Breaking News
Memuat breaking news...

Transisi Besar Menuju Dunia Tanpa Layar bagi Anak

Redaksi
Redaksi
Rabu, 13 Mei 2026 - 4.54 PM WIB
Transisi Besar Menuju Dunia Tanpa Layar bagi Anak
Eksklusif di WhatsApp
Dapatkan berita terkini langsung di layar HP Anda
Waspada+ Gabung
Reading Comfort
adjust the font size

Oleh: Yos A Tarigan, SH, MH, M. IKom

Dua dekade lalu, pemandangan sore di gang-gang perumahan atau halaman desa adalah simfoni keriuhan. Suara tawa anak-anak yang mengejar bola plastik, teriakan saat bermain petak umpet, hingga lutut yang berdarah karena terjatuh menjadi bumbu pertumbuhan yang manis.

Namun hari ini, simfoni itu telah berganti menjadi sunyi yang mencekam. Di ruang tamu, di meja makan, bahkan di taman bermain, anak-anak kita kini duduk terpaku dengan leher menekuk. Mata mereka terkunci pada layar bercahaya. Jemari kecil itu lincah menggeser layar, mencari kepuasan instan dari algoritma yang tidak pernah tidur.

Kita sedang menyaksikan transisi besar, sebuah pergeseran peradaban di mana dunia nyata mulai kalah telak oleh dunia dalam genggaman. Pertanyaannya: sanggupkah kita membawa mereka kembali ke "dunia tanpa layar"?

Perbandingan Nyata: "Dahulu Melompat, Sekarang Menatap"

Perbedaan antara generasi "tanpa layar" dan generasi "layar sentuh" bukan sekadar soal alat, melainkan soal koneksi kemanusiaan. Bayangkan seorang anak di tahun 90-an yang ingin bermain bersama temannya. Ia harus berjalan kaki, mengetuk pintu rumah temannya, bernegosiasi dengan orang tua sang teman, dan akhirnya berinteraksi secara fisik. Ada proses negosiasi, empati, dan aktivitas motorik di sana.

Bandingkan dengan realitas hari ini. Untuk "bermain", seorang anak cukup masuk ke ruang obrolan game daring. Mereka mungkin berkomunikasi, namun tanpa tatap mata. Tidak ada keringat, tidak ada gesekan sosial yang nyata. Akibatnya, kita mendapati generasi yang mahir teknologi tetapi "gagap" dalam membaca emosi lawan bicara. Layar telah menjadi tembok tebal yang memisahkan mereka dari tekstur rumput, aroma tanah setelah hujan, dan hangatnya jabat tangan.

Payung Hukum: Menjaga Tumbuh Kembang dari "Jerat" Digital

Sebagai praktisi hukum, saya melihat fenomena ini bukan sekadar masalah gaya hidup, melainkan persoalan perlindungan hak anak. Secara normatif, Pasal 9 ayat (1) UU No. 35 Tahun 2014 tentang Perlindungan Anak menegaskan bahwa setiap anak berhak memperoleh perlindungan dari penyalahgunaan kegiatan teknologi informasi yang dapat mengganggu tumbuh kembangnya.

Negara telah mempertegas langkah ini melalui Peraturan Pemerintah No. 17 Tahun 2025 tentang Tata Kelola Penyelenggaraan Sistem Elektronik dalam Perlindungan Anak. Aturan ini mewajibkan penyelenggara platform digital untuk menerapkan langkah teknis guna melindungi anak dari konten berbahaya dan dampak kecanduan.

Artinya, secara hukum, membiarkan anak "hanyut" dalam layar tanpa pengawasan bukan lagi sekadar kelalaian orang tua, melainkan pengabaian terhadap hak-hak konstitusional anak untuk tumbuh dengan sehat.

Transisi menuju dunia tanpa layar bukanlah hal yang mustahil. Tengoklah Kota Surabaya. Wali Kota Eri Cahyadi, Surabaya mengambil langkah berani dengan mengeluarkan surat edaran yang membatasi penggunaan ponsel di sekolah mulai akhir 2025.

Hasilnya? Sejak diterapkan secara konsisten, suasana belajar di sekolah-sekolah seperti SMAN 16 Surabaya mulai berubah. Siswa kembali berinteraksi di kantin, berdiskusi di bawah pohon, dan tidak lagi "sibuk sendiri" dengan gawai saat jam istirahat.

Langkah serupa juga mulai bergulir di Kalimantan Tengah, di mana kebijakan pembatasan gawai bagi anak di bawah 16 tahun mendapat respons positif demi menjaga kesehatan mental generasi muda. Indonesia bahkan mencatatkan sejarah sebagai salah satu negara yang berani membatasi akses media sosial bagi anak di bawah umur demi keamanan digital mereka.

Di beberapa sekolah di Medan sesungguhnya sudah menerapkan kebijakan tidak membawa gawai ke dalam kelas. Hal ini dilakukan agar anak lebih fokus dalam menerima pelajaran dan interaksi antara guru dan murid tidak hanya satu arah.

Menutup Layar, Membuka Masa Depan

Transisi besar menuju dunia tanpa layar bukan berarti kita harus anti-teknologi. Namun, ini adalah gerakan untuk memulihkan kembali porsi kemanusiaan anak-anak kita. Kita butuh lebih banyak kebijakan "Screen Break" dan "Screen Zone" di rumah dan sekolah.

Saat kita berani meminta anak-anak menutup layarnya, kita sebenarnya sedang membukakan pintu dunia yang lebih luas bagi mereka: dunia yang bisa disentuh, dirasakan, dan dicintai secara nyata. Sebelum algoritma mencuri masa kecil mereka sepenuhnya, marilah kita menjadi pemandu bagi mereka untuk kembali pulang ke dunia nyata yang penuh warna.

Penulis adalah mahasiswa Program Doktor Ilmu Hukum, Fakultas Hukum USU dan menjabat sebagai Kajari Poso

Ikuti WASPADA di Google Berita
Dapatkan berita terbaru langsung dari Google News.
Ikuti
Topik

Discussion

Bagikan pemikiran dan pendapat Anda

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.
Berita Terkait
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement