Tak Dinyana: Aku, Jenderal dan Ali Raban

"Ada yang duduk di sini ?" Tanyaku.
"Kosong...Silahkan, Mas...!" Lelaki itu mempersilahkanku di sofa kosong duduk semeja dengannya. Ia lebih awal duduk sendiri menikmati rokok sembari menyeruput kopi di sebuah ruang, smoking room, yang disediakan JW Marriot, Surabaya, tempat kami menginap.
"Nginap di sini, Pak. Dalam acara dinas ?" Tanyaku basa-basi.
"Ya, acara keluarga saja. Saya sudah lama pensiun," terangnya penuh familiyar dan hangat dalam menjawab pertanyaanku.
"Mas ini sedang tugas dari mana ?" Ujarnya balik tanyanya.
"Ya, sedang dinas saya dari KIP Aceh, Pak," pungkasku seraya menjelaskan KIP sebagai sebutan lain KPU, lembaga yang menyelenggara Pemilu dan Pilkada.
"Dari Aceh ? Aceh, kampung halaman kedua saya. Meski cuma tiga tahun saya bertugas di Meulaboh, Aceh Barat, sejak awal 2002 hingga 2025 setelah sebelumnya saya pindah tugas hingga menjadi purnawawiran," terangnya. Dia tak memberi tahu namanya. Dengan nada kelakar malah ia menyuruh saya cari tahu sendiri. Nama saya Geerhan Lantara, ucapnya tanpa memberi tahu sebagai apa dan siapa dia sebelumnya.
Cepat-cepat saya membuka ponsel dan melakukan searching di google yang kemudian menemukan ternyata lelaki jangkung ini adalah mantan Danrem 012/Teuku Umar di Meulaboh, Aceh Barat. Dia adalah Kolonel Inf. Geerhan Lantara yang menjabat sebagai Komandan Korem 012/Teuku Umar pada masa konflik Aceh dan juga saat tragedi tsunami tahun 2004 lalu.
Geerhan Lantara dikenal sebagai perwira TNI AD lulusan Akmil dan kemudian mencapai pangkat Letnan Jenderal (Letjen) saat pensiun.
Dalam sejumlah catatan, namanya cukup dikenal di Aceh Barat karena memimpin wilayah Korem 012/TU pada masa operasi militer dan masa-masa awal penanganan bencana tsunami di Meulaboh.
Ia kerap turun lapangan, masuk kampung keluar kampung. Tak jarang ia menjambangi dayah-dayah, sering juga melebur dan menyalurkan donasi untuk pembangunan rumah-rumah ibadah di bumi Teuku Umar, Sang Pahlawan yang terkenal heroik di masa penjajahan belanda dulu.
"Masa konflik dan ketika tsunami posisi Agus di mana," tanyanya sembari menyeruput kopi. "Ooo...Saat itu saya di Langsa dan bekerja sebagai jurnalis Harian Waspada Medan. Saya bertugas di wilayah timur Aceh, meliputi Aceh Tamiang, Kota Langsa dan Aceh Timur."
"Agus, wartawan juga ? Ali Raban mana, dia wartawan Metro TV di mana sekarang ?" Ia memberondong dengan satu tarikan napas tentang Ali Raban, sang reporter senior yang bertugas di Aceh. "Kenapa kita tak pernah jumpa, ya? Tanyanya lagi. "Bukan begitu Pak Jenderal," saya menjelaskan bahwa posisi saya sebagai kuli tinta sebatas tiga wilayah tadi. "Berarti level saya hanya setingkat Kodim saja, paling sesekali kontak telepon dengan Pewira Penghubung TNI dari Korem Lilawangsa," ujar saya.
Pak Jenderal tersenyum tipis. Ia seakan ingin segera mendapatkan kabar tentang keberadaan mitra sejatinya dulu. Jenderal Geerhan Lantara banyak menceritakan tentang pembelaannya terhadap rakyat Aceh, hingga sempat menulis buku: "Aceh Menggugat".
Dalam dia mendengarkan berbagai kenangannya di Meulaboh juga saat-saat bersama Ali Raban yang diboncenginya dengan menggunkab Herly kesayangannya. Dalam diam saya memgontak via video call Ali Raban tersambung. "Assalamu'alakum..."
"Lihat ini siapa ?" Langsung layar android saya arahkan ke wajah Sang Jenderal. "Siap Pak Jenderal. Kenapa saat ke Banda Aceh, tidak menghubungi saya ?" Ali Raban protes.
"Maaf nomor kontak hilang semua, gimana kondisi keluarga sehat-sehat semua kan ?" Tak lama mereka berdua saling tanya jawab dalam kesempatan singkat pada sebuah sua (baca: jumpa) tak dinyana akhirnya ukhuwah yang sudah terputus lama kembali terjalin lewat merokok semeja pada Rabu (06/05/2026) pagi di J.W Marriot, Surabaya.
Agusni AH, mantan wartawan Harian Waspada



























Discussion
Bagikan pemikiran dan pendapat Anda