Breaking News
Memuat breaking news...

TIKAI CERPEN AGUSNI AH

Redaksi
Redaksi
Selasa, 30 Juni 2026 - 9.59 AM WIB
TIKAI CERPEN AGUSNI AH
Eksklusif di WhatsApp
Dapatkan berita terkini langsung di layar HP Anda
Waspada+ Gabung
Reading Comfort
adjust the font size

PENGANTAR REDAKSI:

Agusni AH menghadirkan "TIKAI", sebuah cerpen yang mengisahkan pergulatan batin seorang tokoh ketika akal dan hati saling berhadapan dalam ruang sunyi. Melalui narasi yang reflektif dan puitis, cerita ini menyingkap kenyataan bahwa pertikaian paling melelahkan bukanlah dengan orang lain, melainkan dengan diri sendiri yang masih memelihara kenangan dan enggan melepaskan luka.

Cerpen ini tidak bertumpu pada intrik atau konflik yang bergejolak. Alurnya bergerak tenang, bahkan cenderung datar, dengan kekuatan utama terletak pada dialog batin yang mengupas logika, perasaan, dan kenyataan hidup. Dari kesederhanaan itulah Agusni AH membangun sebuah pertikaian psikologis yang mendasar, mengajak pembaca menyelami proses seseorang berdamai dengan kehilangan, hingga menemukan bahwa kemenangan terbesar adalah ketika mampu mengalahkan diri sendiri. Penasaran bagaimana pergolakan batin itu bermuara pada pertikaian antara akal dan hati? Simak cerpen TIKAI karya Agusni AH, mantan wartawan Harian Waspada, yang mengajak pembaca menyelami sisi paling sunyi dari diri manusia; pertarungan melawan luka yang dipelihara sendiri.

TIKAI

"ENGKAU adalah larik yang membentuk bait-bait dalam setiap puisiku.

Aku akan terus menuliskan namamu.

Entah sudah berapa banyak puisi yang lahir karenamu.

Namun sayangnya, engkau tak lagi membacanya.

Ketika senja bersemayam di balik cakrawala yang perlahan retak, saat itulah aku menyadari bahwa pada selembar kertas putih engkau telah menguburkan seluruh kisah kita."

Entah itu puisi cinta atau sekadar sebentuk surat yang tak pernah terkirimkan ke alamatnya, rangkaian kata yang ditulisnya di selembar kertas putih itu menyimpan luka yang begitu dalam. Setiap kalimat seakan menjadi serpihan kenangan yang tak lagi menemukan tempat untuk pulang. Padahal jauh dalam kebersamaan ada ikatan janji menuju ruang suci. Sedianya rumah cinta telah dibangun kokoh, namun kemudian menjadi kosong karena pemiliknya pergi tak pernah kembali. Hidup memang tak bisa ditebak, tak bisa dirancang sesuai kehendak sesiapa.

Perlahan, secarik kertas bertuliskan itu dilepaskan melayang mengikuti hembusan angin senja, menari sesaat di udara sebelum akhirnya menjauh, seakan mengantarkan seluruh kenangan menuju peristirahatan terakhirnya. Di ufuk barat, cahaya senja terus meredup. Sementara di dalam dirinya, sebuah kisah cinta yang tersembunyi sejak lama, kini bagai berakhir dengan penuh elegi.

Sesaat kemudian, ia beranjak meninggalkan tempat sunyi yang remang-remang itu. Langkahnya mengayun perlahan, menerobos kesunyian malam yang baru saja menjemput senja. Di bawah cahaya purnama yang sesekali tertutup awan pekat, ia terus berjalan, seakan membiarkan setiap langkah menjauhkan dirinya dari kenangan yang baru saja dikuburkannya.

"Bertahanlah dan bersabarlah. Entah dia telah tiada atau masih hidup atau sengaja menjauhimu, namun aku akan selalu menemani setiap langkahmu." Suara itu menggema.

"Siapa engkau?" Tanya lelaki itu.

"Aku adalah pikiranmu sendiri. Pikiran yang berusaha menenangkan dirimu yang kini terombang-ambing seperti perahu kehilangan nahkoda. Aku juga hatimu, hati yang luruh karena jiwamu telah kehilangan daya. Karena itulah aku akan selalu ada. Dan kini aku coba menjadi kemudinya untuk mengajakmu kembali pada hakikat yang semestinya."

