TRILOGI RINDU PUISI AGUSNI AH

PENGANTAR REDAKSI:
TRILOGI puisi karya Agusni AH yang berjudul "Ayah, Inyak Anakmu Rindu, Kukuh Rindu, dan Rindu Tak Pernah Usai", menghadirkan suara batin seorang anak yang mengalamatkan kerinduannya kepada sang ayah yang telah berpulang. Ketiga puisi ini bertaut dalam satu benang emosi yang sama tentang kehilangan, kenangan, dan cinta yang tetap hidup meski dipisahkan oleh kematian.
Melalui larik-larik yang sederhana namun menyentuh, penyair menuturkan bagaimana waktu ternyata tidak selalu mampu menghapus jejak kehadiran seseorang yang sangat dicintai. Sosok ayah hadir bukan lagi dalam wujud fisik, melainkan dalam ingatan, doa, dan kerinduan yang terus bersemayam di relung hati anaknya.
Pada puisi-puisi ini, pembaca akan menemukan pergulatan batin antara keikhlasan dan rasa kehilangan. Ada usaha menerima takdir, namun pada saat yang sama tersimpan rindu yang kukuh, tak lekang oleh perjalanan waktu. Bahkan ketika peristiwa tragis (tsunami Aceh) menjadi bagian dari kisah perpisahan, cinta seorang anak kepada ayahnya tetap menjelma doa yang tak pernah putus.
Trilogi ini bukan sekadar ungkapan duka, melainkan juga penghormatan kepada seorang ayah yang telah meninggalkan jejak kehidupan yang mendalam. Sebuah kesaksian bahwa kasih sayang tidak berakhir di liang kubur, melainkan terus hidup dalam kenangan dan doa anak yang ditinggalkan. Berikut ini dapat pembaca simak dendangan rasa karta Agusni AH:
AYAH, INYAK RINDU
(Pro: Muhammad Ali)
Ayah, anakmu telah lama tersuruk rindu
Dalam waktu-waktu yang patah
Inyak terkurung
Dalam sunyi tak bertepi
Dalam masa-masa yang penuh sepi
Sejak ayah melangkah ke ufuk yang tak lagi dapat kugapai
Hingga pecah cahaya-cahaya terburai
Seperti lorong panjang tanpa ruang
Yang hanya berisi gema namamu di dada mengerang
Di setiap senja yang perlahan memudar
Aku mencari jejak langkahmu pada jalan-jalan kenangan
Pada suara angin yang menyapa rumah tua yang kini kian lengang
Pada langit yang diam memandangi bumi yang renta
Namun tak kutemukan selain bayang jauh di mata
Ayah,
Ada begitu banyak serenada doa
Nun jauh dari alam fana
Ingin kusampaikan
Tentang hidup yang terus berputar
Tentang lara lirih yang memusar
Tentang luka yang datang silih berganti
Tentang harapan yang kadang tumbuh, kadang gugur
Di musim gugur kulebur
Inyak masih mengingat tanganmu dahulu menyeka kokoh, menggenggam masa depan anak-anakmu
Masih mengingat petuah-petuahmu
Yang kini terasa begitu berharga melebihi permata
Setelah waktu mengajarkan arti kehilangan cinta nyata
Ayah, inyak rindu
Rindu yang tak dapat ditimbang oleh waktu
Rindu yang tak dapat dihapus oleh jarak
Rindu yang menetap di ruang kalbu
Ayah, inyak hanya bisa menangkup dua telapak tangan menengadah Sebagai doa yang tak pernah putus menuju langit-Nya
Inyak sampaikan,
bahwa anakmu sedang belajar tegar
Meniti hidup dengan bekal yang pernah ayah tinggalkan
Dalam setiap sujud, namamu kusebut-sebut
Dalam setiap doa, kusematkan lekat-lekat
Dan dalam setiap detak rindu yang tak kunjung reda...//(a.ah).
Catatan:
Inyak (Aceh): anak bungsu.
KUKUH RINDU
Ayah, malam ini namamu kembali mengetuk sunyi
Pada dinding ingatanku yang tak pernah sepi
Kucari jejak langkahmu di antara lorong waktu yang tak pernah usai
Kendati telah begitu jauh berlalu
Namun yang kutemukan selalu gema suara di relung kalbu
Ayah, betapa lama anakmu menanggung rindu
Seperti musafir kehausan di sahara panjang
Aku menanti setetes embun di padang gersang
Ingin sekali kusandarkan kepala ini di bahumu yang tegar Serara mendengar petuahmu yang menenangkan
Engkau pun kukuhkan, melatih--tatih langkah hidupku...//(a.ah).
RINDU TAK PERNAH USAI
Ayah, engkau pergi di tengah gemuruh tsunami
Saat laut mengamuk dan langit seakan runtuh
Tak ada pelukan perpisahan,
tak ada pesan terakhir yang sempat kautinggalkan
Hanya ombak dan takdir
yang membawamu menjauh dari pandangan
Ayah,
kepergianmu telah kuikhlaskan
Kupahami bahwa hidup dan mati
adalah rahasia Ilahi yang tak pernah kupungkiri
Kuterima takdir itu dengan sepenuh hati
Meski berkali-kali patah asa di dada ini
Atas kenyataan yang tak pernah kupinta
Namun sepanjang waktu aku tak juga mampu melepaskannya Meleraikan rinduku tak kuasa
Setiap kenangan tentangmu selalu datang mengetuk pintu ingatanku
Ayah, suaramu masih terdengar jelas
Di sela sunyi yang panjang membuat jiwaku basah
Ayah,
rindu ini seperti ombak yang tak lelah kembali menepi
Ia datang pada malam-malam sepi,
menyapu pantai hatiku melebihi rundungan elegi
Ayah,
barangkali rindu memang tak harus usai
Ia hidup sebagai tanda cinta
yang tak pernah mati
Maka biarlah namamu berhampar di sajadah suci
Di setiap sujud dan doa, hingga kelak waktu mempertemukan kita kembali
Sebab hingga hari ini,
setelah sekian musim berlalu
Aku masih anakmu
yang berdiri di tepi kenangan,
memandang laut yang pernah membawamu pergi
Nun jauh di sini kuberbisik lirih:
Ayah, rinduku tak pernah usai...//(a.ah).



























Discussion
Bagikan pemikiran dan pendapat Anda