SURAT TERAKHIR AGUSNI AH

PENGANTAR REDAKSI:
Agusni AH menulis “Surat Terakhir”, sebuah cerpen hidup tentang kehilangan yang bukan melalui kematian, melainkan lewat seseorang yang memilih pergi sambil menutup seluruh jalan pulang. Di dalamnya, waktu berjalan lirih, membawa seorang lelaki menelusuri sisa-sisa kenangan dari sewindu kebersamaan yang kini tinggal gema.
Cerpen itu bukan sekadar kisah cinta yang usai, melainkan perjalanan batin tentang penyesalan, keikhlasan, dan usaha berdamai dengan kenyataan bahwa tidak semua yang pernah diperjuangkan ditakdirkan untuk menetap. Pada akhirnya, “Surat Terakhir” menjelma menjadi pengakuan sunyi: bahwa ada perpisahan yang tidak pernah selesai, meski kata pamit telah lama diucapkan, hingga akhirnya ia pun kembali pulang pada Rabbnya. Berikut kisahnya yang lumayan menguras airmata:
SURAT TERAKHIR
DALAM hari-hari terakhir, lelaki pensiun dini itu kerap menghabiskan waktu sendiri di rumah kontrakkannya. Selebihnya ia berlama-lama di masjid terdekat rumahnya. Sesekali ia keluar ke warung mencari kebutuhan dapur seperlunya. Setelah merasa cukup, ia langsung kembali pulang ke rumah untuk memasak seadanya. Semuanya ia kerjakan sendiri. Tak ada lagi hidangan di meja makan. Walau mie instan bersama ikan asin dan nasi panas kesukaannya. Tak ada yang menyajikan. Tak ada yang menyerunya makan. Tak ada yang mengingatkan hal-hal kecil sekali pun.
Padahal selama delapan tahun, sejak rumah tangga sederhana itu berlangsung, selalu hangat dipenuhi bahagia. Cinta mereka tumbah tanpa kompensasi, tanpa basa-basi. Kendati ada pertengkaran-pertengkaran, namun dua-tiga hari sudah mereda. Dan, kembali normal seperti biasa.
Di luar sinar rembulan kian meredup, seiring awan gelap mulai menebal, menutupi ruang angkasa langit raya. Perlahan gelap turun memenuhi bumi. Rumah kontrakkan yang didiami lelaki itu menjadi semakin gelap, kian gulita. Akhir-akhir ini rumahnya hilang pencahayaan. Menyusul pemutusan aliran listrik lantaran tagihannya yang sudah menunggak. Biasanya tiap bulan isterinya selalu membayarnya.
Yang membuat hidupnya menjadi lebih gelap, tatkala malam-malam tiba. Sejak ditinggalkan istrinya, lelaki itu praktis menjadi lebih gelap, sunyi dan tak terarah. Sepanjang waktu ia hanya bisa menyesali, menyasal akan rumah tangganya yang didera prahara. Banyak persinggungan bermuara permasalahan, berbagai persilihan akhirnya berbuah petaka. Diam-diam ternyata perempuan yang sangat dicintainya menyimpan luka, hingga akhirnya perempua itu pergi meninggalkannya yang sampai hari ini tak tahu dimana rimbanya.
Lelaki itu akhirnya pasrah dengan keadaan, setelah merasa gagal dengan segala upaya pencarian yang dilakukannya. Semua akses tertutup, layar ponsesl tak berfungsi. Tanpa dering atau notifikasi. Senyap seperti hari-hari terakhir ini dilalui kosong dan hampa.
Kondisi kesehatannya mulai memburuk, ia semakin melemah, ditambah faktor usia yang sudah senja. Ia hanya menunggu keajaiban lewat doa-doa yang dipanjatkan dalam setiap sujud suci, setiap di sepertiga malam. Lelaki itu hanya bisa berbisik pada Rabb Yang Maha Kuasa. "Engakaulah yang bisa membolak-balikkan hati manusia. Seperti meneguhkan penantian seorang hamba, yang hingga saat ini masih menunggunya kembali pulang walau sebentar saja." Lirih.
Dengan sisa tenaga dari kondisi kesehatannya yang kian lemah, sebagai usaha melengkapi doa-doa, ia meraih pena dan sehelai kertas putih di meja. Dengan tangan gemetar ia mencoba menulis sepucuk surat:
Assalamu’alaikum istriku yang kini entah di mana…
Sebelumnya izinkan aku meminta maaf atas segala sikap dan bicaraku yang mungkin selama ini melukaimu. Atas semua lisan yang terucap ketika emosi mengalahkan tenang, atas diamku yang kadang lebih menyakitkan daripada pertengkaran, dan atas segala kekurangan yang perlahan membuat hatimu lelah bertahan bersamaku. Aku sadar, tak semua luka datang dari kebencian. Ada luka yang tumbuh perlahan dari dua hati yang sama-sama saling mencintai, namun sama-sama tak pandai menjaga.
