Breaking News
Memuat breaking news...

Survei BI Proyeksikan Kredit Perbankan 2026 Turun Jadi 7,61 Persen

Redaksi
Redaksi
Senin, 20 Juli 2026 - 5.11 PM WIB
Survei BI Proyeksikan Kredit Perbankan 2026 Turun Jadi 7,61 Persen
Bank Indonesia (ist)
Eksklusif di WhatsApp
Dapatkan berita terkini langsung di layar HP Anda
Waspada+ Gabung
Reading Comfort
adjust the font size

JAKARTA (Waspada.id): Survai Bank Indonesia (BI) mencatat proyeksi pertumbuhan kredit perbankan pada 2026 turun menjadi 7,51 persen, dari semula 8,06 persen pada survei sebelumnya. Angka tersebut juga berada di bawah target pemerintah di kisaran 8 persen hingga 11 persen.

Responden memperkirakan outstanding kredit sampai dengan akhir tahun 2026 tumbuh sebesar 7,51 persen (yoy), lebih rendah dibandingkan dengan realisasi pertumbuhan kredit tahun 2025 sebesar 9,69 persen (yoy).

Perkiraan tersebut termoderasi dibandingkan perkiraan responden pada periode survei sebelumnya untuk pertumbuhan

outstanding kredit tahun 2026 sebesar 8,06 persen (yoy),” tulis BI dalam hasil Survei Perbankan, dikutip Senin (20/7/2026).

Survei tersebut juga menunjukkan Dana Pihak Ketiga (DPK) pada akhir 2026 diperkirakan tumbuh 6,18 persen secara tahunan, lebih rendah dibandingkan pertumbuhan 13,83 persen pada 2025.

“Perkiraan tersebut termoderasi dibandingkan perkiraan responden pada periode survei sebelumnya untuk pertumbuhan DPK tahun 2026 sebesar 8,47 persen (yoy),” tulis BI.

Sementara itu, Kepala Departemen Komunikasi BI Ramdan Denny Prakoso mengatakan, penyaluran kredit baru pada kuartal II-2026 meningkat dibandingkan kuartal I-2026. Tercermin dari Saldo Bersih Tertimbang (SBT) kredit baru sebesar 93,08 persen, lebih tinggi dibandingkan 38,74 persen pada kuartal sebelumnya.

“Pertumbuhan kredit baru terjadi pada seluruh jenis penggunaan, tecermin dari nilai SBT yang meningkat pada Kredit Modal Kerja (KMK), Kredit Investasi (KI), dan Kredit Konsumsi (KK),” kata Denny.

Peningkatan kredit konsumsi didorong oleh kenaikan permintaan Kredit Pemilikan Rumah (KPR) atau Kredit Pemilikan Apartemen (KPA) dengan SBT 78,20 persen, Kredit Kendaraan Bermotor sebesar 67,95 persen, Kredit Multiguna sebesar 69,71 persen, serta Kredit Tanpa Agunan sebesar 49,70 persen. Sementara itu, permintaan kartu kredit melambat dengan SBT 30,18 persen.

Secara sektoral, penyaluran kredit baru pada kuartal II 2026 paling tinggi terjadi di sektor transportasi, pergudangan, dan komunikasi dengan SBT 91,86 persen, diikuti jasa pendidikan 83,03 persen, industri pengolahan 73,78 persen, konstruksi 73,37 persen, serta jasa kesehatan dan kegiatan sosial 70,09 persen.

Menurut Denny, penyaluran kredit baru pada kuartal III 2026 diperkirakan tetap tumbuh dengan SBT sebesar 84,65 persen. Prioritas penyaluran kredit masih didominasi Kredit Modal Kerja, Kredit Investasi, dan Kredit Konsumsi.

Di sisi lain, hasil survei menunjukkan perbankan menerapkan standar penyaluran kredit yang lebih berhati-hati pada kuartal II 2026. Hal itu tercermin dari Indeks Lending Standard (ILS) positif sebesar 1,03, terutama pada kredit KPR/KPA dan kredit konsumsi lainnya.

“Kebijakan penyaluran kredit yang lebih berhati-hati tersebut, antara lain pada aspek suku bunga kredit, plafon kredit, perjanjian kredit, jangka waktu kredit, dan biaya persetujuan kredit. Pada kuartal III 2026, standar penyaluran kredit diperkirakan lebih longgar, dengan ILS negatif sebesar 2,25,” urai Denny. (Id88)

Ikuti WASPADA di Google Berita
Dapatkan berita terbaru langsung dari Google News.
Ikuti
Topik
No topics for this article yet.

Discussion

Bagikan pemikiran dan pendapat Anda

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.
Berita Terkait
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement