TRILOGI PUISI AGUSNI AH; DI MUKA SAMUDRA

PENGANTAR REDAKSI:
Agusni AH kini kembali “mengacak-ngacak” batin pembaca lewat trilogi puisi bertajuk “Di Muka Samudra”. Dalam lanskap lirik yang dipenuhi aroma rasa, desir angin, dan cakrawala yang muram, Agusni AH menghadirkan puisi-puisi yang tidak sekadar bercerita tentang laut Samudra India, melainkan tentang kehilangan: cinta rindu, sebuah pergulatan sunyi manusia.
Samudra di tangan Agusni AH bukan hanya hamparan air asin yang luas, melainkan sebuah metafora besar tentang waktu, ingatan, dan luka yang tak pernah benar-benar selesai. Pada tiap baitnya, pembaca seperti diajak berdiri di bibir pantai yang sepi, memandang jauh ke horizon dengan biduk yang metaforis.
Trilogi ini tampil dengan bahasa yang lirih namun menghunjam. Ada kesan kontemplatif yang kuat, seakan setiap puisi ditulis dari ruang batin yang paling sunyi. Agusni AH juga tetap setia pada kekuatan diksi kosmik dan bentangan alam yang selama ini menjadi ciri khas kepenyairannya. Laut, senja, angin, dan langit menjelma tokoh-tokoh diam yang hidup di dalam puisi.
“Di Muka Samudra” bukan sekadar kumpulan sajak tentang laut. Ia adalah perjalanan batin seorang manusia ketika berhadapan dengan luasnya semesta dan kecilnya diri sendiri. Sebuah trilogi yang pelan-pelan menyeret pembaca tenggelam ke dalam ombak perenungan yang panjang. Berikut syair trilogi puisi Agusni AH:
DI MUKA SAMUDRA (I)
Di sini kita pernah menghadap muka Samudra Hindia
Pada satu senja yang menggigil pelan,
di antara desir angin dan aroma laut
yang jatuh dari bibir ombak membuncah ke dada kita...//(a.ah).
DI MUKA SAMUDRA (II)
Aku menghadap muka Samudra Hindia
Aku berdiri di laut gelombang asa
Di bawah cakrawala langit raya
Tepat di tempat di mana kita menancapkan
mimpi-mimpi kecil pada pasir yang basah
Angin membawa kembali tawa yang resah nan suara yang gelisah
Sementara ombak sibuk menghapus jejak-jejak
yang pernah kita percaya akan abadi
Kini senja jatuh perlahan di pelupuk laut sunyi
Aku masih memunguti kenangan yang tercerai di ujung sunyi
Burung-burung pulang melintasi ufuk Andaman,
sedang dadaku tetap tinggal di musim angan
Di hadapan samudra yang tak pernah selesai bergelora
Dan aku belajar pada kehilangan yang kini setia pada luka...//(a.ah).
DI MUKA SAMUDRA (III)
Rumah tanpa pintu
adalah laut berdinding angin,
di mana ombak mengetuk sunyi
dengan jemari buih yang dingin
Langit menggantungkan asa,
menyulam senja pada punggung cakrawala,
sementara camar-camar pulang
membawa aroma luka lama
Rumah tanpa pintu adalah laut cinta
Adalah jendela hati tanpa kunci
Tanpa pagar, tanpa halaman nan kenangan termangu di muka Samudra
Di hadapan lautan terbentang luas
Biduk berlayar di ombang badai menghempas
Rumah tanpa pintu adalah laut rindu, yang menjaga segala kenangan bisu agar tak hanyut ke muara lupa...//(a.ah).



























Discussion
Bagikan pemikiran dan pendapat Anda