Breaking News
Memuat breaking news...

Ustadz Rafdinal: Ada Tiga Pandangan Yang Membuat Umat Islam Sulit Bersatu

Redaksi
Redaksi
Minggu, 26 Februari 2023 - 3.50 PM WIB
Ustadz Rafdinal: Ada Tiga Pandangan Yang Membuat Umat Islam Sulit Bersatu
Eksklusif di WhatsApp
Dapatkan berita terkini langsung di layar HP Anda
Waspada+ Gabung
Reading Comfort
adjust the font size

MEDAN (Waspada): Ustadz Rafdinal SSos, MAP menyebutkan, ada tiga pandangan dalam pandangan umat Islam berkaitan hubungan antara agama dengan politik (kekuasaan atau pemerintahan) sehingga umat Islam sulit bersatu dalam konsep pandangan politik.

"Ketiga pandangan itu, yang pertama Agama Islam dan politik itu sesuatu yang menyatu, tidak bisa dipisahkan Agama Islam punya konsep politik, bentuk dan sistem pemerintahan yaitu khilafah dan imamah. Dalam pandangan ini kepala pemerintaha sekaligus sebagai imam," ujar Ustadz Rafdinal, bakal calon DPD RI dari Dapil Sumut saat menyampaikan materinya pada Diskusi Keumatan bertajuk Quo Vadis Politik Islam? yang digelar oleh Komunitas Literasi Umat Islam Rahmat Semesta (KoLU IRSA) Ahad (26/2) di salah satu cafe di Jl. Denai Medan.

Selain Ustadz Rafdinal, pemateri lainnya ada juga Wasis Waseso Pamungkas SPt dari DPW PKS Sumut dan Ustadz Mukhlis Syam mewakili DR Masri Sitanggang, pembanding Ustadz Azwir Ibnu Azis yang berhalangan hadir dan dihadiri oleh sejumlah kalangan aktivis Ormas Islam dan komunitas Islam Kota Medan.

Buya Rafdinal menambahkan, pada pandangan kedua, agama dan politik sesuatu yang terpisah tidak menyatu, dalam Islam tidak ada konsep politik dan bentuk pemerintahan, kepala pemerintahan tidak otomatis menjadi imam.

Sedangkan pandangan ketiga, agama dam politik sesuatu yang terpisah sama sekali (sekuler) agama urusan akhirat, politik urusan dunia, agama ya agama, politik ya politik.

"Ketiga pandangan inilah yang menjadi faktor penyebab kenapa Umat Islam sulit bersatu dalam satu pandangan dan konsep politi/partai politik," sebut Rafdinal.

Rafdinal yang mencalonkan diri sebagai bakal calon DPD RI pada Pemilu 2024 ini juga menyebutkan, ketiga pandangan itu punya argumentasi atau dalil yang dijadikan hujjah oleh masing masing penganutnya.

"Walau dari tiga pandangan tersebut para ulama baik zaman klasik maupun abad moderen jumhur lebih banyak pada pandangan pertama dan pandangan kedua sedangkan pandangan ke tiga sekuler para ulama yang mendukungnya adalah ulama yang cenderung corak berfikirnya di pengaruhi pemikiran barat yang sekuler," pungkas Rafdinal, yang juga Wakil Ketua PD Muhammadiyah Kota Medan ini.

Kekuasaan

Pemateri lainnya Wasis Waseso mengatakan, bahwa kita memerlukan kekuasaan yang baik karena tanpa kekuasaan akan sulit untuk menyampaikan dakwah.

"Tanpa ada kekuasaan kita sulit untuk menyampaikan dakwah dan kekuasaan adalah mutlak dalam politik Islam. Bahkan dengan kekuasaan akan menjadi lebih besar," ujar Wasis yang menjabat sebagai Ketua Bidang Pemenangan Pemilu DPW PKS Sumut ini.

Dijelaskan Wasis, terkait misi PKS dalam periode 2020-2025 yang menjadi partai Islam rahmatan lil alamin yang kokoh dan terdepan dalam melayani rakyat serta semangat berkolaborasi dan berdiskusi dengan masyarakat, apalagi saat ini untuk masuk ke PKS sangat mudah.

Sementata itu, Sekretaris Eksekutif KoLU IRSA Baun Soripada Siregar menyebutkan dari diskusi keumatan tersebut diambil kesimpulan bahwa di tengah kontroversi penolakan terhadap politik identitas, politisi-politisi Islam diharapkan tetap mengusung gagasan politik Islam dalam kontestasi Pemilu 2024 nanti.

"Politik Islam (as siyasah asy-syar'iyyah) merupakan instrumen utama bagi pencapaian kemaslahatan umat berdasarkan syariat Islam," ujar Baun Siregar.

Kesimpulan lainnya, tambah Baun, bahwa pemisahan agama dari urusan politik merupakan kemunduran bagi umat Islam di Indonesia.

Merupakan antitesa kebangkitan Islam yang berangkat dari kesadaran umat untuk melek politik dan selanjutnya ikut serta aktif berpolitik.
Sedangkan Direktur Eksekutif KoLU IRSA Pujakesuma Lubis menambahkan bahwa diskusi keumatan ini merupakan sesi kedua dari Diskusi Keumatan yang diselenggarakan pada bulan lalu.

"KoLU IRSA akan terus menyelenggarakan diskusi setiap bulannya untuk mencari irisan antara agenda-agenda politik politisi Islam dan selanjutnya mengusung sebagai agenda keumatan. KoLU IRSA akan mengundang tokoh-tokoh politik Islam secara bergilir sebagai narasumber di hadapan para aktivis dan penggiat agenda keumatan di Kota Medan," tutup Pujakesuma Lubis.(m27)

Waspada/Andi Aria Tirtayasa

Ustadz Rafdinal SSos, MAP saat menyampaikan materinya pada diskusi keumatan bertajuk Quo Vadis Politik Islam? yang digelar KoLU IRSA di Medan, Minggu (26/2).

Ikuti WASPADA di Google Berita
Dapatkan berita terbaru langsung dari Google News.
Ikuti
Topik
No topics for this article yet.

Discussion

Bagikan pemikiran dan pendapat Anda

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.
Berita Terkait
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement