Breaking News
Memuat breaking news...

TRILOGI PUISI AGUSNI AH; DI MUKA SAMUDRA

Redaksi
Redaksi
Minggu, 24 Mei 2026 - 8.05 AM WIB
TRILOGI PUISI AGUSNI AH; DI MUKA SAMUDRA
Eksklusif di WhatsApp
Dapatkan berita terkini langsung di layar HP Anda
Waspada+ Gabung
Reading Comfort
adjust the font size

PENGANTAR REDAKSI:

Agusni AH kini kembali “mengacak-ngacak” batin pembaca lewat trilogi puisi bertajuk “Di Muka Samudra”. Dalam lanskap lirik yang dipenuhi aroma rasa, desir angin, dan cakrawala yang muram, Agusni AH menghadirkan puisi-puisi yang tidak sekadar bercerita tentang laut Samudra India, melainkan tentang kehilangan: cinta rindu, sebuah pergulatan sunyi manusia.

Samudra di tangan Agusni AH bukan hanya hamparan air asin yang luas, melainkan sebuah metafora besar tentang waktu, ingatan, dan luka yang tak pernah benar-benar selesai. Pada tiap baitnya, pembaca seperti diajak berdiri di bibir pantai yang sepi, memandang jauh ke horizon dengan biduk yang metaforis.

Trilogi ini tampil dengan bahasa yang lirih namun menghunjam. Ada kesan kontemplatif yang kuat, seakan setiap puisi ditulis dari ruang batin yang paling sunyi. Agusni AH juga tetap setia pada kekuatan diksi kosmik dan bentangan alam yang selama ini menjadi ciri khas kepenyairannya. Laut, senja, angin, dan langit menjelma tokoh-tokoh diam yang hidup di dalam puisi.

“Di Muka Samudra” bukan sekadar kumpulan sajak tentang laut. Ia adalah perjalanan batin seorang manusia ketika berhadapan dengan luasnya semesta dan kecilnya diri sendiri. Sebuah trilogi yang pelan-pelan menyeret pembaca tenggelam ke dalam ombak perenungan yang panjang. Berikut syair trilogi puisi Agusni AH:

DI MUKA SAMUDRA (I)

Di sini kita pernah menghadap muka Samudra Hindia

Pada satu senja yang menggigil pelan,

di antara desir angin dan aroma laut

yang jatuh dari bibir ombak membuncah ke dada kita...//(a.ah).

DI MUKA SAMUDRA (II)

Aku menghadap muka Samudra Hindia

Aku berdiri di laut gelombang asa

Di bawah cakrawala langit raya

Tepat di tempat di mana kita menancapkan

mimpi-mimpi kecil pada pasir yang basah

Angin membawa kembali tawa yang resah nan suara yang gelisah

Sementara ombak sibuk menghapus jejak-jejak

yang pernah kita percaya akan abadi

Kini senja jatuh perlahan di pelupuk laut sunyi

Aku masih memunguti kenangan yang tercerai di ujung sunyi

Burung-burung pulang melintasi ufuk Andaman,

sedang dadaku tetap tinggal di musim angan

Di hadapan samudra yang tak pernah selesai bergelora

Dan aku belajar pada kehilangan yang kini setia pada luka...//(a.ah).

DI MUKA SAMUDRA (III)

Rumah tanpa pintu

adalah laut berdinding angin,

di mana ombak mengetuk sunyi

dengan jemari buih yang dingin

Langit menggantungkan asa,

menyulam senja pada punggung cakrawala,

sementara camar-camar pulang

membawa aroma luka lama

Rumah tanpa pintu adalah laut cinta

Adalah jendela hati tanpa kunci

Tanpa pagar, tanpa halaman nan kenangan termangu di muka Samudra

Di hadapan lautan terbentang luas

Biduk berlayar di ombang badai menghempas

Rumah tanpa pintu adalah laut rindu, yang menjaga segala kenangan bisu agar tak hanyut ke muara lupa...//(a.ah).

Ikuti WASPADA di Google Berita
Dapatkan berita terbaru langsung dari Google News.
Ikuti
Topik

Discussion

Bagikan pemikiran dan pendapat Anda

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.
Berita Terkait
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement