Teror Begal dan Pesona POMAL di Belawan

Kejahatan ini bukan mitos. Begal adalah fenomena nasional, tapi Belawan jadi episentrum paling menggila.
SENJA di Belawan, beberapa tahun terakhir, bukan lagi waktu menunggu bedug magrib. Itu jam-jam genting ketika komplotan begal motor merayap dari persembunyian. Mereka tak hanya merampas kendaraan—mereka bacok, babat, dan membiarkan korban terguling dalam genangan darah. Jalan tol yang mestinya jadi urat nadi ekonomi malah dijadikan arena perburuan. Berkali-kali mereka memblokir lajur, merampok, menyergap pengendara, lalu lenyap di kegelapan. Sementara polisi setempat—terlihat “tak berdaya”. Masyarakat resah menggerutu, malam demi malam, tahun demi tahun.
Namun cerita berubah ketika Polisi Militer Angkatan Laut Komando Daerah Angkatan Laut (POMAL Kodaeral I) turun ke daratan Belawan. Sabtu malam, 18 April 2026, di simpang Pulau Sicanang, 15 personel POMAL Kodaeral I menyergap target. Dua mobil pribadi dan empat sepeda motor diposisikan mati. Saat Iwan Saputra Lubis alias Iwan Membot (21) melintas, petugas melompat. Tanpa tembakan atau drama—hanya tindakan cepat dan terukur. Gembong begal sadis yang menghantui Jalan Kampung Salam dengan parang dan topeng dilumpuhkan. Iwan Membot seketika "lembek" meraung ketika tubuhnya digebuk, diborgol, dan dilempar ke bagasi Toyota Rush putih. Ironi manis bagi si bengis.
Dari ransel Iwan Membot, petugas menggali arsena: pisau dapur, cutter, pistol mainan, kunci inggris, topeng, dan dompet-dompet korban begal. Barang bukti bisnis kejahatan yang rapi dan terorganisir. Kolonel Wahyu Kurniawan, Kadispen Kodaeral I, menegaskan operasi ini respons cepat atas keresahan warga. Dan bukan cuma Iwan. Selama pengamanan berlangsung, sedikitnya 16 terduga pelaku begal dan bandit jalanan diciduk di wilayah Belawan. Angka yang membuktikan ini bukan penanganan insidental, tapi pembersihan terstruktur.
Data pendukung menunjukkan kejahatan ini bukan mitos. Muhammad Hanafi (22) dibacok di kepala dan motornya raib di Medan Marelan, November 2025. Ade Prayetno tewas dengan perut dan bahu robek usai disergap enam begal di Jalan AH Nasution, Medan Johor. Di Medan Labuhan, aksi begal terjadi nyaris di depan Polsek—praktisi hukum Helmax Alex menyoroti lemahnya patroli rutin. Seorang guru muda di jalan alternatif Simpang Penara-Kualanamu selamat melarikan diri usai dibegal dan diancam kelewang, motornya diambil. Kasusnya sudah lebih sebulan dilaporkan ke Mapolres Deli Serdang, tapi tak ada tindak lanjut. Begal adalah fenomena nasional, tapi Belawan jadi episentrum paling menggila.
Yang menarik, POMAL bukan instansi penegak hukum sipil—mereka militer. Namun ketika polisi terlihat "tak bertenaga" menghadapi komplotan terorganisir, TNI AL turun tangan. Bukan intervensi, tapi sinergi. Tim gabungan POMAL, Polri, dan Pemko Medan membuktikan ketika ego sektoral dilucuti, kejahatan bisa dijinakkan. Emak-emak Belawan bahkan datang ke Mako POMAL berterima kasih—legitimasi rakyat yang tak bisa dibeli dengan tagline "melindungi masyarakat".
Penangkapan Iwan Membot bukan titik akhir. Begal adalah bisnis yang beranak pinak. Diduga banyak oknum aparat “bermain” melindungi sindikat ini—yang rata-rata diperankan remaja “tiga suku”. Tapi ini sinyal kuat: kekerasan tak bisa ditanggapi setengah hati. POMAL menunjukkan disiplin militer, intelijen lapangan, dan tindakan tanpa basa-basi bisa jadi formula efektif. Polisi sipil bisa belajar dari ketajaman operasi ini.
Belawan kini bernapas lega. Tapi pertanyaan para korban dan warga yang traumatis: kenapa harus menunggu militer turun tangan? Kenapa kepolisian tak bisa melakukan ini lebih dulu? Jawabannya mungkin terletak pada struktur, personel, atau keberanian. Tapi yang jelas, ketika begal sudah merajalela sampai memblokir jalan tol, tindakan setengah hati tak lagi cukup. Butuh taring. Butuh "turun gunung". Dan POMAL baru saja membuktikan: mereka punya taring itu di darat tak hanya di laut Belawan.
Malam di Belawan kini lebih sunyi—sunyi yang mulai terasa aman dari teror begal bajingan. Sunyi yang didapat dengan harga darah, keringat, dan keberanian tentara mengubah haluan kejahatan tak terkendali di ruang sipil. Sunyi yang layak dipertahankan: tanpa begal, sedikit polisi, meminjam otoritas POMAL untuk turun ke darat membegal premanisme—ranah yang sejatinya otoritas polisi sipil!
I



























Discussion
Bagikan pemikiran dan pendapat Anda