Mendengar suara itu, lelaki yang raut wajahnya semakin kuyu itu tersenyum sinis. Sinis pada logika manusia yang mengaku memiliki rasa, perasaan, dan kejernihan berpikir, tetapi kerap mengabaikan suara hati sendiri. Acap menutupi kegelisahan hidup, meski kondisinya terkadang rapuh. Yang tampak performa belaka dan inikah sandiwara?

"Itulah engkau, wahai pemilik jiwa."

Kalimat itu terdengar begitu tajam, laksana godam yang menghantam kepalanya. Seketika pikirannya porak-poranda, seolah isi otaknya luruh dan mengalir deras hingga menghunjam ke relung jantungnya. Lelehan ngilu seperti cairan magma dari letusan gunung berapi bagai tak tertahankan dan menyisakan sesak yang tak mampu diucapkan dengan kata-kata. Hatinya melepuh. Panas. Lelaki itu terdiam. Lama ia membisu. Namun benaknya terus berputar, hatinya tak tinggal diam, seakan sedang mencari alasan untuk sebuah pembelaan terhadap dirinya.

Namun pembelaan apa yang harus ia utarakan? Lelaki itu tak ingin terlalu lama terjebak dalam tikai dengan dirinya sendiri. Di satu sisi, ia menyadari bahwa kata-kata itu begitu menyudutkannya melebihi dinamika cintanya yang tak memiliki logika. Namun di sisi lain, ada rasa yang begitu susah ia tampik dan mengalir dari relung batinnya yang masih begitu kuat memengaruhi jalan pikiran dan hatinya terhadap seseorang yang telah lama menghilang dari hidupnya. Ia coba menyangkal. Berkali-kali meyakinkan diri bahwa semua telah usai. Bahwa kehilangan adalah bagian dari takdir yang semestinya diterima tanpa banyak bertanya. Akan tetapi, setiap kali nama itu melintas di benaknya, seluruh keteguhan yang susah payah dibangunnya runtuh seketika.

"Jadi, siapa sebenarnya yang belum mampu melepaskan?" suara itu kembali bergema.

Lelaki itu terdiam. Lama membisu. Tak ada jawaban. Yang terdengar hanya desir angin malam yang menggesek dedaunan mendesau dengan resah tak berkesudahan, seolah alam ikut menyaksikan sebuah tikai panjang antara akal yang ingin mengikhlaskan dan hati yang masih menyimpan harapan.

Untuk pertama kalinya ia menyadari, musuh terberat bukanlah seseorang yang telah pergi, melainkan dirinya sendiri yang masih terpasung pada kenangan yang sangat purba. Kenangan dari sebuah kebersamaan yang sangat rahasia. Selama ini ia terus memelihara kenangan itu, lalu menyalahkan waktu karena tak kunjung sembuh luka yang ia pelihara.

"Engkau masih memelihara luka. Padahal, yang berkewajiban menyembuhkannya adalah dirimu sendiri. Aku hanya bisa membantumu mengobati, menyediakan segala penawar yang mungkin meredakan nyerinya. Selebihnya, engkaulah yang harus memilih: sembuh atau terus hidup bersama luka itu."

Suara itu semakin menggema di dalam batinnya.

"Kini semuanya bergantung pada keputusanmu. Wahai jiwa, lupakah engkau sebagai manusia yang diberi akal dan disuguhi pikiran oleh Tuhan. Engkau diciptakan-Nya sebagai makhluk alternatif yang bisa memilih dan memilah. Sekarang engkau masih bertahan dengan luka cinta yang sesungguhnya telah ditinggalkan pemiliknya, atau bangkit meninggalkannya. Jangan sampai engkau mati karena cinta. Pada zaman ini, kisah seperti Majnun dan Laila tak lagi menjadi teladan, melainkan pengingat bahwa cinta yang kehilangan akal hanya akan melahirkan kehancuran buatmu sendiri selaku pemilik jiwa."

Lelaki itu memejamkan mata. Dadanya bergemuruh. Batinnya meronta. Lagi-lagi ia ingin menyangkal, ia ingin membantah, ia ingin menolak. Tetapi kali ini lidahnya benar-benar kelu, setiap kata yang hendak diucapkannya terasa patah sebelum sempat keluar dari bibirnya. Sepertinya suara itu benar. Selama ini bukan luka yang menahannya, melainkan dirinya sendiri yang enggan melepaskan luka itu.***

Ikuti WASPADA di Google Berita
Dapatkan berita terbaru langsung dari Google News.
Ikuti
Topik
No topics for this article yet.

Discussion

Bagikan pemikiran dan pendapat Anda

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.
Berita Terkait
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement