UT Gelar ICoMUS 2026, 11 Perguruan Tinggi Kolaborasi Jawab Tantangan Global


TANGERANG SELATAN (Waspada.id): Perubahan iklim, kesenjangan pendidikan, hingga perkembangan kecerdasan buatan (AI) menjadi tantangan global yang membutuhkan solusi lintas disiplin ilmu. Untuk mendorong lahirnya inovasi yang menjawab persoalan tersebut, Universitas Terbuka (UT) mempertemukan akademisi dari 11 institusi dalam The 5th International Conference on Multidisciplinary Academic Studies (ICoMUS) 2026, Kamis (22/10/2026).
Konferensi yang digelar secara hibrida di Universitas Terbuka Convention Center (UTCC) ini mengusung tema “Smart Innovations for Sustainable Development: Integrating Science, Social, Economic, and Future Education Perspectives”.
Kegiatan dibuka Wakil Rektor Bidang Riset, Kerja Sama, dan Bisnis Universitas Terbuka, Dr. Hendrian, S.E., M.Si.
Dalam pidato pembukaannya, Hendrian mengatakan ICoMUS menjadi ruang pertukaran gagasan lintas keilmuan untuk mendorong inovasi yang relevan dengan agenda pembangunan berkelanjutan.
“Melalui ICoMUS 2026, UT mendorong penguatan jejaring akademik dan perluasan kolaborasi riset. Upaya ini sejalan dengan agenda pembangunan berkelanjutan menuju 2030, sekaligus memperkuat peran perguruan tinggi dalam mengembangkan ilmu pengetahuan dan inovasi yang berkontribusi terhadap pembangunan berkelanjutan,” ujarnya.
ICoMUS 2026 diselenggarakan Pusat Penelitian Keilmuan pada Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) UT dengan semangat “Empowering Multidisciplinary Solutions for Global Challenges”. Forum ini mendorong kolaborasi berbagai disiplin ilmu untuk menghasilkan pendekatan yang lebih menyeluruh dalam menjawab tantangan pembangunan.
Sebanyak 11 institusi terlibat dalam konferensi ini, yakni Universitas Indonesia, Universitas Diponegoro, Universitas Pendidikan Indonesia, UIN Sunan Gunung Djati Bandung, Universitas Sriwijaya, Universitas Negeri Makassar, Institut Seni Indonesia Yogyakarta, Universitas Logistik dan Bisnis Internasional, STMIK Widya Utama Purwokerto, Universitas KH. A. Wahab Hasbullah, serta Universitas Terbuka.
Kepala Pusat Penelitian Keilmuan LPPM UT, Prof. Dr. Mery Noviyanti, mengatakan keberagaman latar belakang keilmuan dan institusi peserta memperkaya perspektif akademik sekaligus membuka peluang kolaborasi penelitian.
Menurutnya, pendekatan multidisiplin penting karena persoalan pembangunan umumnya melibatkan berbagai aspek yang saling berkaitan. Pelestarian lingkungan, misalnya, tidak cukup hanya mengandalkan sains dan teknologi, tetapi juga membutuhkan pemahaman mengenai perilaku masyarakat dan kebijakan publik.
"Demikian pula transformasi digital di bidang pendidikan yang harus disertai perhatian terhadap akses dan inklusivitas," ujarnya.
Perspektif dari berbagai disiplin ilmu, kata Mery, dapat membantu mengkaji persoalan secara lebih menyeluruh sehingga solusi yang dihasilkan lebih sesuai dengan kebutuhan masyarakat.
Perspektif lintas keilmuan tersebut diperkuat melalui kehadiran sejumlah pakar dari dalam dan luar negeri. Direktur Jenderal Riset dan Pengembangan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Mohammad Fauzan Adziman, S.T., M.Eng., Ph.D., hadir sebagai pembicara utama (keynote speaker).
Sementara itu, sesi pleno menghadirkan Dr. Jane Thomason dari University College London, Inggris; Professor Tamas Kiss dari Sunway University, Malaysia; serta Professor Maximus Gorky Sembiring dari Universitas Terbuka.
Ketua Acara ICoMUS 2026, Dr. Erman Arif, S.Kom., MMSI., menjelaskan konferensi tahun ini mencakup empat fokus kajian utama yang dirancang untuk mewadahi beragam penelitian dan gagasan inovatif.
Pertama, Smart Innovation in Applied Science and Environmental Conservation, yang mencakup sains terapan, teknologi digital, dan pelestarian lingkungan. Kedua, Smart Education and Future Learning, yang membahas pedagogi digital, kurikulum fleksibel, serta pembelajaran inklusif.
Ketiga, Smart Economy and Sustainable Business, yang meliputi manajemen, akuntansi, ekonomi hijau, dan kewirausahaan berkelanjutan. Keempat, Smart Governance and Social Transformation, yang menyoroti kebijakan publik, hukum, komunikasi sosial, etika, dan perubahan budaya.
"Keempat fokus tersebut menjadi wadah bagi peserta untuk mempresentasikan hasil penelitian sekaligus memperoleh masukan dari akademisi dengan latar belakang keilmuan berbeda," kata Erman.
Melalui pertukaran gagasan dan kolaborasi tersebut, ICoMUS 2026 diharapkan memperluas jejaring riset antarperguruan tinggi serta mendorong pengembangan pengetahuan dan inovasi yang dapat diterapkan untuk menjawab tantangan pembangunan berkelanjutan.(id11)
Berita Terkait















































Discussion
Bagikan pemikiran dan pendapat Anda