Tak terasa, kita pernah berjalan bersama selama sewindu. Delapan tahun yang dahulu terasa seperti hamparan waktu panjang, kini mendadak menjelma serpihan kenangan yang beterbangan di kepala. Seperti puing-puing. Seperti beling kaca yang berserakan, takkan pernah bisa kupungut dan menyatukan sebagai sebentuk kaca untum kita bercermin. Ada begitu banyak musim yang telah kita lewati, tawa yang pecah di ruang sederhana, airmata yang jatuh diam-diam di sudut malam, mimpi-mimpi kecil yang pernah kita rajut sambil percaya hari esok akan selalu berpihak kepada kita. Dan kini, setelah semua itu berlalu, aku baru mengerti bahwa waktu selama itu ternyata tetap bisa kalah oleh kecewa yang diam-diam menumpuk di hati.
Rumah ini masih berdiri seperti dulu, tetapi tak lagi bernyawa. Ada dipan yang tetap kosong, ada suara yang tak lagi terdengar, ada namamu yang masih tertinggal di sudut hati, seperti enggan benar-benar pergi. Bahkan malam-malam terasa lebih panjang sejak kehilanganmu. Aku sering terbangun hanya untuk melihat layar ponsel yang sudah gelap, tanpa arus batre. Malam-malam aku di beranda, dan memandangi langit-langit dalam sunyi, mencoba menerima bahwa seseorang yang selama sewindu menemaniku kini telah menjadi jarak yang tak mampu kurengkuh lagi.
Aku tidak menulis surat ini untuk memaksamu kembali. Tidak pula untuk mengetuk pintu hatimu yang mungkin sudah tertutup rapat, bahkan sudah terkunci untukku. Aku hanya ingin kau tahu, bahwa di balik segala salahku, ada cinta yang sungguh pernah ingin menetap selamanya padamu. Hanya saja aku terlalu buruk dalam menunjukkan kasih dan sayang. Hingga tanpa kusadari, aku menjadikan lelahmu lebih besar daripada bahagiamu.
Kini aku mulai memahami, bahwa kepergian bukan selalu tentang hilangnya cinta. Kadang seseorang pergi karena terlalu lama memendam luka, terlalu sering mengalah, hingga akhirnya memilih menyerah demi menyelamatkan dirinya sendiri. Dan jika benar aku adalah alasan di balik semua lelah itu, maka tak ada penyesalan yang lebih pilu selain menyadari bahwa aku telah gagal menjaga perempuan yang selama sewindu pernah setia tinggal bersamaku.
Malam-malamku kini dipenuhi doa-doa pilu. Namamu masih kusebut dalam sujud panjang, bukan lagi sebagai seseorang yang harus kumiliki, tetapi sebagai seseorang yang pernah Allah titipkan paling dekat di hatiku. Aku berdoa semoga di mana pun kau berada, hidupmu dipenuhi ketenangan, diringankan setiap ayun langkahmu, dan kesedihanmu diganti dengan kebahagiaan yang tak sempat kuberikan dengan sempurna.
Jika suatu waktu kau membaca surat ini, anggaplah ia hanya seperti daun kering yang jatuh di halaman kenangan—rapuh, sunyi, dan perlahan akan hancur bersama waktu. Namun setidaknya daun itu pernah hidup di pohon yang sama denganmu, pernah melewati musim-musim panjang bersamamu selama sewindu, sebelum akhirnya gugur oleh takdir yang tak mampu dihempang oleh siapa pun.
Terakhir, izinkan aku mengucapkan satu hal yang mungkin tak pernah benar-benar mampu kusampaikan dengan baik selama kita bersama, adalah terima kasih karena pernah menjadi rumah bagi seseorang sepertiku. Terakhir pesanku: belajar dan berjalanlah di manhaj salafus shalih sekalipun dunia mempertentangkannya.
Wassalamu’alaikum. Wr. Wb.
Lelaki pensiun dini itu telah menyelesaikan sepucuk surat yang kemudian diletakkan begitu saja di atas meja makan, baginya ini adalah jalan terakhir yang tanpa lagi mencari isterinya. Setelah surat itu selesai dituliskan, ada rasa sedikit lega di hatinya, mungkin itu sebuah jalan dalam sunyi. Manusia kerap menemukan jawaban yang tak pernah mampu diberikan keramaian.
Pada akhirnya ia memahami hidup hanyalah perjalanan singkat untuk belajar ikhlas sebelum pulang kepada Tuhan. Di penghujung malam itu ia pun beranjak ke dipan.
Dan keesokan paginya, seorang imam masjid mendatangi karena Subuh tadi tidak terlihat lelaki itu berada di belakang safnya. “Innalillahi wa inna ilaihi raji’un.”
Sesungguhnya kita milik Allah, dan kepada-Nya lah kita semua akan kembali. Pak Imam menyentuh tubuhnya yang sudah dingin, dan telah kaku.***.



























Discussion
Bagikan pemikiran dan pendapat Anda