirkan lebih banyak pemimpin, profesional, dan inovator yang mampu menciptakan solusi bagi berbagai persoalan masyarakat.
"Inovasi menjadi satu kata yang menjadi tantangan kita dan tidak banyak didiskusikan. Ini harus dibicarakan, terutama kepada para leader yang lahir hari ini. Saya yakin adik-adik Tanoto Scholar memiliki kompetensi inovasi untuk menjadi pemimpin yang berkontribusi mewujudkan Indonesia Emas 2045," ujar Yassierli.
Guru Besar Institut Teknologi Bandung (ITB) itu mengakui posisi Indonesia dalam Global Innovation Index 2025 masih berada di peringkat ke-55, tertinggal dari sejumlah negara di Asia Tenggara seperti Malaysia dan Vietnam. Meski demikian, ia optimistis Indonesia mampu bertransformasi menjadi innovation nation apabila mampu membangun budaya inovasi sejak dini.
Menurut Yassierli, inovasi bukan sekadar menciptakan produk baru, tetapi menghadirkan nilai baru yang mampu menjawab kebutuhan masyarakat. Karena itu, inovasi selalu berawal dari rasa empati terhadap persoalan yang dihadapi banyak orang.
Ia mencontohkan lahirnya layanan transportasi berbasis aplikasi yang muncul dari kebutuhan masyarakat akan moda transportasi yang mudah diakses sekaligus membantu pengemudi memperoleh pelanggan. Berbagai inovasi besar, kata dia, lahir dari kemampuan melihat masalah, kemudian menghadirkan solusi yang memberi manfaat luas.
"Melalui empati, kita memiliki perhatian terhadap persoalan yang dihadapi masyarakat. Banyak inovasi besar yang berkembang hingga menjadi layanan berskala global berawal dari rasa empati," katanya.
Yassierli menambahkan, perkembangan teknologi, termasuk kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI), membuat persaingan inovasi antarnegara semakin ketat. Karena itu, generasi muda Indonesia tidak boleh hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi harus mampu menciptakan dan mengembangkannya.
"Jangan hanya menjadi user. Setelah menjadi pengguna, berkembanglah menjadi developer, kemudian orchestrator, hingga akhirnya menjadi leader," ujarnya.
Ia menegaskan, untuk menjadi pemimpin masa depan, generasi muda harus memiliki innovation mindset, yakni cara berpikir yang selalu terbuka terhadap teknologi baru, metode kerja baru, maupun solusi baru dalam menyelesaikan persoalan.
Selain membangun pola pikir inovatif, Yassierli juga mengajak generasi muda menumbuhkan growth mindset. Menurutnya, pola pikir ini membuat seseorang terus belajar, berani menghadapi tantangan, tidak mudah menyerah, dan yakin bahwa kemampuan dapat terus berkembang melalui proses belajar.
Sebaliknya, ia mengingatkan agar generasi muda menghindari fixed mindset, yakni kecenderungan merasa cukup dengan kemampuan yang dimiliki, takut mencoba hal baru, serta mudah menyerah ketika menghadapi kegagalan.
Untuk membangun growth mindset, Yassierli mendorong mahasiswa mencari mentor atau coach yang dapat menjadi teladan dalam menghadapi tantangan. Ia juga menyarankan generasi muda mempelajari kisah para pemimpin dan inovator dunia melalui buku-buku biografi agar dapat mengambil inspirasi dari perjalanan hidup mereka.
Menurut Yassierli, tantangan peningkatan kualitas SDM Indonesia masih cukup besar. Saat ini, hanya sekitar 14 persen dari total 155 juta angkatan kerja yang pernah mengenyam pendidikan tinggi, sedangkan mayoritas lainnya berpendidikan SMA, SMK, atau di bawahnya.
Karena itu, pemerintah terus memperluas berbagai program peningkatan kompetensi tenaga kerja, salah satunya melalui program pemagangan nasional yang menyediakan kuota sekitar 150 ribu lulusan baru setiap tahun.
"Hingga sebelum masa magang selesai, sekitar 30 persen peserta sudah memperoleh tawaran kerja. Ini merupakan bentuk kontribusi nyata untuk meningkatkan kualitas tenaga kerja Indonesia," katanya.
Yassierli menilai upaya meningkatkan kualitas SDM tidak dapat dilakukan pemerintah sendiri, tetapi membutuhkan dukungan berbagai pihak, termasuk lembaga filantropi di bidang pendidikan.
Ia mengapresiasi Program Beasiswa TELADAN yang diselenggarakan Tanoto Foundation karena tidak hanya memberikan bantuan biaya pendidikan dan tunjangan hidup, tetapi juga membekali mahasiswa dengan pelatihan kepemimpinan, pengembangan karakter, proyek sosial, hingga pengalaman magang.
"Saya melihat sendiri bagaimana beasiswa Tanoto menjadi harapan bagi banyak mahasiswa dan keluarganya untuk meraih mimpi. Program seperti ini juga menumbuhkan semangat melahirkan pemimpin dan inovator masa depan," ujarnya.
Yassierli menegaskan, Indonesia hanya akan mampu menjadi negara maju apabila berhasil membangun bangsa yang inovatif.
"Pada 2045 Indonesia akan menjadi negara besar hanya jika kita menjadi innovation nation. Ketika inovasi tumbuh, berbagai persoalan, termasuk keterbatasan lapangan kerja, akan lebih mudah diatasi," pungkasnya.
Pendaftaran Program Beasiswa dan Pengembangan Kepemimpinan TELADAN Cohort 2027 masih dibuka hingga 7 September 2026 bagi mahasiswa semester pertama jenjang sarjana di 10 perguruan tinggi mitra Tanoto Foundation.(id11)































Discussion
Bagikan pemikiran dan pendapat Anda