Breaking News
Memuat breaking news...

TRILOGI RINDU PUISI AGUSNI AH

Redaksi
Redaksi
Rabu, 24 Juni 2026 - 3.16 PM WIB
TRILOGI RINDU PUISI AGUSNI AH
Eksklusif di WhatsApp
Dapatkan berita terkini langsung di layar HP Anda
Waspada+ Gabung
Reading Comfort
adjust the font size

PENGANTAR REDAKSI:

TRILOGI puisi karya Agusni AH yang berjudul "Ayah, Inyak Anakmu Rindu, Kukuh Rindu, dan Rindu Tak Pernah Usai", menghadirkan suara batin seorang anak yang mengalamatkan kerinduannya kepada sang ayah yang telah berpulang. Ketiga puisi ini bertaut dalam satu benang emosi yang sama tentang kehilangan, kenangan, dan cinta yang tetap hidup meski dipisahkan oleh kematian.

Melalui larik-larik yang sederhana namun menyentuh, penyair menuturkan bagaimana waktu ternyata tidak selalu mampu menghapus jejak kehadiran seseorang yang sangat dicintai. Sosok ayah hadir bukan lagi dalam wujud fisik, melainkan dalam ingatan, doa, dan kerinduan yang terus bersemayam di relung hati anaknya.

Pada puisi-puisi ini, pembaca akan menemukan pergulatan batin antara keikhlasan dan rasa kehilangan. Ada usaha menerima takdir, namun pada saat yang sama tersimpan rindu yang kukuh, tak lekang oleh perjalanan waktu. Bahkan ketika peristiwa tragis (tsunami Aceh) menjadi bagian dari kisah perpisahan, cinta seorang anak kepada ayahnya tetap menjelma doa yang tak pernah putus.

Trilogi ini bukan sekadar ungkapan duka, melainkan juga penghormatan kepada seorang ayah yang telah meninggalkan jejak kehidupan yang mendalam. Sebuah kesaksian bahwa kasih sayang tidak berakhir di liang kubur, melainkan terus hidup dalam kenangan dan doa anak yang ditinggalkan. Berikut ini dapat pembaca simak dendangan rasa karta Agusni AH:

AYAH, INYAK RINDU

(Pro: Muhammad Ali)

Ayah, anakmu telah lama tersuruk rindu

Dalam waktu-waktu yang patah

Inyak terkurung

Dalam sunyi tak bertepi

Dalam masa-masa yang penuh sepi

Sejak ayah melangkah ke ufuk yang tak lagi dapat kugapai

Hingga pecah cahaya-cahaya terburai

Seperti lorong panjang tanpa ruang

Yang hanya berisi gema namamu di dada mengerang

Di setiap senja yang perlahan memudar

Aku mencari jejak langkahmu pada jalan-jalan kenangan

Pada suara angin yang menyapa rumah tua yang kini kian lengang

Pada langit yang diam memandangi bumi yang renta

Namun tak kutemukan selain bayang jauh di mata

Ayah,

Ada begitu banyak serenada doa

Nun jauh dari alam fana

Ingin kusampaikan

Tentang hidup yang terus berputar

Tentang lara lirih yang memusar

Tentang luka yang datang silih berganti

Tentang harapan yang kadang tumbuh, kadang gugur

Di musim gugur kulebur

Inyak masih mengingat tanganmu dahulu menyeka kokoh, menggenggam masa depan anak-anakmu

Masih mengingat petuah-petuahmu

Yang kini terasa begitu berharga melebihi permata

Setelah waktu mengajarkan arti kehilangan cinta nyata

Ayah, inyak rindu

Rindu yang tak dapat ditimbang oleh waktu

Rindu yang tak dapat dihapus oleh jarak

Rindu yang menetap di ruang kalbu

Ayah, inyak hanya bisa menangkup dua telapak tangan menengadah Sebagai doa yang tak pernah putus menuju langit-Nya

Inyak sampaikan,

bahwa anakmu sedang belajar tegar

Meniti hidup dengan bekal yang pernah ayah tinggalkan

Dalam setiap sujud, namamu kusebut-sebut

Dalam setiap doa, kusematkan lekat-lekat

Dan dalam setiap detak rindu yang tak kunjung reda...//(a.ah).

Catatan:

Inyak (Aceh): anak bungsu.

KUKUH RINDU

Ayah, malam ini namamu kembali mengetuk sunyi

Pada dinding ingatanku yang tak pernah sepi

Kucari jejak langkahmu di antara lorong waktu yang tak pernah usai

Kendati telah begitu jauh berlalu

Namun yang kutemukan selalu gema suara di relung kalbu

Ayah, betapa lama anakmu menanggung rindu

Seperti musafir kehausan di sahara panjang

Aku menanti setetes embun di padang gersang

Ingin sekali kusandarkan kepala ini di bahumu yang tegar Serara mendengar petuahmu yang menenangkan

Engkau pun kukuhkan, melatih--tatih langkah hidupku...//(a.ah).

RINDU TAK PERNAH USAI

Ayah, engkau pergi di tengah gemuruh tsunami

Saat laut mengamuk dan langit seakan runtuh

Tak ada pelukan perpisahan,

tak ada pesan terakhir yang sempat kautinggalkan

Hanya ombak dan takdir

yang membawamu menjauh dari pandangan

Ayah,

kepergianmu telah kuikhlaskan

Kupahami bahwa hidup dan mati

adalah rahasia Ilahi yang tak pernah kupungkiri

Kuterima takdir itu dengan sepenuh hati

Meski berkali-kali patah asa di dada ini

Atas kenyataan yang tak pernah kupinta

Namun sepanjang waktu aku tak juga mampu melepaskannya Meleraikan rinduku tak kuasa

Setiap kenangan tentangmu selalu datang mengetuk pintu ingatanku

Ayah, suaramu masih terdengar jelas

Di sela sunyi yang panjang membuat jiwaku basah

Ayah,

rindu ini seperti ombak yang tak lelah kembali menepi

Ia datang pada malam-malam sepi,

menyapu pantai hatiku melebihi rundungan elegi

Ayah,

barangkali rindu memang tak harus usai

Ia hidup sebagai tanda cinta

yang tak pernah mati

Maka biarlah namamu berhampar di sajadah suci

Di setiap sujud dan doa, hingga kelak waktu mempertemukan kita kembali

Sebab hingga hari ini,

setelah sekian musim berlalu

Aku masih anakmu

yang berdiri di tepi kenangan,

memandang laut yang pernah membawamu pergi

Nun jauh di sini kuberbisik lirih:

Ayah, rinduku tak pernah usai...//(a.ah).

Ikuti WASPADA di Google Berita
Dapatkan berita terbaru langsung dari Google News.
Ikuti
Topik

Discussion

Bagikan pemikiran dan pendapat Anda

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.
Berita Terkait
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement