Breaking News
Memuat breaking news...

UNIMED Dorong Ekonomi Masyarakat Pangkalan Batu Lewat Pembesaran Kepiting dengan Pagar Bambu

Redaksi
Redaksi
Rabu, 9 September 2026 - 12.12 PM WIB
UNIMED Dorong Ekonomi Masyarakat Pangkalan Batu Lewat Pembesaran Kepiting dengan Pagar Bambu
Tim Pengabdian Unimed melalui Program Kemitraan Masyarakat (PKM) dampingi masyarakat Desa Pangkalan Batu Kabupaten Langkat, dalam pembesaran kepiting bakau (Scylla spp.). Waspada.id/ist
Eksklusif di WhatsApp
Dapatkan berita terkini langsung di layar HP Anda
Waspada+ Gabung
Reading Comfort
adjust the font size
Advertisement

LANGKAT (Waspada.id): Tim Pengabdian Universitas Negeri Medan (Unimed) melalui Program Kemitraan Masyarakat (PKM) dampingi masyarakat Desa Pangkalan Batu Kabupaten Langkat, dari Mei hingga September 2026, dalam pembesaran kepiting bakau (Scylla spp.) berbasis ekosistem mangrove dengan sistem pagar bambu.

Kegiatan dilaksanakan oleh Tim pengabdian yang diketuai oleh Dr. Meilinda Suriani Harefa, M.Si. dan anggotanya M. Taufik Rahmadi, S.Pd., M.Sc., Armin Rahmansyah Nasution, S.E., M.Si., Elsa Kardiana, B.Sc. (Hons)., M.Sc., dan Darliandri, S.Si., M.E.S.M.

Dijelaskan De Meilinda, pelaksanaan kegiatan tersebut sebagai upaya meningkatkan ketahanan pangan dan kemandirian ekonomi masyarakat pesisir melalui penerapan teknologi budidaya yang sederhana, berbiaya rendah, sertaramah lingkungan. Model pembesaran kepiting bakau dengan sistem pagar bambu dipilih karena memanfaatkan bahan lokal dan dapat diterapkan tanpa membutuhkan pembangunan tambak konvensional.

“Selama ini nelayan yang mencari kepiting hanya mengambilukuran yang sudah besar saja, sementara yang masih kecildilepaskan kembali ke alam. Dengan sistem ini kitamemanfaatkan kepiting yang belum layak jual untuk dibesarkandan meningkatkan ekonomi, tanpa modal tapi mendapatkankeuntungan” ujar Meilinda kepada Waspada, Rabu (9/9).

Dalam pelaksanaannya, Tim Pengabdian memberikan sosialisasi, pelatihan teknis, serta pendampingan kepada kelompok masyarakat mulai dari tahap pembuatan keramba, pemilihan dan pemasukan bibit, pemeliharaan, hingga monitoring pertumbuhan kepiting.

Bersama dengan kelompok masyarakat, Tim Pengabdian membangun tiga unit keramba bambu berukuran 3×3 meter. Masing-masing keramba menampung sekitar 80-90 ekor kepiting berukuran kisaran 50 gram (CH) yang membutuhkan waktupembesaran sekitar 3 bulan hingga mencapai bobot 300 gram untuk ukuran layak jual (panen).

"Monitoring rutin setiap Minggu juga dilakukan untuk memantau pertumbuhan kepiting, tingkat kelangsungan hidup, kondisi keramba, serta kualitas lingkungan perairan. Kegiatan ini sekaligus menjadi bentuk pendampinganagar masyarakat mampu menerapkan teknik pembesaran kepiting secara mandiri dan berkelanjutan," jelasnya.

Dikatakan Meilinda, konsep ini diharapkan mampu menjadi alternatif dan solusi bagi masyarakat untuk tetap memperoleh manfaat ekonomi dari sumber daya alam tanpa merusak keberlanjutan ekosistem.

Melihat semakin banyaknya pembangunan tambak konvensional yang tidak ramah lingkungan yang menyebabkan kerusakan kawasan mangrove, menurunkan kualitas lingkungan pesisir, serta mengancam keberadaan habitat alami kepiting bakau yang pada akhirnya dapat berdampak pada penurunan hasil tangkapan masyarakat.

Ia menambahkan, Tim Pengabdian berharap model pembesaran kepiting bakaudengan sistem pagar bambu dapat terus dikembangkan dan diterapkan secara mandiri oleh masyarakat, serta menjadi contoh pengelolaan sumber daya pesisir yang ramah lingkungan dan berkelanjutan. (wsp.id)

Ikuti WASPADA di Google Berita
Dapatkan berita terbaru langsung dari Google News.
Ikuti
Topik

Discussion

Bagikan pemikiran dan pendapat Anda

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.
Berita Terkait
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement