Telahkah Saya Mengamalkan Pancasila?

Oleh Robby Effendi
Hari ini kita kembali memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Dan seperti tahun-tahun sebelumnya, saya mulai bertanya kepada diri sendiri: apakah selama ini saya benar-benar sudah mengamalkan nilai-nilai yang terkandung di dalam Pancasila?
Pertanyaan itu ternyata tidak mudah dijawab.
Sebab Pancasila bukan sekadar teks yang dihafal sejak sekolah. Ia adalah cermin yang diam-diam menguji kehidupan saya sehari-hari.
Apakah saya sudah sungguh-sungguh menjalankan sila pertama? Bukan hanya rajin beribadah, tetapi juga memiliki kejujuran ketika tidak ada orang lain yang melihat.
Apakah saya sudah mengamalkan sila kedua? Apakah saya masih mampu memperlakukan orang lain dengan hormat dan manusiawi, bahkan kepada mereka yang berbeda pandangan dengan saya.
Apakah dalam keseharian saya masih ada semangat persatuan? Ataukah saya justru lebih sering mudah tersulut emosi, mudah menghakimi, dan terlalu cepat membenci hanya karena perbedaan pilihan dan kepentingan.
Lalu sila keempat. Apakah saya benar-benar mau mendengar orang lain? Atau sebenarnya saya lebih suka didengar daripada mendengarkan.
Dan pada sila kelima, pertanyaannya terasa semakin berat: apakah saya sudah berlaku adil? Sebab ternyata keadilan bukan hanya soal menuntut hak untuk diri sendiri, tetapi juga soal kemampuan menahan diri agar tidak merugikan orang lain ketika saya memiliki kesempatan dan kuasa.
Semakin dipikirkan, saya merasa Pancasila bukan sesuatu yang selesai dipelajari. Ia adalah pekerjaan batin yang terus diuji setiap hari. Dalam pekerjaan. Dalam keluarga. Dalam cara saya berbicara. Dalam cara saya memperlakukan orang lain.
Dan mungkin, persoalan terbesar bukan apakah saya hafal Pancasila atau tidak. Tetapi apakah nilai-nilainya benar-benar hidup di dalam tindakan saya sehari-hari.
Sebab sangat mungkin saya masih sering merasa paling benar. Masih mudah emosi.
Masih mudah egois. Masih kurang sabar. Masih kurang peduli. Masih ingin menang sendiri.
Karena itu, Hari Kesaktian Pancasila bagi saya seharusnya bukan hanya seremoni tahunan. Ia adalah kesempatan untuk berhenti sejenak dan bertanya dengan jujur kepada diri sendiri:
apakah saya telah menjadi manusia Indonesia yang dicita-citakan oleh Pancasila?
Atau jangan-jangan, saya baru sekadar menghafalnya.
Dan mungkin, untuk pertanyaan-pertanyaan yang terlalu sulit dijawab itu, saya hanya ingin menutupnya dengan larik sederhana dari Sapardi Djoko Damono dalam puisi Hujan Bulan Juni:
“tak ada yang lebih tabah dari hujan bulan juni” “tak ada yang lebih bijak dari hujan bulan juni” “dibiarkannya yang terucapkan diserap akar pohon bunga itu”
Sebab mungkin menjadi manusia Pancasila juga memerlukan ketabahan, kearifan dan kebijaksanaan: untuk terus memperbaiki diri, meski diam-diam, perlahan, dan sering kali tidak mudah. Pancasila! (*)
Penulis pernah jurnalis, kini Anggota KPU Prov. Sumut



























Discussion
Bagikan pemikiran dan pendapat Anda