Breaking News
Memuat breaking news...

Tiga Sekjen PDIP Bicara Tentang Sosok Megawati

Redaksi
Redaksi
Minggu, 23 Januari 2022 - 6.59 PM WIB
W
Waspada
Eksklusif di WhatsApp
Dapatkan berita terkini langsung di layar HP Anda
Waspada+ Gabung
Reading Comfort
adjust the font size

JAKARTA (Waspada): Tiga Sekretaris Jenderal Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) yang saat ini masih menjabat dan purnatugas menyampaikan pandangan mereka masing-masing terhadap pribadi Ketua Umum Megawati Soekarnoputri. Pramono Anung, Tjahjo Kumolo, dan Hasto Kristiyanto sepakat bahwa Presiden Kelima RI itu memiliki prinsip yang teguh dan taat dengan konstitusi.

"Di luar kekuasaan atau di dalam kekuasaan, Bu Mega itu selalu mengajarkan taat terhadap konstitusi," kata Pramono dalam webinar HUT Ke-75 Megawati bertajuk "Sikap Hidup Merawat Pertiwi: Panjang Umur Ibu Megawati" yang disiarkan melalui akun Youtube PDIP, Minggu (23/1/2022).

Pramono Anung yang kini menjadi Menteri Sekretaris Kabinet mencontohkan pernah sekira tahun 2005 atau 2006, anggota DPR RI Fraksi PDIP menginterupsi Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) saat menyampaikan pidato nota keuangan di Sidang Paripurna 17 Agustus. Kata Pram, mengetahui hal itu, Ketua Umum Megawati sangat marah.

"Waktu itu saya masih Sekjen. "Siapa pun yang melakukan interupsi kepada presiden, saya akan pecat pada saat itu juga'," kata Pram mengutip pesan Ketua Umum Megawati.

"Kenapa itu dilakukan, karena beliau menjaga marwah konstitusi. Jadi kita boleh berbeda pendapat, kita boleh berseberangan, tetapi kita harus taat, patuh, tunduk pada konstitusi. Itu menjadi hal yang diajarkan Bu Mega," tambah Pram.

Sementara itu, Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto menyatakan putri Proklamator RI Bung Karno tersebut memiliki prinsip yang kuat.

"Ibu Mega menegaskan solid itulah yang menjadi kekuatan partai yang terus menyatu dengan rakyat. Karena itulah Bu Mega kita diajarkan hal-hal terkait prinsip, yang fundamental tentang bangsa, negara, dan tentang partai," kata Hasto.

Bukan hanya itu, politikus asal Yogyakarta itu juga mengutip kesan Menteri Sosial Tri Rismaharini yang mengenal Ketum Megawati sebagai sosok yang visioner, detail, dan kokoh pada prinsipnya.

"Sosok yang membangun organisasi, sosok yang memiliki kesabaran revolusioner. Nah, karena itulah, kita kembangkan PDIP sebagai organisasi pembelajaran. Dengan demikian seluruh saripati dari pengalaman Mas Pram sebagai Sekjen, Mas Tjahjo sebagai Sekjen, kemudian ketika saya ditugaskan, itu semua ada suatu perpaduan yang saling melengkapi dan kemudian kita terapkan dalam organisasi itu," ujar Hasto .

Sementara, Tjahjo Kumolo mengingatkan bahwa perjalanan politik Ketua Umum Megawati bukan melangkah dalam bentangan karpet merah, bahkan sampai sekarang.

Menurut Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi itu, prinsip hidup Megawati begitu kokoh.

"Ibu selalu menyampaikan kepada saya dan seluruh kader, jadilah banteng sejati di dalam membela keberagamaan dan kebinekaan. Jadilah garda terdepan menjadi tameng yang kokoh untuk mempertahankan NKRI. Oleh karena itu, selama NKRI ini ada, PDIP sebagai penerus Partai Nasional Indonesia yang didirikan Bung Karno harus tetap ada," ucap Tjahjo.
(irw)

Ikuti WASPADA di Google Berita
Dapatkan berita terbaru langsung dari Google News.
Ikuti
Topik
No topics for this article yet.

Discussion

Bagikan pemikiran dan pendapat Anda

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.
Berita Terkait
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement