Tanoto Foundation Siapkan Rumah Anak SIGAP Jadi Program Berkelanjutan di Daerah


JAKARTA(Waspada.id): Tanoto Foundation mendorong pemerintah daerah mengambil alih pengelolaan program pengasuhan dan stimulasi anak usia dini melalui Rumah Anak SIGAP. Upaya ini dilakukan agar layanan bagi anak, khususnya usia 0–3 tahun, dapat berkelanjutan dan terintegrasi dengan program pemerintah daerah.
Head of Early Childhood Education and Development (ECED) Tanoto Foundation, Michael Susanto, mengatakan, sejak diluncurkan pada 2021, Rumah Anak SIGAP telah dikembangkan di 29 lokasi dengan melibatkan pemerintah daerah sejak awal pelaksanaan.
“Dari 29 sentra ini, kami akhirnya berhasil mentransfer kepemilikan kepada pemerintah daerah. Ada tiga, yakni di Banjarharjo, Sukawera, dan Tegal,” kata Michael dalam sesi hari kedua 2026 Asia-Pacific Regional Learning Forum on Early Childhood Development (ECD) di Jakarta, Selasa (20/10/2026).
Menurut Michael, pengalaman tersebut menunjukkan bahwa pengalihan pengelolaan program kepada pemerintah daerah membutuhkan integrasi dengan kebijakan, layanan, dan sumber pendanaan yang telah tersedia.
Pada tahap awal, Rumah Anak SIGAP banyak dikaitkan dengan program percepatan penurunan stunting. Pendekatan tersebut tidak hanya berfokus pada pemenuhan gizi, tetapi juga stimulasi perkembangan anak dan peningkatan kualitas pengasuhan oleh orang tua.
Dalam pelaksanaannya, Rumah Anak SIGAP dirancang agar dapat terintegrasi dengan berbagai layanan pemerintah daerah, mulai dari posyandu, pendidikan anak usia dini (PAUD), ruang publik terpadu ramah anak (RPTRA), hingga pusat layanan di tingkat desa.
Namun, Michael mengakui, salah satu tantangan utama dalam memperluas keberlanjutan program adalah belum kuatnya kerangka kebijakan dan dukungan anggaran khusus untuk layanan anak usia 0–3 tahun.
“Kerangka kebijakan untuk usia 0–3 itu belum konkret di Indonesia. Dari sisi anggaran, juga belum ada anggaran yang secara khusus menyediakan pembiayaan untuk kelompok usia tersebut,” ujarnya.
Karena itu, Tanoto Foundation bersama pemerintah daerah berupaya mengidentifikasi program yang sudah berjalan dan berpotensi mendukung layanan pengasuhan serta stimulasi anak usia dini.
Program peningkatan kapasitas orang tua, layanan kesehatan, dan pembangunan keluarga, misalnya, dapat menjadi pintu masuk untuk memperkuat layanan bagi anak usia 0–3 tahun. Dengan pendekatan tersebut, pemerintah daerah tidak harus selalu membangun program dan skema pembiayaan baru.
Michael mengatakan, situasi saat ini berbeda dibandingkan ketika Rumah Anak SIGAP pertama kali dikembangkan pada 2021. Menurut dia, pemerintah kini memiliki Kerangka Nasional Pendidikan Anak Usia Dini Holistik Integratif (PAUD HI), sementara berbagai program pembangunan keluarga dan kesehatan juga semakin memberi perhatian terhadap pentingnya stimulasi perkembangan anak.
“Pemerintah sudah menyadari bahwa pengembangan anak usia dini dan praktik pengasuhan yang baik sangat penting diberikan kepada masyarakat,” katanya.
Meski demikian, setiap daerah memiliki pendekatan dan program yang berbeda. Karena itu, Rumah Anak SIGAP diharapkan menjadi model percontohan yang dapat diadaptasi sesuai kebutuhan dan karakteristik masing-masing daerah.
Michael mencontohkan, suatu daerah dapat mengintegrasikan layanan pengasuhan dan stimulasi anak ke dalam kegiatan posyandu. Sementara itu, Kota Semarang memiliki Rumah Pelita, tempat penitipan anak yang ditujukan bagi anak-anak berisiko mengalami stunting.
Melalui model tersebut, Tanoto Foundation bersama pemerintah daerah dapat mengidentifikasi komponen program yang bisa diadopsi, termasuk pelatihan kader dan fasilitator, peningkatan pengetahuan, serta keterampilan dalam mendampingi orang tua.
Pendampingan tersebut diharapkan mendorong perubahan perilaku pengasuhan di rumah, antara lain melalui kebiasaan membacakan buku, mengajak anak berbicara, memberikan waktu berkualitas, dan berinteraksi secara positif dengan anak.
Rumah Anak SIGAP Jadi Laboratorium Pengembangan Model
Michael menjelaskan, Rumah Anak SIGAP dikembangkan dengan mengadaptasi Nurturing Care Framework, yakni kerangka global yang menjadi acuan pemenuhan kebutuhan anak usia dini agar dapat tumbuh dan berkembang secara optimal sesuai konteks Indonesia.
Program ini dirancang sebagai model percontohan karena pada saat mulai dikembangkan pada 2021, menurut Michael, belum tersedia program serupa yang secara khusus mengintegrasikan praktik pengasuhan positif dan stimulasi perkembangan anak usia dini di tingkat nasional maupun daerah.
Dari total 29 lokasi yang pernah dikembangkan, Tanoto Foundation kini mengelola 15 Rumah Anak SIGAP setelah sebagian lokasi dialihkan kepada pemerintah daerah.
Ke depan, jumlahnya ditargetkan mencapai 20 lokasi pada tahun berikutnya, termasuk rencana pengembangan di Medan.
Rumah Anak SIGAP tersebut akan menjadi laboratorium pembelajaran untuk menguji berbagai pendekatan pengasuhan dan stimulasi anak, baik di wilayah perkotaan maupun perdesaan.
"Pendekatan itu diperlukan karena setiap anak memiliki kondisi dan tahapan perkembangan yang berbeda. Program stimulasi perlu disesuaikan dengan kebutuhan anak, termasuk perkembangan motorik, bahasa, serta sosial-emosional," ujar Michael.
Dengan demikian, Rumah Anak SIGAP diharapkan tidak hanya menjadi tempat layanan bagi anak dan orang tua, tetapi juga menjadi sumber pembelajaran bagi pemerintah daerah dalam mengembangkan model pengasuhan yang dapat diterapkan secara berkelanjutan melalui layanan publik yang sudah tersedia.(id11)
Berita Terkait







































Discussion
Bagikan pemikiran dan pendapat Anda