Tim Dosen USU Edukasi SDIT Al-Anshar Langkat Hadapi Bencana Banjir Lewat SPMITim Dosen USU Edukasi SDIT Al-Anshar Langkat Hadapi Bencana Banjir Lewat SPMI

MEDAN (Waspada.id): Tim dosen Universitas Sumatera Utara (USU) yang berasal dari Fakultas Ilmu Budaya melaksanakan kegiatan pengabdian kepada masyarakat di SDIT Al-Anshar Kabupaten Langkat dengan fokus pada penguatan kesiapsiagaan menghadapi bencana banjir melalui Sistem Penjaminan Mutu Internal (SPMI).
Kegiatan ini merupakan bagian dari kontribusi perguruan tinggi dalam memperkuat kapasitas satuan pendidikan agar mampu menghadapi risiko bencana sekaligus menjaga keberlangsungan proses pendidikan.
SDIT Al-Anshar merupakan salah satu satuan pendidikan dasar di Kecamatan Tanjung Pura, Kabupaten Langkat. Sekolah yang telah berdiri sejak tahun 2004 tersebut melayani lebih dari 650 peserta didik setiap tahun pada jenjang kelas I sampai VI. Dengan jumlah warga sekolah yang cukup besar, kesiapan menghadapi bencana menjadi hal penting untuk diperhatikan. Banjir menjadi salah satu risiko yang mendapat perhatian utama dalam kegiatan ini. Kejadian banjir sebelumnya telah memberikan dampak terhadap aktivitas sekolah dan sejumlah fasilitas pendidikan. Ruang kelas, perpustakaan, ruang UKS, laboratorium komputer, serta ruang kepala sekolah pernah terdampak sehingga aktivitas pendidikan dan pelayanan sekolah mengalami gangguan.
Tim pengabdian melakukan observasi dan identifikasi kondisi awal sekolah sebagai dasar penyusunan sistem kesiapsiagaan bencana. Berangkat dari kondisi tersebut, tim dosen USU melakukan observasi lingkungan sekolah, wawancara dengan pihak sekolah, serta telaah terhadap berbagai dokumen yang telah dimiliki. Identifikasi dilakukan untuk melihat kondisi sarana dan prasarana, sistem pengelolaan sekolah, prosedur kesiapsiagaan, serta kesiapan sekolah dalam menghadapi risiko banjir.
Hasil identifikasi menunjukkan bahwa SDIT Al-Anshar telah memiliki berbagai perangkat pengelolaan pendidikan dan dokumen mutu sekolah. Namun, aspek kesiapsiagaan bencana, khususnya risiko banjir, belum terintegrasi secara khusus ke dalam sistem penjaminan mutu. Prosedur tanggap darurat, evakuasi, perlindungan dokumen penting, serta pemulihan proses pembelajaran pascabencana juga belum terdokumentasi secara sistematis.
Untuk menjawab kondisi tersebut, tim dosen Fakultas Ilmu Budaya USU kemudian melaksanakan sosialisasi dan workshop mengenai SPMI berbasis kesiapsiagaan bencana. Kepala sekolah, guru, dan tenaga kependidikan dilibatkan dalam kegiatan untuk memahami hubungan antara penjaminan mutu, kesiapsiagaan bencana, dan keberlanjutan pendidikan.
Dalam kegiatan tersebut, peserta mendapatkan pemahaman mengenai Sistem Penjaminan Mutu Internal, siklus PPEPP yang meliputi Penetapan, Pelaksanaan, Evaluasi, Pengendalian, dan Peningkatan, serta konsep pengurangan risiko dan kesiapsiagaan bencana. Diskusi juga dilakukan untuk mengidentifikasi berbagai persoalan yang dihadapi sekolah ketika terjadi banjir. Pendampingan kemudian dilanjutkan dengan penyusunan berbagai dokumen SPMI berbasis kesiapsiagaan banjir. Penyusunan dilakukan secara partisipatif dengan melibatkan pihak sekolah sehingga dokumen yang dihasilkan dapat disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan SDIT Al-Anshar.
Proses pendampingan dan penyusunan dokumen SPMI berbasis kesiapsiagaan banjir bersama pihak sekolah. Dari proses tersebut berhasil disusun sejumlah perangkat penting, antara lain standar SPMI berbasis kesiapsiagaan banjir, SOP pengelolaan sekolah dan keberlanjutan pembelajaran sebelum, saat dan setelah banjir, perangkat pembelajaran berupa RPP/modul ajar dan bahan ajar yang terintegrasi dengan materi mitigasi banjir serta instrumen monitoring, evaluasi, dan Audit Mutu Internal (AMI). Selain itu, tim juga mendampingi penyusunan instrumen monitoring dan evaluasi, instrumen Audit Mutu Internal (AMI), formulir monitoring PPEPP, serta buku panduan implementasi SPMI berbasis kesiapsiagaan banjir.
Kegiatan ini juga memberikan penguatan pemahaman kepada warga sekolah bahwa kesiapsiagaan bencana bukan hanya tindakan yang dilakukan ketika banjir terjadi. Kesiapsiagaan perlu dipersiapkan sejak sebelum bencana melalui perencanaan, pembagian tugas, penyediaan prosedur, perlindungan aset dan dokumen, kesiapan evakuasi, hingga pemulihan kegiatan belajar mengajar. Melalui pendekatan SPMI, kesiapsiagaan bencana ditempatkan sebagai bagian dari budaya mutu sekolah.
Tim dosen USU dari Fakultas Ilmu Budaya menilai bahwa keberlanjutan kesiapsiagaan sekolah tidak cukup hanya mengandalkan sosialisasi, pelatihan, atau simulasi. Kesiapsiagaan perlu dilembagakan dalam sistem sekolah agar tetap berjalan meskipun kegiatan pendampingan dari pihak luar telah selesai. Dengan telah disusunnya dan disahkannya SPMI berbasis kesiapsiagaan banjir, SDIT Al-Anshar kini memiliki dasar kelembagaan untuk membangun sekolah yang lebih aman, tangguh, dan adaptif terhadap risiko bencana. Ke depan, implementasi dokumen tersebut dapat terus diperkuat melalui simulasi tanggap darurat, integrasi materi kebencanaan dalam pembelajaran, pelibatan peserta didik dan orang tua, serta monitoring dan evaluasi secara berkala.(wap.id)
.





















Discussion
Bagikan pemikiran dan pendapat Anda