Breaking News
Memuat breaking news...

Tarif Baru AS Dan Harga Minyak Guncang Pasar, Rupiah Tertekan

Redaksi
Redaksi
Jumat, 24 Juli 2026 - 10.22 AM WIB
Tarif Baru AS Dan Harga Minyak Guncang Pasar, Rupiah Tertekan
Eksklusif di WhatsApp
Dapatkan berita terkini langsung di layar HP Anda
Waspada+ Gabung
Reading Comfort
adjust the font size

MEDAN (Waspada.id): Tekanan terhadap pasar keuangan Indonesia kembali meningkat pada perdagangan hari ini, Jumat (24/7). Rencana Amerika Serikat (AS) memberlakukan tarif impor baru bagi puluhan negara mitra dagang, ditambah lonjakan harga minyak dunia hingga menembus US$100 per barel, memicu pelemahan tajam Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan nilai tukar rupiah.

Pengamat Ekonomi dan Keuangan Sumatera Utara, Gunawan Benjamin, mengatakan kombinasi sentimen global tersebut menjadi faktor utama yang mendorong investor mengurangi aset berisiko, termasuk di pasar keuangan Indonesia.

"Pasar kembali dikejutkan oleh rencana AS yang akan menerapkan tarif impor baru berkisar 10 hingga 12,5 persen kepada sekitar 60 negara mitra dagangnya. Kebijakan ini menggantikan tarif global 10 persen yang sebelumnya diberlakukan Presiden Donald Trump. Respons pasar pun langsung negatif, terlihat dari mayoritas bursa saham Asia yang bergerak di zona merah," ujar Gunawan, Kamis (24/7).

Menurutnya, tekanan tersebut langsung tercermin pada pembukaan perdagangan domestik. IHSG dibuka melemah ke level 6.266, sementara rupiah terdepresiasi ke kisaran Rp17.970 per dolar AS.

Gunawan menilai pelemahan rupiah masih berpotensi berlanjut dan tidak menutup kemungkinan kembali menyentuh level psikologis Rp18.000 per dolar AS apabila tekanan eksternal semakin kuat.

"Sejumlah sentimen negatif datang secara bersamaan. Selain kebijakan tarif AS, penguatan dolar AS juga masih berlanjut. Indeks dolar (USD Index) naik ke level 101,39 yang menunjukkan permintaan terhadap mata uang dolar masih sangat tinggi," jelasnya.

Ia menambahkan, kenaikan harga minyak mentah Brent yang telah mencapai US$100 per barel semakin memperburuk prospek pasar keuangan Indonesia. Lonjakan harga minyak dipicu meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah, termasuk kembali terjadinya blokade Selat Hormuz yang merupakan jalur vital distribusi energi dunia.

"Kenaikan harga minyak akan meningkatkan tekanan inflasi global dan memunculkan kembali ekspektasi kenaikan suku bunga. Kondisi ini menjadi sentimen negatif bagi IHSG maupun rupiah," katanya.

Di sisi lain, aset yang selama ini dikenal sebagai instrumen lindung nilai juga belum mampu memberikan perlindungan optimal. Harga emas dunia justru terkoreksi ke sekitar US$4.045 per troy ons, atau setara sekitar Rp2,35 juta per gram.

Dengan minimnya agenda ekonomi domestik yang dapat menjadi penyeimbang sentimen global, Gunawan memperkirakan pasar keuangan Indonesia masih akan bergerak di zona negatif hingga akhir perdagangan.

"Rupiah memang berpeluang mendapat dukungan apabila Bank Indonesia melakukan intervensi di pasar valas. Namun selama sentimen global belum mereda, tekanan terhadap rupiah dan IHSG diperkirakan masih akan berlanjut, bahkan berpotensi berlanjut hingga pekan depan," pungkasnya. (id09)

Ikuti WASPADA di Google Berita
Dapatkan berita terbaru langsung dari Google News.
Ikuti
Topik

Discussion

Bagikan pemikiran dan pendapat Anda

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.
Berita Terkait
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement